Assunnah.ID

Media beramal jariyah dengan dakwah sunnah

Ust. Firanda Andirza Bantah Fitnah Keji Duo Idrus Ramli & Abdul Somad

Posted on

Beberapa hari belakangan netizen heboh dengan sebuah video yang dibuat oleh Ustadz Abdul Somad (UAS) dengan Idrus Ramli. Dalam video tersebut mereka berdua melakukan tanya jawab berdua. Namun sayangnya, dalam video tersebut mereka berdua bukan melakukan dakwah, namun malah melakukan fitnah dan menyebar syubhat yang sangat keji.

Sungguh disayangkan memang, padahal UAS adalah sosok ulama yang dikenal oleh masyarakat. Namun bagaimana bisa seorang tokoh da’i yang seharusnya mengayomi masyarakat, menunjukkan jalan yang haq, dan menjauhkan umat dari kebatilan, justru melakukan fitnah yang keji. Dibawah inilah video bagaimana kedua tokoh ini (UAS dan Idrus Ramli) mengatakan fitnah tersebut.

Kenapa saya menyebut apa yang mereka sampaikan dalam video tersebut adalah sebuah fitnah, karena seorang intelek, seorang yang tidak fanatik, dan seorang yang cerdas tidak akan mudah termakan gosip tentu akan mengetahui, bahwa apa yang mereka lakukan berdua itu tidak lain adalah menambah-nambah, mengarang-ngarang cerita.

Bisa diperhatikan dari awal sampai akhir video, tidak ada satupun dari cerita mereka yang berdasarkan bukti otentik. Dari awal video cuma “katanya… Katanya… dan Katanya…”, cuma “kayaknya… Kayaknya… dan Kayaknya…” . Mereka memfitnah ulama sunnah (yang mereka sebut Wahabi) suka menyesatkan orang lain. Tapi semua itu tanpa bukti, mereka tidak memberikan bukti satu potong video pun yang menunjukkan ulama sunnah menyesatkan. Lantas apa bedanya apa yang mereka sampaikan itu dengan orang yang sedang meng-ghibah (menggosip)? Justru saya melihat sebaliknya, merekalah yang paling sering menyesatkan orang lain yang tidak sepaham dengan mereka.

Jangankan bukti, saksinya saja tak jelas. Kata mereka “mantan ust. Wahabi”, siapa nama mantannya itu? Jangan-jangan orang baru belajar sunnah kemarin sore yg ngaku-ngaku ustad. Atau ustadz yang sama sekali tidak dikenal dan tidak diakui keilmuannya. Atau jangan-jangan “ustadz seleb” yang baru taubat kemarin sore sudah jadi “kyai” demi asap dapurnya tetap mengepul.

Mereka juga menyampaikan syubhat yang mengingkari bahwa Allah berada di atas Arsy, juga mereka memfitnah bahwa ulama Sunnah (yang mereka sebut Wahabi) berkata Allah subhanahu wa ta’ala turun ke langit dunia jam 3 pagi.

Wallahi, selama saya mendengarkan ulama-ulama sunnah (yang mereka sebut salafi/wahabi) seperti Ust. Firanda, Khalid B, Syafiq R B, ust. Abu Yahya Badrusalam, dll, tidak sekalipun saya pernah mendengar ada ulama sunnah berkata “Allah turun ke langit dunia jam 3 pagi”.

Kalau “Allah berada di atas Arsy”, ya… Mereka memang berkata demikian. Karena memang ada dalilnya, yaitu :

Surat Al-A’raf: 54, Yunus: 3, Ar-Ra’d: 2, Al-Furqan: 59, As-Sajdah: 4 dan Al-Hadid: 4, semuanya dengan lafazh:

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

Artinya:
“Kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).”

Dan dalam Surat Thaha 5 dengan lafazh:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Artinya:
“Yang Maha Penyayang di atas ‘Arsy (singgasana) berada.”

Abu Hurairah rodiallahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda:

لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ -فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ- إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي

Artinya:
“Ketika Allah menciptakan makhluk (maksudnya menciptakan jenis makhluk), Dia menuliskan di kitab-Nya (Al-Lauh Al-Mahfuzh) – dan kitab itu bersama-Nya di atas ‘Arsy (singgasana) – : “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku.”

– HR. Bukhari dan Muslim

Tapi saya tidak pernah sekalipun mendengar ulama-ulama yang mereka maksud, berkata Allah turun jam 3 pagi. Yang benar adalah, Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

”Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.”

– HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808

Ulama-ulama sunnah (yang mereka sebut wahabi) tidak mempertanyakan bagaimana Allah berada di atas Arsy, dan tidak pula membayangkan bagaimana Allah turun ke langit dunia. Mereka hanya “mengimani” – nya tanpa bertanya “bagaimana” dan “seperti apa”. Karena memang Allah dan rasulnya tidak menjelaskan. Yang jelas, Allah tidak bisa disamakan dengan makhluknya sebagaimana tertulis dalam Qs Al Ikhlas. Bagaimana ia berada di atas Arsy dan bagaimana ia turun tidak ada yang tau, jadi jangan di pertanyakan karena akalmu tidak sampai kesana.

Sementara mereka berdua dalam video di atas, mereka menyanggah firman Allah dan sabda rasulnya yg telah jelas. Karena mereka menyanggah, pastilah sebelum menyanggah, dalam benak mereka telah membayangkan bahwa Allah berada diatas Arsy seperti ini dan seperti itu. Allah turun ke langit dunia begini dan begitu. Padahal Allah tidak bisa disamakan dengan makhluknya.

Mereka juga menyebut-nyebut Imam syafi’i. Mereka mengaku bermajhab syafi’iyah, tapi mereka sendiri mengingkari perkataan imam syafi’i.

Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata:

“Makna firman Allah dalam kitab-Nya:

مَنْ فِي السَّمَاءِ

“…Dzat yang berada di atas langit…” (Qs. Al Mulk: 16).

Dan

di atas Arsy, sebagaimana Dia firmankan:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Allah yang Maha Pengasih itu berada di atas Arsy” (QS. Thaha: 5).

Imam Syafi’i menjelaskan, Allah itu ada di atas Arsy sebagaimana yang Dia kabarkan sendiri, tidak perlu mempersoalkan bagaimananya.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang sama dengan-Nya, Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Asy-Syuro: 11) [lihat: Manaqibusy Syafi’i lil Baihaqi 1/397-398].

Perhatikanlah bagaimana Imam Syafi’i rahimahullah mengumpulkan dua ayat di atas. Itu menunjukkan bahwa dua ayat itu saling melengkapi, dan tidak boleh dipertentangkan.

Imam Syafi’i rahimahullah menyimpulkan mengenai kedua ayat diatas bahwa:

“Allah tidak sama dengan makhluk dalam keberadaan-Nya di atas Arsy.”

Jadi, Allah berada di atas Arsy itu benar karena Allah yg berfirman. Tapi tidak sama seperti manusia yg lagi nongkrong di atas singgasana/kursi.

Akalmu cuma mampu membayangkan seorang raja yg lagi duduk di atas Singgasana saja. Tapi bagaimana Allah subhanahuwata’ala di atas Arsy tidak akan sanggup akalmu membayangkan.

Dari sini jelas, mereka berdua dlm video bertolak belakang dengan Imam Syafi’i.


Selain itu, jika mereka mengingkari dalil Allah subhanahu wa ta’ala berada di atas Arsy, sekarang saya ajak mereka berdua untuk berpikir menggunakan akal yang telah Allah anugerahkan kepada mereka. Saya tanya:

Allah bisa melihat dan mendengar atau tidak? Ya, bisa melihat dan mendengar.

Lalu manusia bisa melihat dan mendengar atau tidak? Ya, bisa melihat dan mendengar.

Apakah “bisa melihat & mendengarnya Allah” dengan “bisa melihat & mendengarnya manusia” itu sama? Tentu saja akalmu akan menjawabnya tidak, sebagaimana tertulis dalam QS Al-ikhlas.

Jadi begitu pula dengan “Allah berada di atas Arsy” itu tidak sama dengan “raja manusia berada di atas singgasana”. Kalau kamu mengingkari “Allah berada di atas Arsy” maka kamu juga akan mengingkari sifat Allah yg “maha melihat dan mendengar.” Karena Allah dan manusia sama-sama bisa melihat.

Ustadz Firanda Andirja Membantah dengan Telak Fitnah UAS dan Idrus Ramli

Berbeda dengan duo UAS dan Idrus Ramli yang memfitnah ulama-ulama sunnah dengan argumen yang sangat sedikit dalil, tanpa data dan fakta yang pasti dan benar, ustadz Firanda justru memberikan data-data dan dalil yang jelas lengkap dengan sumber-sumber dan kitabnya. Berikut ini adalah video bantahan Ust. Firanda Andirja atas video UAS dan Idrus Ramli di atas.

Bisa anda saksikan bukan, apa yang disampaikan ustadz Firanda di atas sangat berbobot, sangat cerdas, dengan bukti dan dengan dalil. Dan masya Allah, semua itu di sampaikan dengan indah, sejuk lagi menyejukkan. Meski beliau dan ulama-ulama sunnah lain telah di fitnah seperti itu, tidak sekalipun ust. Firanda membalasnya dengan keburukan dan kebencian. Mungkin ada sedikit “sentilan” yang di sisipkan oleh Ust. Firanda pada menit ke 31:06 kepada da’i-da’i lain yang mengingkari “Allah di atas Arsy”, tapi itu dilakukan dengan porsi yang sesuai agar mereka mau berkaca dan mengintrospeksi diri, bagaimana mereka memperlakukan ulama-ulama sunnah yang mereka cap wahabi dengan mulut mereka (kebanyakan menyeat-nyesatkan), lalu bagaimana ulama-ulama “wahabi” itu memperlakukan mereka dengan bijak dan tidak ada provokasi sama sekali.

Demikian postingan ini semoga Allah memberikan taufiknya kepada kita, dan memberi hidayah kepada kita semua, dan kepada mereka khususnya.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

3 thoughts on “Ust. Firanda Andirza Bantah Fitnah Keji Duo Idrus Ramli & Abdul Somad

  • Chairul July 31, 2020 at 4:25 pm
    Reply

    Kalau memang anggapanmu seperti itu, ya sudah…. ajak mereka berdebat. Itu pun kalau ust wahabi mau. Setahu saya ust wahabi gak mau duduk semajlis dengan ahli bid’ah

    • kang_uchiha August 1, 2020 at 10:25 am
      Reply

      Bukan ulama sunnah tidak mau berdebat, bukankah Idrus Ramli telah berdebat dengan Ust. Firanda Andirza? Cek: https://www.youtube.com/watch?v=HkCIfDrQqUU

      Hasilnya adalah, telah bisa dipastikan salah satu kitab landasan NU berkata bahwa tahlilan adalah bid’ah munkarah. Bahkan Idrus Ramli sendiri mengakui bahwa tahlilan adalah bid’ah munkarah, namun dalam video serupa ia memplesetkannya menjadi bid’ah makruhah. Idrus Ramli berkata, bahwa “tahlilan itu sudah menjadi tradisi, kalau di tiadakan masyarakat bisa ribut.”

      Bisa kamu bayangkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dulu pada fase Mekah dimusuhi bahkan diperangi oleh mayoritas penduduk Mekah karena melawan tradisi nenek moyangnya. Itu artinya, Tradisi tidak bisa dibandingkan dengan syariat Allah, karena Allah diatass segalanya. Rasulullah bersasbda “Segala tradisi/perkara jahiliyah berada dibawah telapak kakiku”.

      Namun bagaimana dengan Idrus Ramli? Dia menaruh tradisi diatas syariat Agama. Ia lebih mementingkan tradisi ketimbang hukum Allah. Wanaudzubillah.

      Bahkan Idrus Ramli kembali di ajak berdebat secara terbuka oleh ust. Ali Musri: https://youtu.be/Nj2ZUFZKdmc

  • Wahabi October 1, 2021 at 11:38 am
    Reply

    Saya secara pribadi sangat prihatin dengan mereka berdua (uas dan uir).yang jelas merekalah ciri dari islam yang berkembang di indonesia….islam seperti apa?tentunya islam yang penganut 2 nya dapat dilihat dari moralitasnya,tabiatnya,kelakuan2nya…kebanyakan jauh dari islami…

Leave a Reply

Your email address will not be published.*
*
*