Assunnah.ID

Media beramal jariyah dengan dakwah sunnah

Pemerintah & MUI Tiadakan Sholat Jumat dan Perintahkan Sholat di Rumah, Bagaimana Muslim Harus Menyikapinya?

Posted on

Di akhir zaman akan semakin banyak orang-orang yang mengaku ISLAM tapi tingkah laku mereka semakin jauh dari Alquran dan sunnah. Bukan, bukan bapak Joko Widodo, bukan Ridwan Kamil, bukan pula pemerintah, tapi orang-orang yang berkata “Allahu akbar” sambil menentang perintah pemerintah untuk sholat di rumah dan menghentikan sementara sholat Jumat.

Tidakkah mereka tahu bahwa Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaiihi wasallam telah mewasiatkan umatnya untuk patuh dan taat kepada pemerintah? Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Artinya:
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”

– HR. At Tirmidzi no. 2676 (Hasan-sahih)

Pemerintah bukan melarang kalian untuk sholat, justru pemerintah memerintahkan kalian untuk sholat.

“SHOLATLAH KALIAN… SHOLATLAH KALIAN DI RUMAH-RUMAH KALIAN…”

 

Dan tidakkah kalian mengetahui bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang kalian untuk masuk dalam kebinasaan?

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

Artinya:Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan“.

– QS. Al Baqarah: 195

Dengan kamu melakukan sholat di masjid saat terjadi wabah penyakit di tengah-tengah kamu, bukan hanya kamu akan menuju kebinasaan karena beresiko tertular penyakit, tapi juga akan membinasakan orang lain yang mungkin akan tertular jika kamu tanpa sadar telah memiliki atau mengidap suatu penyakit menular (Corona). Dan Allah subhanahu wa ta’ala melarangmu membinasakan dirimu.

Selain itu, dengan tidak sholat di masjid di tengah wabah virus Corona, bukan berarti kita takut terhadap virus Corona mengalahkan takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Melainkan karena niat ingin menyelamatkan diri dari kebinasaan.

Bukankah sudah fitrahnya manusia akan lari saat berhadapan dengan binatang buas seperti Singa atau macan? Maka ketahuilah, lari dari singa bukan berarti kita takut kepada singa, melainkan karena ingin menyelamatkan diri dari kebinasaan. Maka tak berbeda dengan penyakit Corona, karena saat ini Corona lebih berbahaya dari pada singa karena virus itu tak terlihat mata. Maka sudah fitrah manusia dan memang perintah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar kita lari dari kebinasaan. Karena virus Corona sudah memakan ratusan ribu korban jiwa.


Tentu saja, udzur syar’i tidak menghapus hukum wajibnya sholat untuk dilakukan. Bahkan saat seseorang dalam kondisi sakit tak bisa bergerak pun tetap wajib baginya untuk sholat wajib. Namun ketahuilah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala yang maha pengasih lagi maha penyayang tidak memaksakan umatnya untuk sholat berdiri. Jika tidak bisa sholat berdiri maka sholatlah dalam duduk. Jika tidak mampu sholatlah dalam tidur. Dan sholatlah meski hanya dalam hatimu. Maka sholat wajiblah di rumah jika  kamu berhalangan hadir berjamaah di masjid. Dan sholat zuhur-lah empat rakaat jika kamu tidak bisa hadir  sholat jum’at.

Tidakkah mereka tahu bahwa rabb ku dan rabb mereka itu maha pengasih lagi maha penyayang dan juga maha pemurah? Allah meringankan hambanya untuk tidak sholat berjamaah di masjid jika memiliki udzur syar’i, seperti ketiduran, sakit, hujan, badai dan bahkan jika jalanan licin sekalipun (tanpa hujan) sebagai bentuk kasih sayangnya Allah kepada hambanya, tapi mengapa mereka itu tidak mau menerima kasih sayang Allah kepada mereka?

Ibnul Qayyim menjelaskan:

ومن تأمل السنة حق التأمل تبين له أن فعلها في المساجد فرض على الأعيان ، إلا لعارض يجوز معه ترك الجمعة والجماعة ، فترك حضور المسجد لغير عذر : كترك أصل الجماعة لغير عذر، وبهذا تتفق جميع الأحاديث والآثار….

Artinya”:
“Barangsiapa yang mentadabburi As Sunnah dengan sebenar-benarnya, akan jelas baginya bahwa melaksanakan shalat jama’ah di masjid itu hukumnya fardhu ‘ain. Kecuali ada penghalang yang menghalangi untuk membolehkan untuk meninggalkan shalat Jum’at dan shalat Jama’ah. Maka meninggalkan hadir shalat di masjid tanpa udzur seperti meninggalkan shalat jama’ah tanpa udzur. Dengan pendapat inilah akan bersesuaian semua hadits dan atsar”

– Kitabus Shalah, 416

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, ia berkata:

خرجنا مع رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ في سفرٍ . فمُطِرْنا . فقال ” ليُصلِّ من شاء منكم في رَحْلِه “

Artinya:
“Kami pernah safar bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, lalu turunlah hujan. Beliau besabda: ‘bagi kalian yang ingin shalat di rumah dipersilakan‘”

– HR. Muslim no. 698

Dari Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhuma:

كَانَ يَأْمُرُ مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ ، ثُمَّ يَقُولُ عَلَى إِثْرِهِ ‏‏: ” أَلَا صَلُّوا فِي ‏‏الرِّحَالِ ‏” فِي اللَّيْلَةِ الْبَارِدَةِ أَوْ الْمَطِيرَةِ فِي السَّفَرِ

Artinya:
“Dahulu Nabi memerintahkan muadzin beradzan lalu di akhirnya ditambahkan lafadz /shalluu fii rihaalikum/ (shalatlah di rumah-rumah kalian) ketika malam sangat dingin atau hujan dalam safar”

– HR. Bukhari no. 616, Muslim no. 699

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ketika sakit beliau tidak ke masjid dan sholat berjamaah, melainkan di rumah:

أن رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال في مرَضِه : ( مُروا أبا بكرٍ يصلِّي بالناسِ

Artinya:
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika sakit beliau bersabda: perintahkan Abu Bakar untuk shalat (mengimami) orang-orang”

– HR. Bukhari no. 7303

Pertanyaannya, jika Allah dan rasulnya saja tidak mewajibkan seseorang untuk berjamaah di masjid jika memiliki udzur syar’i (hujan, becek, badai, ketiduran, sakit, dsb), kenapa mereka itu malah mengharuskan orang lain untuk sholat berjamaah di masjid? Apakah mereka itu lebih pintar dan lebih berkuasa dari Allah dan rasulnya? Tidakkah mereka tahu bahwa wabah penyakit itu lebih berbahaya dari pada hujan, becek, badai dan ketiduran?

Lagi pula, keringanan-keringanan yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, yang disebut dengan istilah “rukhsah”, lebih afdol dikerjakan jika memang seseorang memiliki udzur syar’i. Dan Allah subhanahu wa ta’ala menyukai hambanya untuk mengambil rukhsah itu, berdasarkan ayat:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Artinya:
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”

– Al-Baqarah/2 : 185

 

Dan juga, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتِى رُخْصَهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتِى مَعْصِيَتَهُ

Artinya:
“Sesungguhnya Allah menyukai didatanginya rukhsah (keringanan) yang diberikan, sebagaimana Dia membenci orang yang melakukan maksiat”

– HR Ahmad 2/108, Ibnu Hibban 2742 dari Ibnu Umar dengan sanadnya yang Shahih

 

Dan tidakkah mereka tahu bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjadikan setiap jengkal Bumi ini sebagai masjid? Dan membolehkan mereka untuk sholat dimana saja di muka Bumi ini, kecuali di dua tempat yaitu WC/kamar mandi dan kuburan? Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda :

وَجُعِلَتْ لِىَ الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا ، وَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ

Artinya: “Seluruh bumi dijadikan sebagai tempat shalat dan untuk bersuci. Siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat, maka shalatlah di tempat tersebut

– HR. Bukhari no. 438; Muslim no. 521

Namun ada tempat-tempat terlarang untuk shalat semisal kuburan atau daerah pemakaman.

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبُرَةَ وَالْحَمَّامَ

Artinya:Seluruh bumi adalah masjid (boleh digunakan untuk shalat) kecuali kuburan dan tempat pemandian

– HR. Tirmidzi no. 317; Ibnu Majah no. 745; Ad Darimi no. 1390; Ahmad 3: 83. (Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Selain itu, bukankah kalian juga bisa melakukan sholat berjamaah di rumah? Maka ajaklah istri dan anak-anak kalian juga sanak keluarga kalian lainnya untuk sholat berjamaah di rumah, niscaya kalian akan mendapatkan pahala sholat berjamaah.

Sementara bagi kalian yang belum berkeluarga, bukankah rasulullah telah bersabda, bahwa bagi mereka yang rutin mengerjakan ibadah, maka saat tiba suatu waktu ia terhalangi untuk beribadah karena udzur syar’i (seperti sekarang, jika dulu kuta rutin sholat berjamaah di masjid, namun saat ada wabah Corona seperti sekarang ini kita terpaksa sholat dirumah, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang maha pemurah itu tetap akan memberikan kita pahala sholat berjamaah di masjid penuh, meski kita hanya sholat sendirian di rumah.

Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

الْعَبْدَ إِذَا كَانَ عَلَى طَرِيقَةٍ حَسَنَةٍ مِنَ الْعِبَادَةِ ثُمَّ مَرِضَ قِيلَ لِلْمَلَكِ الْمُوَكَّلِ بِهِ اكْتُبْ لَهُ مِثْلَ عَمَلِهِ إِذَا كَانَ طَلِيقاً حَتَّى أُطْلِقَهُ أَوْ أَكْفِتَهُ إِلَىَّ

Artinya:Seorang hamba jika ia berada pada jalan yang baik dalam ibadah, kemudian ia sakit, maka dikatakan pada malaikat yang bertugas mencatat amalan, “Tulislah padanya semisal yang ia amalkan rutin jika ia tidak terikat sampai Aku melepasnya atau sampai Aku mencabut nyawanya.”

– HR. Ahmad, 2: 203

Hal itu karena amalan yang dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu, sebagaimana disebutkan dalam hadits,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya:Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun jumlahnya sedikit.” (HR. Bukhari no. 6465; Muslim, no. 783; dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha).

 

Ini sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala meringankan kewajiban sholat wajib bagi mereka para musafir yang sedang safar, untuk menjamak atau qhasar shalat mereka. Maka mereka akan mendapatkan keringanan namun dengan pahala yang penuh seperti kita sholat wajib meski kita menjamak/qhasar sholat kita itu.

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Artinya:Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.”

– HR. Bukhari, no. 2996

Dan tidakkah cukup bagi mereka contoh dari negeri tetangga Malaysia, yang kasus Coronanya (Covid-19) meningkat drastis lantaran ngotot mengadakan tabligh akbar? Sesungguhnya Rasulullah memerintahkan kita untuk belajar dari kesalahan dan tidak jatuh di lubang yang sama dua kali.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

Artinya:
“Tidak selayaknya seorang mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali.”

– HR. Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2998

 

Selain menghindari wabah, seorang muslim haruslah bercermin dan melihat pada dirinya sendiri. Dosa-dosa apa yang telah mereka lakukan saat sebelum wabah atau musibah itu terjadi. Karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan musibah tak lain sebagai peringatan kepada umat manusia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا۟ عَن كَثِيرٍ

Artinya: “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tangan mu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”

– QS. Asy-Syura: 30

Juga dalam ayat lainnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ﴿٤١﴾ قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ ۚ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” [Ar-Rum/30 : 41-42]

“Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan hidayahnya kepada mereka yang menentang perintah pemimpin. Dan memberikan kekuatan dan kesabaran kepada kita semua, dan berharaplah pahala darinya, serta yakinlah bahwa tidak akan tertimpa suatu musibah kepada kita kecuali yg telah Allah tetapkan. Niscaya kita termasuk orang-orang yang menerima pahala syahid terlepas apakah kita mati atau tidak karena wabah virus Corona.”

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tha’un, lalu Beliau memberitahukan:

إِنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَـبْـعَـثُـهُ اللهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ، فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَـقَعُ الطَّاعُوْنُ، فَـيَمْكُثُ في بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا، يَعْلَمُ أنَّهُ لَنْ يُصِيْبَهُ إِلَّا مَا كَـتَبَ اللهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْـلُ أَجْرِ الشَّهِيْدِ» أخرجه البخاري

Artinya: “Tha’un ialah adzab yang Allah turunkan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan bahwasannya Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi kaum mukminin. Tidak seorangpun yang terserang penyakit tha’un kemudian dia tetap diam di daerahnya dengan sabar dan mengharap ganjaran dari Allah, dia mengetahui bahwa tidak ada yang menimpanya kecuali apa yang telah Allah tetapkan baginya, kecuali dia akan mendapat ganjaran seperti orang yang mati syahid.”

– Shahih: HR. Al-Bukhari no. 3474, 5734, 6619; HR. Ahmad (IV/252); HR an-Nasaa-i dalam Sunanul Kubra (no. 7483)

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Leave a Reply

Your email address will not be published.*
*
*