Assunnah.ID

Media beramal jariyah dengan dakwah sunnah

Mengapa Wahabi & Arab Saudi Menghancurkan Makam Jannatul Baqi (Kuburan Para Sahabat)

Posted on

Tulisan ini adalah sarana bagi saya untuk mengklarifikasi fitnah yang banyak tersebar bukan hanya di kalangan masyarakat, tetapi juga di dunia maya. Dan mirisnya, pandangan masyarakat di era modern ini banyak di pengaruhi oleh konten-konten yang tersedia di internet.

Tulisan ini bertujuan untuk mengklarifikasi alasan mengapa Muhammad bin Abdul Wahhab (selanjutnya dipanggil “Ibn Abdul Wahhab”) dan Abdulaziz ibn Abdul Rahman ibn Faisal ibn Turki ibn Abdullah ibn Muhammad Al Saud (pendiri kerajaan Arab Saudi sekarang, untuk selanjutnya dipanggil “Ibn Saud“) menghancurkan makam Baqi yang bersejarah, yaitu tempat dikuburnya para sahabat nabi radhiyallahu ‘anhu.

Sebelum saya masuk ke inti pembahasannya, saya akan mengambil informasi dari Wikipedia sebagai sumber acuan ke arah mana saja pembahasan ini akan dibawa. Karena kita tahu bahwa Wikipedia (Encyclopedia Online) adalah sumber informasi yang kredibel, terpercaya dan terjamin isinya (meski tidak 100 persen), sehingga situs Wikipedia banyak dijadikan rujukan oleh Netizen (masyarakat online) untuk mendapatkan informasi, yang pada akhirnya akan membentuk suatu opini di masyarakat. Berikut saya ambil potongan tulisan tentang Wahabi yang berasal dari Wikipedia:


Wahabi lebih tepatnya Wahhabisme (Arab: وهابية, Wahhābiyah) atau Salafi adalah sebuah aliran reformasi keagamaan dalam Islam. Aliran ini berkembang dari dakwah seorang teolog Muslim abad ke-18 yang bernama Muhammad bin Abdul Wahhab yang berasal dari Najd, Arab Saudi. Aliran ini digambarkan sebagai sebuah aliran Islam yang “ultrakonservatif”, “keras”, atau “puritan”;

Pendukung aliran ini percaya bahwa gerakan mereka adalah “gerakan reformasi” Islam untuk kembali kepada “ajaran monoteisme murni”, kembali kepada ajaran Islam sesungguhnya, yang hanya berdasarkan kepada Qur’an dan Hadis, bersih dari segala “ketidakmurnian” seperti praktik-praktik yang mereka anggap bid’ah, syirik dan khurafat. Sementara penentang ajaran ini menyebut Wahhabi sebagai “gerakan sektarian yang menyimpang”, “sekte keji” dan sebuah distorsi ajaran Islam.

Saat ini Wahhabisme merupakan aliran Islam yang dominan di Arab Saudi dan Qatar. Ia dapat berkembang di dunia Islam melalui pendanaan masjid, sekolah dan program sosial. Dakwah utama Wahhabisme adalah Tauhid yaitu Keesaan dan Kesatuan Allah. Ibnu Abdul Wahhab dipengaruhi oleh tulisan-tulisan Ibnu Taymiyyah dan mempertanyakan interpretasi Islam dengan mengandalkan Alquran dan hadits. Ia mengincar “kemerosotan moral yang dirasakan dan kelemahan politik” di Semenanjung Arab dan mengutuk penyembahan berhala, pengkultusan orang-orang suci, pemujaan kuburan orang yang saleh, dan melarang menjadikan kuburan sebagai tempat beribadah.

Etimologi
Menurut seorang penulis berkebangsaan Saudi, Abdul Aziz Qasim dan yang lainnya, yang pertama kali memberikan julukan Wahabi kepada dakwah ibnu Abdul Wahhab adalah Kesultanan Utsmaniyah, kemudian bangsa Inggris mengadopsi dan menggunakannya di Timur Tengah.

Wahabi tidak menyukai istilah yang disematkan oleh beberapa kalangan tersebut kepada mereka dan menolak penyematan nama individu, termasuk menggunakan nama seseorang untuk menamai aliran mereka. Mereka menamakan diri dengan nama Salafi dan gerakannya dengan Salafiyah.

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata: “Penisbatan (Wahhabi) tersebut tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Semestinya kalaupun harus ada faham baru yang dibawa oleh Al-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bentuk penisbatannya adalah ‘Muhammadiyyah’, karena sang pengemban dan pelaku dakwah tersebut adalah Muhammad, bukan ayahnya yang bernama Abdul Wahhab.”

Istilah “Wahabi” dan “Salafi” (serta Ahli Hadits yaitu orang-orang hadits) sering digunakan secara bergantian, tetapi Wahabi juga telah disebut sebagai “orientasi tertentu dalam Salafisme”, yang dianggap ultra-konservatif. Namun dapat disimpulkan, Wahabi merupakan gerakan Islam sunni yang bertujuan untuk memurnikan ajaran Islam dari ajaran-ajaran atau praktik-praktik yang dianggap menyimpang seperti: syirik, ilmu hitam, penyembahan berhala, bid’ah dan khurafat.

Sejarah
Gerakan Wahhabi dimulai sebagai gerakan revivalis di wilayah terpencil nan gersang di Najd. Dengan runtuhnya Kesultanan Utsmaniyah setelah Perang Dunia I, dinasti Al Saud menjadi penyokong utama Wahhabisme, dan menyebar ke kota-kota suci Mekkah dan Madinah. Setelah penemuan minyak di dekat Teluk Persia pada tahun 1939, Kerajaan Saudi memiliki akses terhadap pendapatan ekspor minyak, pendapatan yang tumbuh hingga miliaran dollar. Uang ini – digunakan untuk menyebarkan dakwah wahhabi melalui buku, media, sekolah, universitas, masjid, beasiswa, beasiswa, pekerjaan bagi para jurnalis, akademisi dan ilmuwan Islam – hal ini memberikan Wahhabisme sebuah “posisi kekuatan yang unggul” dalam Dunia Islam global.


Sumber: Wikipedia

Sampai pada postingan diatas, tulisan yang ada di Wikipedia memang benar adanya, dan tidak ada permasalahan tentang itu. Manhaj Salafi (atau yang sering disebut orang dengan Wahabi) memang persis seperti apa yang di deskripsikan dalam tulisan di Wikipedia diatas. Namun masalah ada pada bagian sub-pembahasan Kritik dan Kontroversi dalam laman Wikipedia di atas.

Saya akan menjelaskan lebih detail sekaligus menentang beberapa stigma negatif yang di nisbatkan oleh beberapa kelompok Islam dengan manhaj Salaf ini. Berikut saya ambil cuplikan tulisan yang ada pada bagian sub-pembahasan Kritik dan Kontroversi pada laman Wikipedia tersebut, dan sekaligus akan menjadi topik pembahasan saya yang akan mengklarifikasi dan menentang fitnah-fitnah yang terkandung di dalamnya.

Kritik dan Kontroversi

Sebelum kita masuk ke pokok masalah dibawah, sebaiknya kita mengetahui apa itu kontroversi. Apa itu kontroversi? Menurut Wikipedia, Kontroversi ialah keadaan pertikaitan atau perdebatan awam berpanjangan, biasanya mengenai perkara pendapat atau sudut pandangan berkonflik. Jadi pada intinya, pokok masalah yang akan saya bahas di bawah masih terdapat perdebatan mengenai benar tidaknya. Ada yang menganggap apa yang dilakukan oleh Ibnu Saud & Muhammad bin Abdul Wahab menghancurkan makam baqi sebagai sesuatu yang salah, namun ada juga yang berpendapat apa yang mereka lakukan itu benar.

Jika anda sudah mengerti, berikut kritik dari muslim lain terhadap penghancuran makam baqi, seperti saya kutip dari Wikipedia:


Kritik dari Muslim lain
Pada praktiknya wahhabisme tumbuh sebagai paham yang demikian keras, kaku, ketat dan tanpa mengenal kompromi. Sebagian kalangan menilai paham ini telah melampaui batas dalam menetapkan definisi sempit tentang tauhid. Pendukung wahhabi dianggap terlalu mudah menyerukan takfir, yakni memvonis sesama Muslim yang mereka tuduh sebagai sesat dan melanggar hukum Islam, sebagai kafir.

Kesepakatan bin Saud untuk melakukan jihad guna menyebarkan ajaran Ibn Abdul Wahhab lebih berkaitan dengan praktik penyerbuan tradisional Najd – “perjuangan naluriah untuk bertahan hidup dan nafsu untuk mencari keuntungan” – ketimbang motivasi agama;

Wahhabi tidak memiliki hubungan dengan gerakan kebangkitan Islam lainnya; Tidak seperti tokoh pembaharu lainnya, pendirinya Abd ul-Wahhab menunjukkan sedikit kecakapan intelektual – sedikit menulis dan bahkan jarang membuat essai;

Penentang awal
Orang pertama yang menentang Muhammad bin Abdul Wahhab adalah ayahnya sendiri, Abdul Wahhab, dan saudaranya Salman bin Abdul Wahhab yang adalah seorang cendekiawan dan qadi terkemuka. Saudara laki-laki Ibn Abd al-Wahhab menulis sebuah buku untuk menolak ajaran baru saudaranya, yang disebut: “Kata Akhir dari Al Qur’an, Hadis, dan Ucapan cendekiawan tentang aliran Ibn ‘Abd al-Wahhab” juga dikenal sebagai: “Al-Sawa`iq al-Ilahiyya fi Madhhab al-Wahhabiyya” (“Halilintar Ilahi mengenai Aliran Wahhabi”).

Dalam bukunya “Sanggahan terhadap Wahhabisme dalam Sumber Arab, 1745–1932”, Hamadi Redissi memberikan referensi asli tentang deskripsi Wahhabi sebagai sekte yang memecah belah (firqa) dan asing (Khawarij), dalam komunikasi antara ulama Usmani dan Khedive Muhammad Ali. Redissi merinci sanggahan terhadap Wahhabi oleh para cendekiawan (mufti); di antaranya Ahmed Barakat Tandatawin, yang pada tahun 1743 menyebut Wahhabisme sebagai suatu bentuk kebodohan (Jahili atau kejahilan).

Tentangan Syi’ah

Makam Al-Baqi’ yang dipercaya sebagai makam Hasan bin Ali (cucu Muhammad) dan Fatimah (putri Muhammad), dihancurkan oleh wahhabi pada 1926. Pada tahun 1801 dan 1802, golongan Wahhabi Saudi di bawah Abdul-Aziz bin Muhammad menyerang dan merebut kota suci Syiah Karbala dan Najaf di Irak, dan menghancurkan makam Husain bin Ali, cucu Muhammad, dan Ali bin Abu Thalib, menantu Muhammad. Pada tahun 1803 dan 1804 orang-orang Saudi merebut Makkah dan Madinah dan menghancurkan berbagai makam Ahlul Bait dan para Sahabat, monumen kuno, situs dan reruntuhan Islam. Menurut Wahhabi, mereka “menghapus sejumlah dari apa yang mereka pandang sebagai sumber atau gerbang menuju perbuatan syirik – seperti makam Fatimah, putri Muhammad. Pada tahun 1998 orang Saudi membuldozer dan menuangkan bensin ke atas makam Aminah binti Wahab, ibunda Muhammad. Hal ini menuai kemarahan di seluruh Dunia Islam.

Tentangan Sunni
Wahhabisme telah dikritik keras oleh banyak kalangan Muslim Sunni arus utama dan terus dikecam oleh banyak cendekiawan Sunni terkemuka tradisional karena dianggap bid’ah, “sesat dan mendorong tindakan kekerasan” dalam Islam Sunni. Di antara organisasi Sunni tradisional dunia yang menentang ideologi Wahhabi adalah Al-Azhar di Kairo, anggota fakultasnya yang secara konsisten mencela Wahhabisme dengan istilah seperti “ajaran setan.” Mengenai Wahhabisme, cendekiawan dan intelektual Sunni Al-Azhar yang terkenal, Muhammad Abu Zahra berkata: “Wahhabi melebih-lebihkan (dan merusak) pernyataan Ibnu Taimiyah … Kaum Wahhabi tidak menahan diri hanya melakukan dakwah penyebaran agama, tapi secara memaksa juga melakukan penghinaan terhadap siapapun yang tidak setuju dengan mereka dengan alasan bahwa mereka melawan bid`ah, dan perbuatan bid’ah adalah kejahatan yang harus diperangi … Kapanpun mereka bisa merebut kota, mereka akan datang ke makam dan mengubahnya menjadi reruntuhan dan kehancuran… Kebrutalan mereka tidak berhenti di situ, tapi juga muncul ke kuburan siapa pun dan menghancurkannya juga. Dan ketika penguasa daerah Hijaz menyerah kepada mereka, mereka menghancurkan semua kuburan para Sahabat dan membakarnya sampai rata dengan tanah… Sebenarnya, telah diketahui bahwa Ulama kaum Wahhabi menganggap pendapat mereka sendiri benar dan tidak mungkin salah, sementara mereka menganggap pendapat orang lain salah dan tidak mungkin benar. Lebih dari itu, mereka menganggap apa yang orang lain lakukan; mendirikan makam dan mengelilinginya, sebagai perbuatan yang mendekati penyembahan berhala… Dalam hal ini perbuatan mereka sangat dekat dengan kaum Khawarij, yang biasa menyatakan orang-orang yang tidak setuju dengan mereka sebagai murtad dan memerangi mereka seperti yang telah kita sebutkan.”

Penghancuran situs bersejarah Islam
Ajaran Wahhabi menentang “pemuliaan terhadap situs-situs bersejarah yang terkait dengan awal ajaran Islam”, dengan alasan bahwa “hanya Allah yang patut disembah” dan “penghormatan terhadap situs-situs yang terkait dengan manusia menyebabkan “syirik” .

Akan tetapi, kritikus menunjukkan bahwa sesungguhnya dalam ziarah kubur, tidak ada Muslim yang memuja bangunan atau makam tersebut, dan melakukan perbuatan syirik. Orang-orang Muslim yang menziarahi makam Ahlul Bait atau Sahabat masih berdoa kepada Allah semata sambil mengingat sahabat dan keluarga Nabi. Banyak bangunan yang terkait dengan sejarah Islam awal, termasuk berbagai makam seperti Makam Al-Baqi dan artefak lainnya di Arab Saudi, telah dihancurkan oleh kaum wahhabi sejak awal abad-19 sampai kini. Praktik penghancuran makam yang kontroversial ini telah menuai banyak kritikan dari Muslim Sunni lain, golongan Sufi, Syi’ah, serta dunia internasional.

Ironisnya, meski wahhabi menghancurkan banyak situs Islam, situs non-Islam, dan situs bersejarah terkait Muslim awal; keluarga keluarga Nabi dan Sahabat Nabi, serta menerapkan larangan keras untuk menziarahi situs-situs tersebut, pemerintah Saudi malah merenovasi makam Muhammad ibn Abd al-Wahhab dan mengubah tempat kelahirannya menjadi tempat ziarah utama di kerajaan Saudi.


Pada tulisan yang di muat oleh Wikipedia di atas, intinya Salafi atau Wahabi ini mendapatkan penentangan dari berbagai kalangan dunia, seperti dari aliran-aliran Islam yaitu Syiah, Sufi, bahkan termasuk dari kalangan Sunni sendiri. Alasannya, karena Ibn Abdul Wahhab dan Ibn Saud menghancurkan makam Baqi, yaitu makam para sahabat nabi.

Tidak sampai disitu, kedua tokoh tersebut bahkan juga menghancurkan tempat-tempat dimana sumber kesyirikan berada, tempat-tempat penyembahan berhala, yang mana makam juga termasuk di dalamnya, yang banyak orang beranggapan bahwa ada keutamaan-keutamaan makam baqi jika bertawassul disana.

Alasan Wahabi Menghancurkan Makam Baqi (Makam Para Sahabat Nabi)

Sekarang, kita akan masuk ke inti pembahasan. Mengapa kedua tokoh Wahabi di atas berani menghancurkan makam Baqi, yaitu tempat dimana para sahabat nabi bersemayam di peristirahatan terakhirnya. Padahal para sahabat telah bersama-sama memperjuangkan Islam dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam?

Sebelum itu, mari kita lihat foto kondisi makam Al-baqi sebelum Ibn Abdul Wahhab dan Ibn Saud menghancurkan makam itu. Ini adalah fotonya:

Foto-foto makam baqi sebelum dihancurkan (Tempo Dulu)

Makam Al-Baqi
Bangunan-bangunan yang di beri nomor 1 s/d 7 diatas adalah bangunan Makam Baqi sebelum di hancurkan, bangunan ini masih ada sampai awal abad ke-19, namun pada saat itulah Ibn Abdul Wahhab dan Ibn Saud menghancurkan bangunan ini, sehingga saat ini kondisi makam Baqi sampai sekarang menjadi seperti pada foto dibawah ini:

Jadi, kenapa kedua tokoh Wahabi diatas menghancurkan makam Baqi? Alasannya tak lain adalah karena Allah subhanahu wa ta’ala dan rasulnya sendiri melarang kita umat muslim untuk membangun makam. Bahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk meratakan kuburan. Berikut adalah hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang kita membangun makam, bahkan kita dilarang menaruh nisan dengan tulisan di atasnya:

Imam Muslim Rahimauhullah meriwayatkan dari hadits Jabir Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata.

نَهَى رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – أن يُجَصَّصَ القَبْرُ، وأنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ، وَأنْ يُبْنَى عَلَيْهِ.

Artinya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk memagari kuburan, duduk-duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya”

At Tirmidzi dan ulama hadits yang lain juga meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang shahih, namun dengan lafadz tambahan:

وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهِ

“dan (juga dilarang) ditulisi”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda.

لَعَنَ اللَّهُ اليَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Artinya: “Allah melaknat kaum Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kuburan-kuburan para nabi mereka sebagai masjid-masjid”.

– Disepakati keshahihannya : Al-Bukhari dalam Al-Janaiz (1330), Muslim dalam Al-Masajid (529)

Tidak boleh pula menjadikan kuburan sebagai masjid (tempat ibadah), tidak boleh pula menaunginya, ataupun membuat kubah di atasnya (pada foto pertama sebelum di hancurkan, kuburan berada dalam sebuah bangunan dan berkubah yang di haramkan dalam Islam). Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam :

لَعَنَ اللهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Artinya: “Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah)

– Muttafaqun ‘alaihi

 

Juga berdasarkan hadits riwayat Muslim dalam Shahih-nya dari sahabat Jundub bin Abdillah Al Bajali radhiallahu’anhu, beliau berkata, Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika lima hari sebelum hari beliau meninggal, beliau bersabda :

إِنَّ اللهَ قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيْلاً كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيْلاً لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلاً، أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ، فَإِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil (kekasih)-Nya sebagaimana Ia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Seandainya aku menjadikan seseorang dari umatku sebagai kekasihku, maka aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku. Ketahuilah bahwa orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan para Nabi dan orang shalih diantara mereka sebagai tempat ibadah. Ketahuilah, janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid (tempat ibadah), karena sungguh aku melarang kalian melakukan hal itu

Kemudian hadits lain:

عَنْ أَبِى الْهَيَّاجِ الأَسَدِىِّ قَالَ قَالَ لِى عَلِىُّ بْنُ أَبِى طَالِبٍ أَلاَّ أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِى عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ لاَ تَدَعَ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ

Artinya: Dari Abul Hayyaj Al Asadi, ia berkata, “‘Ali bin Abi Tholib berkata kepadaku, “Sungguh aku mengutusmu dengan sesuatu yang Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah mengutusku dengan perintah tersebut. Yaitu jangan engkau biarkan patung (gambar) melainkan engkau musnahkan dan jangan biarkan kubur tinggi dari tanah melainkan engkau ratakan.”

– HR. Muslim no. 969

 

عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

Artinya: Dari Jabir, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memberi semen pada kubur, duduk di atas kubur dan memberi bangunan di atas kubur.”

– HR. Muslim no. 970

Dan perkataan Ali bin Abi Thalib:

عَنْ أَبِى الْهَيَّاجِ الأَسَدِىِّ قَالَ قَالَ لِى عَلِىُّ بْنُ أَبِى طَالِبٍ أَلاَّ أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِى عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ لاَ تَدَعَ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ

Artinya:
“Dari Abul Hayyaj Al Asadi, ia berkata, “‘Ali bin Abi Tholib berkata kepadaku, “Sungguh aku mengutusmu dengan sesuatu yang Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah mengutusku dengan perintah tersebut. Yaitu jangan engkau biarkan patung (gambar) melainkan engkau musnahkan dan jangan biarkan kubur tinggi dari tanah melainkan engkau ratakan.”

– HR. Muslim no. 969

Perlu anda ketahui, bahwa agama ini dibangun di atas dalil (Alquran dan hadits shahih), bukan dibangun di atas akal, pikiran, perasaan dan ego manusia. Maka setiap hal yang berkaitan dengan agama harus ada landasan dalilnya. Barang siapa bertindak di atas Kalallahu dan Kalarasul (Allah berfirman dan Rasulullah bersabda) yaitu Al-quran dan Hadits maka itulah yang benar, itulah yang haq.

Sekarang, anda bisa menilai sendiri, mana yang haq dan mana pula yang batil. Apakah membangun makam adalah sesuatu yang haq atau batil? Ataukah menghancurkannya merupakan sesuatu yang haq atau yang batil?

Maka, tentulah bagi manusia yang beriman, bertakwa kepada Allah dan rasulnya, fanatik kepada Allah dan bukan kepada golongannya (kelompok/aliran/organisasi/partai), beragama sesuai Alquran dan Assunnah, mengedepankan dalil ketimbang akal, perasaan, ego, dan tradisi tentulah akan mengetahui mana yang haq. Tentu saja yang sesuai dengan Alquran dan hadits, yaitu perlakuan Wahabi-lah yang benar yang telah menghancurkan makam Baqi dan meratakan bangunannya dengan tanah sesuai sabda Rasulullah di atas (memiliki dalil). Sementara para ulama yang menentang penghancurannya (Syiah, Sufi, dll) adalah batil lantaran tidak sesuai dengan dalil.

Sekali lagi, agama ini di bangun di atas petunjuk Al-quran, di contohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan dijelaskan dengan hadits yang menjelaskan (Al-quran). Barang siapa bertindak di atas Al-quran dan Hadits, maka dialah yang haq (yang benar). Karena tidak semua yang akalmu pikirkan adalah benar, dan kebenaran yang mutlak hanya datang dari sang khaliq. Akalmu (yang dipengaruhi setan) mungkin menganggap sesuatu itu benar (seperti membangun kubur), namun bisa jadi Allah yang maha benar menganggapnya sebagai hal yang batil.

Lantas bagaimana dengan makam Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang berada dalam rumahnya, berada di dalam masjid Nabawi di Madinah? Mengapa Wahabi tidak menghancurkan bangunannya? Itu karena makam nabi berbeda dengan makam manusia biasa, makam nabi memiliki kekhususan sebagaimana hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

لَمَّا قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اخْتَلَفُوا فِي دَفْنِهِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا مَا نَسِيتُهُ قَالَ مَا قَبَضَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا فِي الْمَوْضِعِ الَّذِي يَجِبُ أَنْ يُدْفَنَ فِيهِ فَدَفَنُوْهُ فِي مَوْضِعِ فِرَاشِهِ (رواه الترمذي)

Artinya: Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, para sahabat berselisih pendapat dalam masalah tempat untuk mengubur Beliau. Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu berkata,”Saya mendengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuatu yang aku belum lupa. Beliau bersabda,’Tidaklah Allah mewafatkan seorang Nabi, kecuali di tempat tersebut wajib untuk dikubur’.” Kemudian mereka mengubur Beliau di tempat tidurnya.

– HR At Tirmidzi

 

Itulah mengapa makam Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sampai dikubur di dalam bangunan (yaitu bangunan rumahnya). Karena beliau wafat dalam rumah Ibunda Aisyah Radiyallahuanha tersebut, maka Allah memerintahkan agar Rasulullah (dan seluruh nabi-nabi sebelumnya) untuk di makamkan dimana mereka wafat.

 

Wahabi di Indonesia

Setelah kita membahas mengenai Wahabi di tanah arab, mari kita sejenak kembali ke dalam negeri. Membahas sedikit mengenai Salafi / Wahabi di Indonesia. Ada sesuatu yang menarik di sini, karena founding father Indonesia, yaitu presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno pernah menyampaikan sesuatu mengenai paham ini. Apa kata beliau? Berikut tulisannya yang terukir dalam bukunya yang berjudul Dibawah Bendera Revolusi” (Kumpulan tulisan dan pidato-pidato) jilid pertama, cetakan kedua, tahun 1963. halaman 390:


“Tjobalah pembatja renungkan sebentar “padang-pasir” dan “wahabisme” itu. Kita mengetahui djasa Wahabisme jang terbesar: ia punja kemurnian, ia punja keaslian, – murni dan asli sebagai udara padang- pasir, kembali kepada asal, kembali kepada Allah dan Nabi, kembali kepada islam dizamanja Muhammad!” Kembali kepada kemurnian, tatkala Islam belum dihinggapi kekotorannya seribu satu tahajul dan seribu satu bid’ah. Lemparkanlah djauh-djauh tahajul dan bid’ah itu, tjauhkanlah segala barang sesuatu jang membawa kemusjrikan!”

— Ir. Soekarno, “Dibawah Bendera Revolusi” (Kumpulan tulisan dan pidato-pidato) jilid pertama, cetakan kedua, tahun 1963. halaman 390.


Dari tulisannya di atas, yang memuji paham Wahabi, Ir. Soekarno mengatakan bahwa Wahabi memiliki jasa yang sangat besar dalam menjaga kemurnian Islam, mempertahankan keaslian syariat Allah subhanahu wa ta’ala yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Ir. Soekarno dalam tulisannya di atas menganggap tahayul dan bid’ah itu sebagai kotoran yang membawa umat muslim kepada kemusyrikan. Lantas apakah Ir. Soekarno juga adalah seorang Wahabi? Wallahualam… Yang jelas, Wahabi adalah paham yang berada di jalur yang benar menurut beliau, dan aqidah Salaf ini memiliki jasa yang besar dalam menginspirasi perjuangan-perjuangan kemerdekaan di Indonesia, India, dan berbagai belahan dunia lainnya yang terjajah.

Sekian artikel ini. Semoga dengan diterbitkannya artikel ini bisa membuka wawasan kita, meningkatkan keimanan kita, memantapkan aqidah kita, dan membawa hidayah bagi orang-orang yang menyesatkan aqidah ini, yaitu aqidah yang menjalankan syariat Islam dengan murni berdasarkan Alquran dan Assunnah dengan pemahaman para salafhus shalih, dengan bertauhid menuhankan Allah secara murni.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

One thought on “Mengapa Wahabi & Arab Saudi Menghancurkan Makam Jannatul Baqi (Kuburan Para Sahabat)

  • Wahabi October 1, 2021 at 11:59 am
    Reply

    Itulah kenapa di indonesia sangat bertolak belakang,mereka seakan2 menolak hadits nabi yang melarang menembok kuburan,kebanyakan kaum muslim indonesia memperindah kuburan2,meninggikannya…..apakah tidak sampai dalil dari para ustad atau kiayi kepada mereka,atau mereka membangkang?

Leave a Reply

Your email address will not be published.*
*
*