Assunnah.ID

Media beramal jariyah dengan dakwah sunnah

Ahlus Sunnah itu Berpegang Teguh Pada Sunnah, Bukan Pada Tradisi!

Posted on

Orang yang berpegang teguh di atas Sunnah dan memegangnya meski dengan “gigi gerahamnya” niscaya ia akan dibenci oleh umatnya sendiri. Barang siapa menggenggam Sunnah meski dengan gigi gerahamnya bagaikan ia sedang menggenggam bara api di tangannya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Artinya:
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”

– HR. At Tirmidzi no. 2676 (Hasan-sahih)

Apa itu Ahlus Sunnah?
Perhatikan, Apa itu Ahlus Sunnah? Ahlus Sunnah adalah “orang-orang yang berupaya menegakkan sunnah, dan berusaha menerapkan sunnah pada dirinya di dalam kehidupan sehari-harinya, meski itu sulit”.

Siapa itu Ahlus Sunnah?
Ia adalah orang yang menegakkan sunnah. Seperti mengenakan celana cingkrang, jenggot, cadar, dll, meninggalkan musik, meninggalkan Avatar Facebook/lukisan/gambar makhluk berjiwa, menghancurkan foto-foto yang terpajang di dinding rumahnya, meratakan kubur keluarganya dan tidak mencoreti(nisan)nya. Intinya, segala aspek pada dirinya ia berupaya mencontohi dan “harus sesuai tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam”. Yang ada tuntunannya (dalam perkara agama/ibadah), kerjakan. Jika tidak ada, maka ia tinggalkan.

Namun perhatikan… perhatikan ya… di zaman sekarang ini, mereka yang mengklaim dirinya Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja) justru tidak memiliki jenggot, celana dibawah mata kaki, tidak bercadar, memasang headset di telinga, memposting Avatar Facebook, memajang foto di rumah, menabur kembang dan menyiram air di atas kubur, dll.

Lebih parah lagi karena sebagian dari mereka meski enggan menerapkan sunnah, mereka justru menghina orang-orang yang menerapkan sunnah dalam kehidupannya. Di zaman sekarang ini, orang-orang yang menerapkan sunnah kebanyakan disebut sebagai teroris atau ekstrimis. Bahkan kebebasan mereka dalam beragama di kebiri. Pernah kalian mendengar ada peserta MTQ yang di diskualifikasi hanya karena enggan melepas cadar? Saya ber-husnudzon saja, para panitia dan Kementerian Agama negara ini mungkin sedang lupa dengan sila pertama Pancasila, yaitu “Ketuhanan yang Maha Esa” yang membebaskan setiap warga negara untuk menjalankan syariat agamanya. Entahlah, apakah mereka mengkebiri kebebasan beragama umat Islam, atau mengkebiri praktik Pancasila sila pertama.

Back to topic, ironisnya mereka-mereka yang mengaku ahlus sunnah (padahal jauh dari sunnah) ini malah menyesatkan orang-orang yang berupaya menerapkan sunnah dengan mengenakan celana cingkrang, berjenggot, mengharamkan musik, dan tidak menabur kembang di atas kubur. Apalagi jika ada orang yang berinkar-munkar dengan menasehati kelompok-kelompok lain yang mengaku Aswaja ini, maka siap-siaplah menerima cerca’an dan fitnah yang keji.

Aneh memang, melihat orang-orang yang mengaku sebagai Ahlus Sunnah tapi mereka sendiri tidak berpegang teguh pada sunnah, tidak menerapkan sunnah dengan sungguh-sungguh dalam kehidupan mereka. Lebih aneh lagi melihat mereka ternyata malah berpegang teguh pada tradisi-tradisi nenek moyang/pendahulu mereka (syukuran, selametan, kenduri, wirid, syukuran laut, dll), tapi masih tetap ingin disebut sebagai Ahlus sunnah. Dan super anehnya, saat mereka menghina dan memfitnah orang-orang dan ulama-ulama yang mengajak umat kembali kepada Assunnah, mengajak umat kembali pada kemurnian Islam.

Sementara para Ahlus sunnah yang benar-benar menegakkan sunnah, harus bersabar dengan teguh dari cercaan dan fitnah keji itu. Itulah kenapa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

Artinya:
“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”

– HR. Tirmidzi no. 2260

Inilah zamannya, sekaranglah zamannya, dan inilah kondisi di zaman ini. Ya Allah yang maha membolak-balikkan hati, jagalah saya dan kami, teguhkanlah hati kami agar selalu berpegang teguh pada sunnah-mu ini agar bisa tetap istiqomah di jalanmu tak perduli seberapa berat pun cobaan dan rintangannya.

Note:
Bukan maksud hati ingin menghapus tradisi Indonesia. Tapi jika tradisi itu bertentangan dengan syariat Islam (kebaya, tari-tarian, baju adat yang membuka aurat, upacara yang menggabungkan tradisi dengan syariat, dll) maka tinggalkanlah tradisi jahiliyah itu. Sementara tradisi yang tidak berseberangan dengan syariat Islam, kamu tetap bisa mempertahankannya (seperti batik, dan sebagainya).

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Leave a Reply

Your email address will not be published.*
*
*