Assunnah.ID

Media beramal jariyah dengan dakwah sunnah

Membantah Syubhat Bertawasul (Berdoa & Meminta) Kepada Kubur Nabi & Wali

Posted on

Ada seseorang yang datang kepada saya. Ia begitu bangga dengan ilmu yang dikuasainya, dengan banyaknya kitab yang dimilikinya, lalu memfitnah Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab. Sejujurnya, saya tidak tau banyak tentang tokoh bernama Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab, namun beberapa yang saya tahu adalah banyak orang menamai para ulama dan orang-orang bermanhaj Salaf dengan sebutan “Wahabi” karena tokoh ini. Bahkan Arab Saudi mendapatkan cap “Negara Wahabi” justru karena tokoh ini.

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab adalah tokoh pahlawan di negara Arab Saudi. Bisa dibilang ia adalah Soekarno-nya Arab Saudi. Karena beliau inilah yang mempersatukan tanah arab dari berbagai suku yang saling bertikai, ke dalam satu negara bernama Arab Saudi, yang didalamnya juga termasuk daerah dimana nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam lahir, hijrah, menyebarkan Islam dan meninggal, yaitu Mekah dan Madinah.

Pada intinya, siapapun sosok bernama Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab itu, tidaklah pantas bagi kita seorang muslim mencela, memfitnah, dan menjelek-jelekkan orang lain, bahkan meski seburuk apapun orang itu. Jika kita bertemu orang yang lebih tua dari kita, apalagi orang yang sudah mendahului kita, sudah selayaknya kita berfikir bahwa “ia lebih tua dari kita, maka amal sholeh dan pahalanya pasti lebih banyak dari kita”. Sementara jika kita bertemu orang yang lebih muda dari kita, maka sebaiknya kita berfikir “ia lebih muda dari saya, maka dosanya pasti lebih sedikit dari saya”.

Kembali ke topik pembahasan. Ia (orang yang mendatangi saya ini) berkata bahwa Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab membuat sebuah kitab berjudul “Kasyfu Syubhat” yang didalamnya menuliskan bahwa telah halal darah seorang yang melakukan dosa kesyirikan. Sejujurnya, saya juga baru mendengar kitab itu saat itu. Karena saya sedang sibuk memperdalam iman saya dengan dua kitab suci utama dalam Islam yaitu Al-quran dan Hadits, tidak etis rasanya jika saya menambah PR dengan kitab-kitab lain, sementara dua kitab utama Islam saya belum mampu mengamalkannya secara sempurna.

Namun karena mendengar pernyataan itu saya mau tak mau jadi harus membaca kitab “Kasyful Syubhat” karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab. Tentu saja, saya membaca dokumen terjemahannya yang bisa saya temukan di internet. Namun keterbatasan ilmu saya dalam berbahasa Arab membuat saya di cela. “masak ga bsia baca Bahasa arab..kok menyatakan bidah ke kelompk lain??? baca lagi tulisan duyl Wahab….yang GA pernah salah itu”, katanya.

Maka saya membalasnya “Saya gak bilang gak bisa baca bahasa arab, tapi tak mengerti arti Bahasa Arab. Jika saya tak mengerti arti bahasa arab, apakah salah jika saya membaca terjemahannya? Kalau begitu, apakah kamu mau menyalahkan semua orang Indonesia yang memahami al-quran dari membaca terjemahannya? Dan tahukah kamu bahwa nabimu, nabiku, nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang nabi yang tidak bisa baca & tulis (Nabiyul Ummi)? Dan beranikah kamu menertawakan nabiku dan nabimu yang tak bisa membaca dan menulis?”. 

“Apakah kamu sudah merasa paling pintar karena menguasai bahasa arab? Sesungguhnya “rabb-ku” yg maha mengetahui lebih pintar darimu”, tambah saya.

Dalam diskusi itu, ia menekankan bahwa “halal” hukumnya bertawassul atau meminta / berdo’a kepada orang-orang alim yang sudah mati, termasuk para nabi, malaikat dan para wali. Sementara Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab dalam kitabnya “Kasyful Syubhat” berkata, telah halal harta dan darahnya orang-orang musyrik yang melakukan kesyirikan.

Dalam menguatkan pemahamannya bahwa bertawasul kepada kuburan nabi / wali itu diperbolehkan dalam islam, ia merujuk pada dalil QS An-nisa: 64 dengan tafsir Ibnu Katsir:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا (٦٤) فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (٦٥

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah. Sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”

– QS An Nisa: 64

Tafsir Ibnu Katsir QS An nisa: 64

وَما أَرْسَلْنا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطاعَ

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati.”
Tafsirnya: “kaum yang diutus kepada mereka seorang rasul diwajibkan taat kepadanya.”

 

بِإِذْنِ اللَّهِ

Artinya: “dengan seizin Allah.”
Tafsirnya: “Menurut pendapat Mujahid, makna yang dimaksud ialah tiada seorang pun yang taat kepadanya kecuali dengan seizin-Ku. Dengan kata lain, tiada seorang pun yang taat kepada rasul kecuali orang yang telah Aku berikan kepadanya taufik untuk itu. Perihalnya sama dengan pengertian yang terkandung di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ

Artinya: “Dan sesungguhnya Allah lelah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya.”(Ali Imran: 152)
Tafsirnya: “Yakni atas perintah dari Allah dan berdasarkan takdir dan kehendak-Nya serta pemberian kekuasaan dari Allah kepada kalian untuk mengalahkan mereka.”

 

وَلَوْ أَنْهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ

Artinya: “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya.”
Tafsirnya: “Melalui firman-Nya ini Allah memberikan bimbingan kepada orang-orang durhaka yang berdosa, bila mereka terjerumus ke dalam kesalahan dan kemaksiatan, hendaknya mereka datang menghadap Rasul Saw., lalu memohon ampun kepada Allah di hadapannya dan meminta kepadanya agar mau memohonkan ampun kepada Allah buat mereka. Karena sesungguhnya jikalau mereka melakukan hal tersebut, niscaya Allah menerima tobat mereka, merahmati mereka, dan memberikan ampunan bagi mereka.” Karena itulah dalam firman berikutnya disebutkan:

لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

Artinya: tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.

Sampai sini, tafsir di atas seharusnya tidak ada masalah. Orang-orang yang menganiaya dirinya datang kepada rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Mereka memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, dan mereka juga meminta kepada nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam agar berdo’a kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar Allah berkenan mengampuni dosa mereka.

Tidak ada kesalahan dan kesesatan jika orang-orang memiliki pemahaman sesuai tafsir di atas. Dan tafsir di atas juga sesuai dengan tafsir Ibnu Katsir versi Inggris di situs ini. Yang jadi masalah adalah tafsir lanjutan dibawah ini, entah ini penambahan dari Ibnu Katsir sendiri, atau hanya di tambahkan oleh orang-orang yang “punya kepentingan” untuk menyesatkan orang lain. Tafsir lanjutan yang patut dipertanyakan adalah:


Sejumlah ulama —antara lain Syekh Abu Mansur As-Sabbag di dalam kitabnya Asy-Syamil— mengetengahkan kisah yang terkenal dari Al-Atabi yang menceritakan bahwa ketika ia sedang duduk di dekat kubur Nabi Saw., datanglah seorang Arab Badui, lalu ia mengucapkan, “Assalamu’alaika, ya Rasulullah (semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Rasulullah). Aku telah mendengar Allah berfirman: “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka menjumpai Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang” [An-Nisa: 64].”

“Sekarang aku datang kepadamu, memohon ampun bagi dosa-dosaku (kepada Allah) dan meminta syafaat kepadamu (agar engkau memohonkan ampunan bagiku) kepada Tuhanku.” Kemudian lelaki Badui tersebut mengucapkan syair berikut , yaitu:

يَا خَيْرَ مَنْ دُفِنَتْ بِالْقَاعِ أَعْظُمُهُ … فَطَابَ مِنْ طِيبِهِنَّ الْقَاعُ وَالْأَكَمُ
نَفْسِي الْفِدَاءُ لِقَبْرٍ أَنْتَ سَاكِنُهُ … فِيهِ الْعَفَافُ وَفِيهِ الْجُودُ وَالْكَرَمُ

Artinya: “Hai sebaik-baik orang yang dikebumikan di lembah ini lagi paling agung, maka menjadi harumlah dari pancaran keharumannya semua lembah dan pegunungan ini. Diriku sebagai tebusan kubur yang engkau menjadi penghuninya; di dalamnya terdapat kehormatan, kedermawanan, dan kemuliaan.”

Kemudian lelaki Badui itu pergi, dan dengan serta-merta mataku terasa mengantuk sekali hingga tertidur. Dalam tidurku itu aku bermimpi bersua dengan Nabi Saw., lalu beliau Saw. bersabda,

يَا عُتْبى، الحقْ الْأَعْرَابِيَّ فَبَشِّرْهُ أَنَّ اللَّهَ قَدْ غَفَرَ له

Artinya: “Hai Atabi, susullah orang Badui itu dan sampaikanlah berita gembira kepadanya bahwa Allah telah memberikan ampunan kepadanya!”


Ada keanehan dalam tafsir  lanjutan yang saya sebutkan diatas. Namun sebelumnya, kita ulangi sekali lagi bunyi QS An-nisa:64.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”


Sanggahan saya, disinilah banyaknya orang gagal paham dan keliru dengan tafsir Ibnu Katsir ini. Kenapa?

1. Bantahan Pertama: Beda Kondisi

Dalam tafsir itu, disebutkan bahwa “seorang arab Badui mendatangi kubur rasulullahh“. Itu artinya, arab badui itu datang di saat rasulullah shalallahu ‘allaihi wa sallam telah meninggal. Sementara QS An-nisa:64 turun saat rasulullahh Shallallahu Alaihi Wa Sallam masih hidup, dan orang-orang yang menganiaya dirinya ini mendatangi rasulullah shalallahu ‘allaihi wa sallam saat beliau masih hidup. Jadi tidak bisa disamakan kondisinya, antara kejadian orang-orang yang menganiaya dirinya dengan kejadian si orang arab Badui ini.

2. Bantahan Kedua: Wahyu Telah Berhenti Turun

Kita tidak bisa dan tidak boleh menggabungkan kejadian yang terjadi setelah wahyu berhenti turun (setelah rasulullah shalallahu ‘allaihi wa sallam telah wafat) dengan kejadian saat wahyu masih turun (saat nabi shalallahu ‘allaihi wa sallam masih hidup).

PERLU DICATAT, bahwa Al-quran turun hanya kepada rasulullah shalallahu ‘allaihi wa sallam dan para sahabat (tentu saja untuk kemudian disebarkan keseluruh umat manusia), dan hanya saat rasulullah shalallahu ‘allaihi wa sallam masih hidup, bukan saat beliau telah meninggal. Karena saat beliau telah meninggal maka wahyu dari Allah telah berhenti turun dan Islam telah sempurna. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam QS Al-maidah:3, yang artinya:

“….Telah KUSEMPURNAKAN agama ini untukmu, telah ku cukupkan nikmatku kepadamu, dan ku ridhoi Islam jadi agama bagimu”.

– Al-maidah:3

Perlu diketahui asbabun nuzul ayat diatas, ayat diatas turun saat rasulullah shalallahu ‘allaihi wa sallam melakukan haji wada’ (haji perpisahan). Dan haji wada’ ini pertanda bahwa rasulallah akan segera meninggal. Dan benar, tak lama setelah haji wada’, rasulullah shalallahu ‘allaihi wa sallam sakit keras lalu meninggal dunia. Meninggalnya rasulullah shalallahu ‘allaihi wa sallam menjadi pertanda bahwa wahyu telah dihentikan turunnya oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dan QS Al-maidah:3 diatas adalah wahyu terakhir yang Allah subhanahu wa ta’ala turunkan ke bumi, dan menjadi potongan ayat terakhir yang menjadi penyempurna Al-quran.

Dengan telah berhentinya wahyu turun, seharusnya sudah tidak ada lagi wahyu yang bisa ditambahkan atau di kurangi seperti saat rasulullah shalallahu ‘allaihi wa sallam masih hidup.

Tapi bagaimana mungkin kisah si arab badui itu bisa dimasukkan / ditambahkan ke dalam tafsir QS An-nisa:64 sementara utusan Allah yang terakhir telah meninggal dan wahyu telah berhenti turun (islam telah sempurna)?

Jadi jelas, ini tafsir yang di buat-buat, di tambah-tambahi, dan di fabrikasi. Al-quran turun “KEPADA” rasulullah dan sahabat yang masih hidup saat itu. Jadi penafsiran seharusnya berdasarkan kejadian yang terjadi antara rasulullah dan para sahabat yang menjadi penyebab QS An-nisa:64 turun saat itu (Asbabun nuzul). Tidak ada hak-nya kisah si Arab Badui di masukkan ke dalam tafsir, karena kisah itu terjadi setelah rasulullah wafat (subhanallah sayangnya ilmu saya belum sampai kepada asbabun nuzul QS An-nisa:64. Bagi yang mengetahuinya bisa di sampaikan kepada saya melalui form komentar dibawah).

3. Bantahan Ketiga: Kemungkinan Adanya Kedustaan

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : وَمَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي حَقًّا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ فِي صُورَتِي وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Artinya: “Abu Hurairah Radhiyallahu anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka sungguh ia telah melihatku secara benar. Sesungguhnya setan tidak bisa menyerupai bentukku. Barangsiapa yang berdusta atasku secara sengaja maka ia telah mengambil tempat duduk dalam neraka”.

– HR Bukhari dan Muslim

Poin Bantahan saya yang ketiga berhubungan dengan pertanyaan saya di atas. Setiap orang yang bermimpi rasulullah pastilah benar, karena setan tidak mungkin meniru rasulullah shalallahu ‘allaihi wa sallam dalam mimpi.

Tapi perlu dicatat, meski setan tidak mampu meniru rasulullah shalallahu ‘allaihi wa sallam, tapi ia mampu menggoda hati manusia agar berdusta kepada orang lain, dan mengklaim dirinya telah melihat rasulullah dalam mimpinya dan membenarkan perkara batil yang dilakukan seseorang.

Hal ini telah dibenarkan oleh rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dalam hadits diatas bahwa meski setan tidak bisa meniru beliau shalallahu ‘allaihi wa sallam, tapi dia bisa saja menggoda seseorang untuk berdusta dan mengaku melihat rasul dalam mimpi pada kalimat “Barangsiapa yang berdusta atasku secara sengaja maka ia telah mengambil tempat duduk dalam neraka”. Wallahualam apakah Syekh uthbi (Atabi) berkata jujur atau tidak. Karena ia tidak mengatakan bagaimana CIRI-CIRI NABI yang ia lihat dalam mimpinya itu.

Seorang ulama tabi’in, Ayyub as-Sikhtiyani menceritakan,

كان محمد -يعني ابن سيرين – إذا قص عليه رجل أنه رأى النبي صلى الله عليه وسلم قال: صف لي الذي رأيته ، فإن وصفه له صفة لا يعرفها ، قال لم تره

Artinya: “Apabila ada orang yang mengaku mimpi bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Muhammad bin Sirin, maka beliau meminta, “Ceritakan kepadaku, bagaimana ciri-ciri orang yang kamu lihat.” Jika orang ini menyebutkan ciri-ciri yang tidak beliau kenal, maka Ibnu Sirin akan mengatakan, “Kamu tidak bertemu nabi.””

– Fathul Bari, 12/384

Kita tentu tahu sekarang ini, banyak orang berdusta mengaku “saya telah bertemu rasulullah secara sadar (di dunia nyata)”. Seperti yang banyak dikatakan oleh orang-orang Sufi. Jadi apa yang terjadi sebenarnya adalah wallahualam bishawab.

Catatan: Tidak ada maksud saya menuduh / memfitnah Syaikh Uthbi (Atabi) berdusta. Tapi pada poin ini hanyalah asumsi saya, yang memiliki kandungan “kemungkinan”. Bisa ya, bisa tidak! Dan saya pun tidak bermaksud memfitnah atau merendahkan seseorang yang bernama syeikh uthbi dan si arab badui ini, dan tidak pula bermaksud merendahkan Ibnu Katsir, karena mereka bertiga sudah menghabiskan seluruh waktu di Bumi yang diberikan oleh Allah untuk hidup, sementara saya masih separuh perjalanan. Maka mereka mungkin lebih baik dari saya dan memiliki pahala yang lebih banyak dari saya, wallahualam.

Hukum Bertawasul Kepada (Kubur) Orang Mati, Kubur Nabi/Rasul dan Wali/Alim Ulama

Apa yang dilakukan oleh orang-orang sekarang ini, meminta kepada kubur, termasuk kubur nabi telah dilakukan oleh orang-orang sebelum kita, oleh orang-orang sebelum nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Bermula menjadikan kuburan orang alim sebagai perantara kepada Allah, lalu lama-lama kubur itu disembah-sembah. Itulah mengapa Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan QS Az Zumar: 3:

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Artinya: “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

Termasuk berkata bahwa meminta kepada kubur nabi karena nabi adalah pemberi syafaat kepada umatnya. Dan hujjah itulah yang menjadi alasan orang-orang musyrik untuk melakukan kesyirikan, yaitu meminta pada (kuburan) orang yang sudah mati. Lalu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam QS. Yunus: 18:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Artinya: “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu).”

– QS. Yunus: 18

Bagaimana mungkin seorang muslim meminta safaat kepada kuburan nabi, setelah jelas rasulullah shalallahu ‘allaihi wa sallam memberitahukan kepada muslim bagaimana caranya memperoleh safaat darinya di hari penghakiman:

“Apabila kalian mendengar mu’adzdzin maka ucapkanlah seperti yang di ucapkan mu’adzin, kemudian bershalawatlah untukku, karena seseorang yang bershalawat untukku dengan satu shalawat, niscaya Allah akan bershalawat atasnya sepuluh kali. Mohonlah kepada Allah wasilah untukku, karena wasilah adalah kedudukan yang tinggi di surga, tidaklah layak tempat tersebut kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap aku hamba tersebut. Dan barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka syafa’at halal untuknya.”

– HR. Muslim: 577

Pada hadits diatas dijelaskan, bahwa ada satu tempat di surga yang mana tempat itu adalah tempat tertinggi di surga, dan tidak seorang pun layak berada di tempat itu kecuali satu orang saja diantara para nabi-nabi. Semua nabi saling memperebutkan tempat itu, tidak terkecuali rasulullah shalallahu ‘allaihi wa sallam. Dan rasulullah shalallahu allaihi wa sallam berharap dirinya lah yang layak berada di tempat itu.

Barang siapa yang meminta kepada Allah agar memberikan tempat itu kepada rasulullah Muhammad shalallahu allaihi wa sallam, maka rasulullah akan memberikan safaat kepadanya.

Apakah orang-orang musyrik pelaku kesyirikan Harus di perangi?

Berbicara apakah bertawasul atau meminta-minta pada kubur nabi termasuk musyrik atau bukan, dan apakah darah & harta mereka halal atau tidak (perlu di perangi atau tidak), maka renungkanlah, bahwa orang-orang musyrik yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi, mereka semua mengakui bahwa Allah Ta’ala adalah Pencipta dan Pengatur Alam Semesta. Namun, pengakuan mereka ini tidaklah dapat memasukkan mereka ke dalam Islam lantaran sikap mereka yang telah mendurhakai Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu mewakilkan atau menggantikan Allah dengan ciptaan Allah. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Artinya: Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?”

QS Yunus: 31

Dari ayat diatas kita sudah tahu, bahwa orang2 yang mengakui ke-esaan Allah pun, tidak bisa dibilang Islam. Mereka musyrik jika pada prakteknya masih melakukan kesyirikan (meminta kepada orang mati dan / atau kuburnya termasuk kepada kubur nabi dan wali, menyembah berhala, dsb). Mereka kafir jika pada prakteknya mereka masih mewakilkan Allah dengan ciptaannya.

Bahkan Abu Lahab saja mengakui Allah itu esa, ia bahkan mengakui bahwa Muhammad Shalallahu allaihi wa sallam itu benar adalah seorang nabi. Tapi ia masih tetap mewakilkan Allah kepada zat ciptaannya (apakah itu patung, kubur, nenek moyang, dsb). Oleh karena itu, meski ia (Abu Lahab) mengakui Allah itu esa (secara teori), juga mengakui rasulullah itu nabi, ia tetap mewakilkan Allah sehingga ia musyrik, dan rasulullah memeranginya.

Dalam sebuah riwayat pernah dikisahkan, Al-Masur bin Mukhramah, keponakan Abu Jahal, anak dari saudari perempuannya, bertanya kepada Abu Jahal tentang pribadi Nabi Muhammad SAW. “Wahai pamanku, apakah kalian menuduh Muhammad itu berdusta sebelum ia mengatakan apa yang dia katakan sekarang ini -yakni risalah kenabian-?”

“Wahai anak saudariku, demi Allah! Sungguh ketika Muhammad masih seorang pemuda, ia digelari al-amin (yang terpercaya) di tengah-tengah kami. Kami sama sekali tak pernah mencoba menyebutnya pendusta,” kata Abu Jahal.

Keponakannya kembali bertanya, “Wahai paman, mengapa kalian tidak mengikutinya?”

Abu Jahal menjawab, “Keponakanku, kami dan bani Hasyim selalu bersaing dalam masalah kemuliaan. Jika mereka memberi makanan, kami juga memberi makanan. Jika mereka menjamu dengan minuman, kami juga demikian. Jika mereka memberi perlindungan, kami juga melakukannya. Sampai-sampai kami sama-sama duduk di atas hewan tunggangan untuk berperang, kami (dan bani Hasyim) sama dalam kemuliaan. Kemudian mereka mengatakan, “’Di kalangan kami ada seorang Nabi yang mulia, kapan kabilahku bisa menyamai kemuliaan ini?”

Itulah mengapa pada kitab diatas orang yang meminta kepada kubur nabi, disebut musyrik meski ia mengakui ke-esaan Allah dan Muhammad rasul Allah. Karena Allah maha esa cuma sebatas di mulut saja, pada prakteknya ia masih meminta-minta pada selain Allah (pada kubur nabi, kubur wali atau patung).

Mengenai apakah seorang yang melakukan kesyirikan dan telah menjadi musyrik telah halal darah dan hartanya atau tidak, sudah di contohkan di atas bahwa Rasulullah shalallahu allaihi wa sallam bahkan memerangi pamannya sendiri Abu Lahab bersama orang-orang Quraish yang musyrik.

Jika kamu bertanya “bukankah Rasulullah shalallahu allaihi wa sallam memerangi mereka karena orang-orang Quraish dan Abu Lahab menindas dan menjalimi Rasulullah shalallahu allaihi wa sallam dan umat muslim saat itu, serta merampas harta mereka?” Maka saya jawab ya, itu benar. Namun bukan karena alasan itu saja, melainkan juga karena itu adalah perintah Allah subhanahu wa ta’ala.

Selain itu, bagaimana pula dengan kisah nabi Sulaiman yang memerangi ratu Balqis, padahal ratu Balqis dan kerajaannya tiada memerangi nabi Sulaiman? Itu karena perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan kemusyrikan ratu Balqis yang membawa rakyatnya untuk menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala.

Darah dan harta orang-orang musyrik menjadi halal bukan hanya karena mereka memerangi umat muslim, tapi juga karena orang-orang musyrik dan kelompoknya bisa mempengaruhi umat manusia lain, terutama orang-orang muslim apalagi orang-orang muslim yang awam terhadap agama mereka, agar ikut melakukan kemusyrikan. Kemudharatan inilah yang membuat darah dan harta orang-orang musyrik menjadi halal.

Apakah Semua Tawasul Adalah Haram?

Tentu saja, tidak semua tawasul adalah haram. Allah subhanahu wa ta’ala masih memperbolehkan bertawasul kepada orang yang masih hidup sesuai QS An-nisa 64 di atas. Maksudnya, meminta tolong agar orang lain (misalnya: orang alim/ulama) juga turut mendoakan dirinya. Dan tentu saja, selain memintakan orang lain agar berdoa kepada Allah untuk dirinya, maka dirinya juga harus berdoa secara langsung kepada Allah.

Allah berfirman dalam QS An-Nisa 64:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

– QS An-Nisa:64

Dari QS An-nisa:64 diatas, ada 5 kondisi:

  1. Ada orang-orang yang sedang menganiaya dirinya (berdasar ayat “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya…………”)
  2. Mereka yang menganiaya dirinya mendatangi rasulullah shalallahu allaihi wa sallam ketika beliau masih hidup (BELUM MATI), karena ayat ini turun saat beliau masih hidup.(“……ketika menganiaya dirinya datang kepadamu”)
  3. Mereka memohon ampunan kepada Allah atas diri mereka sendiri secara langsung (“lalu memohon ampun kepada Allah”)
  4. Setelah itu rasulullah shalallahu alaihi wa sallam juga ikut berdoa atas dirinya sendiri kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar dosa-dosa mereka diampuni (“dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka”)
  5. Maka Allah mengampuni dosa mereka (“tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”)

Terakhir, nasehat saya kepada orang tersebut, yang begitu bangga dengan banyaknya kitab-kitab yang ia miliki:

Kebenaran tidak ditentukan dari seberapa tebal buku yang kita pegang, seberapa lembar halaman yang telah kita baca, atau seberapa banyak buku yang kita miliki, tapi seberapa banyak kita mengamalkan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan rasulnya dalam Al-quran dan hadits. Karena Iblis bahkan adalah makhluk ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala yang paling jenius, paling pintar, namun ia terjerembab dalam kesalahan dan dosa.

Dua kitab yang di ikuti semua perintah di dalamnya (yi: Alquran dan hadits/sunnah) itu lebih baik dari seribu kitab yang di pajang di rumah tapi tak di amalkan.

Dua kitab ini saja saya masih belum mampu mengamalkan seluruhnya dengan benar, maka kenapa saya harus ambil pusing menambah-nambah PR dengan kitab-kitab lainnya yang datang bukan dari Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak terjamin kebenarannya, tidak seperti dijaminnya kebenaran kitabullah (Al-quran).

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Leave a Reply

Your email address will not be published.*
*
*