Assunnah.ID

Media beramal jariyah dengan dakwah sunnah

Membantah Syubhat Para Ahlul Bid’ah Tentang “Bid’ah Hasanah” yang Berlandaskan HR. Muslim no 1017

Posted on

Ada banyak umat Islam yang berpandangan bahwa bid’ah itu terbagi menjadi dua, yaitu bid’ah yang baik (hasanah) dan bid’ah yang buruk (dhalalah). Bukan tidak punya dalil, namun biasanya mereka menggunakan dalil-dalil yang tidak tepat untuk membenarkan perkara-perkara bid’ah yang sering mereka kerjakan, dan melupakan perkara yang sunnah. Salah satunya adalah hadits riwayat Muslim nomor 1017 dibawah.

Diriwayatkan oleh sahabat Jarir bin Abdillah al-Bajali radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

Artinya:
“Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”.

– HR. Muslim no 1017

Melihat asbabun wurud hadits di atas, mereka berpandangan bahwa para tokoh-tokoh yang terlibat bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam kejadian itu, salah seorang sahabat menghidupkan bid’ah, dan Rasulullah tidak menentangnya. Yang menandakan berarti bahwa memang benar ada bid’ah yang baik (Hasanah). Namun apakah benar demikian? Mari kita lihat potongan sirah nabawiyah pada kejadian yang menjadi penyebab keluarnya hadits tersebut.

Asbabun Wurud Hadits Riwayat Muslim Nomor 1017

Hadits tersebut turun saat sekelompok suku Mudhor yang sangat miskin datang ke Madinah. Saking miskinnya aurat mereka mudah tersingkap diterpa angin karena hanya berpakaian bulu domba yang bergaris-garis dan robek. Dibawah ini adalah riwayat yang lebih jelasnya:

Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu berkata,

كنا في صَدْرِ النَّهَارِ عِنْدَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – فَجَاءهُ قَومٌ عُرَاةٌ مُجْتَابي النِّمَار أَوْ العَبَاء ، مُتَقَلِّدِي السُّيُوف ، عَامَّتُهُمْ من مضر بَلْ كُلُّهُمْ مِنْ مُضَرَ ، فَتَمَعَّرَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – لما رَأَى بِهِمْ مِنَ الفَاقَة، فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ ، فَأَمَرَ بِلالاً فَأَذَّنَ وَأَقَامَ ، فصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ ، فَقَالَ : { يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ } إِلَى آخر الآية : { إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً } ، والآية الأُخْرَى التي في آخر الحَشْرِ : { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ }  تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ، مِنْ دِرهمِهِ، مِنْ ثَوبِهِ ، مِنْ صَاعِ بُرِّهِ ، مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ – حَتَّى قَالَ – وَلَوْ بِشقِّ تَمرَةٍ )) فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعجَزُ عَنهَا، بَلْ قَدْ عَجَزَتْ، ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى رَأيْتُ كَومَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَثِيَابٍ ، حَتَّى رَأيْتُ وَجْهَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – يَتَهَلَّلُ كَأنَّهُ مُذْهَبَةٌ. فَقَالَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم -: ((مَنْ سَنَّ في الإسلامِ سنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أجْرُهَا، وَأجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ،مِنْ غَيرِ أنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورهمْ شَيءٌ، وَمَنْ سَنَّ في الإسْلامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيهِ وِزْرُهَا ، وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ ، مِنْ غَيرِ أنْ يَنْقُصَ مِنْ أوْزَارِهمْ شَيءٌ ))

Artinya:
“Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal siang, lalu datanglah sekelompok orang yang setengah telanjang dalam kondisi pakaian dari bulu domba yang bergaris-garis dan robek, sambil membawa pedang. Mayoritas mereka dari suku Mudhor, bahkan seluruhnya dari Mudhor. Maka tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kondisi mereka yang miskin, berubahlah raut wajah Nabi. Nabipun masuk dan keluar, lalu memerintahkan Bilal untuk adzan dan iqomat, lalu beliapun sholat, lalu berdiri berkhutbah. Beliau berkata, “Wahai manusia, bertakwalah kepada Rob kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa” hingga akhir ayat tersebut “Sesungguhnya Allah Maha Mengawasi kalian”. Lalu membaca ayat yang lain di akhir surat al-Hasyr “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaknya sebuah jiwa melihat apa yang telah ia kerjakan untuk esok hari”.

Hendaknya seseorang mensedekahkan dari dinarnya, atau dari dirhamnya, dari bajunya, dari gandumnya, dari kormanya…-hingga Nabi berkata- meskipun bersedekah dengan sepenggal butir korma”

Lalu datanglah seorang lelaki dari kaum anshor dengan membawa sebuah kantong yang hampir-hampir tangannya tidak kuat untuk mengangkat kantong tersebut, bahkan memang tidak kuat. Lalu setelah itu orang-orangpun ikut bersedekah, hingga aku melihat dua kantong besar makanan dan pakaian, hingga aku melihat wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersinar berseri-seri. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

“Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun” (HR Muslim)

Sekarang perhatikan, perintah untuk bersedekah sudah turun atau belum saat itu? Sudah! Bahkan perintah sedekah sudah ada sejak zaman nabi Adam Alaihissalam. Jadi, syariat sedekah sudah diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Jadi hujjah mereka yang mengadakan bid’ah hasanah dengan berlandaskan dalil HR. Muslim nomor 1017 terpatahkan jika melihat asbabun wurud hadits tersebut. Karena perintah sedekah sudah sejak lama turun.

Sementara maksud dari Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam mengeluarkan hadits di atas adalah: Jika seseorang memulai perbuatan baik yang sudah ada dalam syariat, kemudian di ikuti oleh orang lain. Maka pahala yang sama untukmu. Kenapa? Karena coba perhatikan kalimat ini:

“Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam SUNNAH (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut

Perhatikan kata SUNNAH bercetak kapital tebal itu, ditulis dengan “SUNNAH“. Pada masa itu, suatu perkara masuk ke dalam hukum Sunnah karna perkara itu sudah di syariatkan/ditetapkan hukumnya oleh Allah subhanahu wa ta’ala (sudah turun wahyu terkait perkara tsb). Sementara jika belum di syariatkan, maka perkara tersebut termasuk mubah. Suatu hal masuk ke hukum HARAM karena sudah turun wahyu menentukan hukumnya. Kalo belum ada turun wahyu, masuk ke mubah atau halal (jika menyangkut perkara duniawi).

Jika kita tarik contohnya ke era saat ini, misalnya jika kamu ingin mendapatkan pahala yang sama seperti laki-laki dari Anshor yang pertama kali bersedekah di atas, maka kamu bisa hidupkan sholat sunnah kobliyah Magrib, atau sholat shunnah Rawatib, sholat sunnah Bakdiyah Isya dan Zuhur yang sekarang sudah di tinggalkan umat. Hal ini sah-sah saja dilakukan karena syariat sholat-sholat sunnah tersebut memang telah di syariatkan. Jadi, jika ada orang yang mengikutinya, maka pahala mereka untukmu.

Hal yang sama juga dilakukan Umar Radhiyallahuanhu saat beliau menyatukan beberapa orang yang shalat Tarawih sendiri-sendiri, menjadi berjamaah. Karena saat itu, tarawih berjamaah telah di tinggalkan dan semua orang sholat tarawih sendiri-sendiri (padahal syariat tarawih secara berjamaah sudah ada sejak Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup).

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam Berkata Tidak Ada Pembagian Bid’ah Menjadi Hasanah Dan Dhalalah. Semua Bid’ah Itu Sesat (Mau Baik Ataupun Buruk Menurutmu)

Apa dalilnya? Kalau Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan kalau semua bid’ah itu sesat tanpa terkecuali? Maka seperti inilah bunyinya:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Artinya:
“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, SETIAP (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, SETIAP bid’ah adalah kesesatan”

– HR. Muslim no. 867

Perhatikan hadits di atas, rasululullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengulang-ulang kata “SETIAP” sampai dua kali, menunjukkan ada penekanan di situ. Kata “SETIAP” tidak bisa digunakan jika hanya sebagian bid’ah saja yang sesat. Kata SETIAP itu baru bisa digunakan jika perkara tsb mencakup seluruhnya. Kalau dalam perkara bid’ah ada bid’ah dhalalah dan hasanah, Rasulullah pasti tidak akan menggunakan kata “SETIAP“, melainkan menggunakan kata lain semisal sebagian“, “separuh“, atau “beberapa” bidah adalah kesesatan.

Misal: Dalam 1 ruangan kelas seluruh siswa membawa buku. Maka sang guru bisa berkata “SETIAP siswa di kelasku membawa buku”. Artinya seluruh siswa membawa buku tanpa terkecuali.

Tapi jika ada satu siswa saja yang tidak membawa buku, maka sang guru tidak bisa berkata “SETIAP siswa di kelasku membawa buku”. Melainkan sang guru akan berkata: “kebanyakan / beberapa / sebagian / separuh siswa membawa buku”. Karena jika sang guru tetap ngotot berkata “SETIAP siswa di kelasku membawa buku”, padahal ada 1 siswa yang tidak membawa buku, berarti sang guru telah berbohong.

Sekarang, jika kita tarik contoh kasus guru dan siswa ini ke hadits di atas, bahwa dalam syariat Islam bid’ah terbagi dua yaitu ada bid’ah hasanah dan dhalalah, sementara pada HR. Muslim no 867 di atas Rasulullah bersabda bahwa Setiap bid’ah itu kesesatan, maka itu artinya ada dua kemungkinan:

  1. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah berbohong
  2. Pemahamanmu yang salah terhadap hadits di atas

Kemungkinan pertama jelas bukan pilihan, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang nabi dan rasul Allah yang setiap tindakan dan ucapannya di jaga oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan orang-orang musyrik Quraish dan seluruh orang-orang Mekah pada masa itu menjuluki Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan julukan “Al-Amin”, sebuah gelar bagi Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang disandangkan oleh penduduk Mekkah karena dikenalnya beliau sebagai seorang laki-laki yang penuh amanah, jujur dan dapat dipercaya. Itu artinya tersisa kemungkinan yang kedua: Pemahamanmu yang salah terhadap hadits HR. Muslim no 1017 di atas!

Ketahuilah, rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling fasih/pintar berbahasa arab. Karena bahasa arab dibangun dengan Al-quran sebagai landasan tata bahasanya. Jika di Indonesia ada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) yang menyusun kosa kata Bahasa Indonesia, maka dalam bahasa Arab menggunakan Al-quran sebagai landasan ejaan dan kosa katanya.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Leave a Reply

Your email address will not be published.*
*
*