Assunnah.ID

Media beramal jariyah dengan dakwah sunnah

Hukum Menundukkan Badan Saat Lewat di Depan Orang Lain (yang Lebih Tua)

Posted on

Di Indonesia, sudah menjadi tradisi kalau kita lewat dari depan orang lain, terutama jika orang yang kita lewati itu lebih tua dari kita, maka kita harus menundukkan badan sambil menjulurkan tangan ke bawah. Bagaimana pandangan islam, terutama hukumnya mengenai tradisi ini?

Perlu di tekankan sebelumnya, apa yang saya informasikan disini adalah hukum Islam yang murni, yaitu hukum Islam tanpa ada tercampur sedikitpun dengan tradisi, budaya atau adat istiadat. Jadi artinya, saya akan bicara dengan ilmu dan iman. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala ridho dengan postingan ini dan menjadi amal jariyah bagi saya.

Dalam menentukan hukumnya, saya akan membaginya ke dalam beberapa tahapan, yaitu:

Pertama:
Manakah yang harus kita prioritaskan antara agama dengan tradisi? Seorang muslim yang baik tentu saja akan memprioritaskan agama. Karena jika tradisi ditinggalkan, nenek moyang kita tak akan bisa marah atau menghukum kita (la wong dah mati kok). Sementara jika syariat agama di tinggalkan maka Allah subhanahu wa ta’ala bisa marah kepada kita.

Kedua:
Jadi, menundukkan badan itu tradisi atau syariat agama? Tradisi! karena tidak ada perintah agama untuk menundukkan badan saat lewat di depan orang.

Ketiga:
Kalau saya memprioritaskan agama. Saat ada tradisi yang melanggar syariat agama, maka sudah seharusnya saya meninggalkan tradisi itu. Seperti misalnya minum tuak itu adalah tradisi, tapi melanggar syariat Islam maka saya tinggalkan. Tradisi baju kebaya yang tembus pandang melanggar syariat agama maka saya tinggalkan.

Keempat:
Jadi, tradisi menundukkan badan saat lewat itu melanggar syariat agama atau tidak? Melanggar! karena manusia manapun di larang tunduk (apalagi sujud) kepada selain Allah. Berikut ini dalilnya:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِى بَعْضُنَا لِبَعْضٍ قَالَ « لاَ ». قُلْنَا أَيُعَانِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا قَالَ لاَ وَلَكِنْ تَصَافَحُوا

Artinya: Dari Anas bin Malik, kami bertanya kepada Nabi: “Wahai Rasulullah, apakah sebagian kami boleh membungkukkan badan kepada orang yang dia temui?” Rasulullah bersabda: “Tidak boleh!”Kami bertanya lagi, “Apakah kami boleh berpelukan jika saling bertemu?” Nabi bersabda: “Tidak boleh. Yang benar hendaknya kalian saling berjabat tangan.” (HR Ibnu Majah no 3702 dan dinilai hasan oleh al Albani).

Dalil diatas khusus dalam membungkukkan badan, sementara hukum secara umum yaitu bersujud kepada selain Allah Subhanahu wa ta’ala bisa menggunakan dalil-dalil dibawah, yang mengharamkannya:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ، لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Seandainya aku boleh menyuruh seorang manusia untuk bersujud kepada manusia lainnya, niscaya akan aku suruh seorang wanita untuk bersujud kepada suaminya” [HR. Tirmidzi]

Islam Menggantikan Tradisi ini dengan Cara yang Lebih Mulia

Sebagai gantinya, ada ungkapan/ucapan yang lebih mulia dalam syariat islam yang bisa disampaikan untuk menggantikan “tradisi tunduk” ini. Apakah itu? Yaitu ucapan salam.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Artinya: “Semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahannya terlimpah padamu / kalian.

Sungguh ucapan salam diatas jauh lebih mulia di mata Allah dan di mata orang lain apabila di ucapkan, dibandingkan dengan menundukkan kepala.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Leave a Reply

Your email address will not be published.*
*
*