Assunnah.ID

Media beramal jariyah dengan dakwah sunnah

Kurangnya Kemampuan Umat dalam Menerima Dakwah

Posted on

Saat berdakwah, ada saja orang-orang yang salah memahami maksud dari dakwah itu. Bukan hanya orang yang berseberangan dengan dakwahnya, tapi juga orang yang mengikuti sebuah dakwah. Meskipun orang yang berseberangan (yang gagal paham) biasanya lebih berbahaya karena pikirannya telah bercampur dengan ego, benci, nafsu dan bisikan setan. Maka pemikirannya pun berdasarkan hawa nafsu, dan tak jarang malah dengan sengaja memplesetkan penyampaian ulama yang ia tidak suka.

Resikonya adalah: sebuah dakwah mungkin bisa diterima oleh masyarakat, bisa di tolak, dan yang lebih parahnya ulama/ustadz-nya bisa di usir dari sebuah wilayah. Sebenarnya, apa yang jadi masalah dalam perkembangan sebuah dakwah? Bagaimana menilai sebuah dakwah itu benar? Ini adalah sudut pandang pribadi saya.

Kebanyakan orang menilai sebuah dakwah, katakanlah dakwah dari ulama-ulama bermanhaj salaf, penilaian mereka buat berdasarkan dari umat/jamaah/pengikutnya. Pesan saya, lihat atau dengar dulu dakwah orang-orangnya yang berilmu (ulama salafnya), bukan pengikutnya yang dijadikan patokan. Sedangkan saat Rasulullah masih hidup saja ada orang terdekatnya (penulis wahyu) yang melenceng, apalagi sekarang.

Maka Nilai lah sebuah dakwah dari orangnya yang berilmu (ustadznya/ulamanya), lalu nilailah apakah dakwahnya sesuai dengan Al-quran dan hadits. Dan jangan menilai dari jamaahnya. Karena pengikutnya bisa saja gagal paham terhadap dakwah yang disampaikan ulamanya.

Karena ilmu sastra dan / atau bahasa itu lebih rumit dari yang kamu pikirkan. Terlihat gampang, tapi sebenarnya tidak. Kadang orang salah memahami perkataan ulama karena keterbatasannya dalam memahami kosa kata bahasa Indonesia. Bahkan meski kamu orang Indonesia, belum tentu kamu memahami tanda baca, dan pada kondisi apa setiap tanda baca itu digunakan.

Seperti kalimat ini:

Ulama salaf: “Mereka merayakan maulid, padahal itu bid’ah”

Lalu kamu memaknai kalimat diatas seperti ini,

Anda: “Apa maksudmu mem-bid’ah-bid’ah-kan orang?”.

Penjelasan:
Padahal ulama salaf berkata ritual maulid-nya yg bid’ah, bukan kamu manusia nya yang bid’ah.


Atau contoh lain:

Ulama salaf: “Kamu mengucap selamat natal, kamu bisa kafir”

Kamu memandangnya seperti ini,

Anda: “Kamu ini suka sekali mengkafir-kafirkan orang”

Penjelasan:
Maksud ulama salafnya, kamu tidak kafir, tapi kamu beresiko (bisa) jadi kafir. Kalau kamu tau hukum pengucapan selamat natal tapi tetap ngotot ngucapin selamat natal, maka itu kufur. Kenapa kufur? Baca: (Hukum Muslim Mengucapkan Selamat Natal, Mutlak Haram!)


Contoh lainnya lagi

Ulama salaf: “Kamu tiap hari sholat 5 waktu, tapi habis sholat Kamu minta-minta di kuburan wali, Kufur kamu itu. Bisa kekal kamu di neraka”

Kamu memandangnya,

Anda: “Kamu ini suka sekali mengkufur-kufurkan orang, sok jadi ahli surga”

Penjelasan:
“Kamu tiap hari sholat 5 waktu”, Dalam bacaan sholat ada Alfatihah, salah satu ayatnya berbunyi:

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

Artinya: Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

Tapi kamu juga pergi ke kuburan wali minta-minta harta/jodoh (atau apapun) sama wali atau alim ulama yang sudah mati. Dan Allah berfirman orang yg seperti itu dia telah kufur (perlu kamu ketahui, yang berkata orang seperti itu kufur adalah Allah subhanahu wa ta’ala, bukan ulamanya. Ulamanya hanya meyakini firman Allah dan menyampaikannya ke kamu).

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

Artinya: “Dan barangsiapa menyembah ilah yang lain bersama Allah, padahal tidak ada satu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabb-nya. Sesungguhgnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.”

– Al-Mukminuun: 117

Ya, kembali lagi ke QS Alfatihah, meminta itu hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja. Kalau minta ke wali itu syirik akbar dan bisa kufur menurut QS Al mukminun:117.

إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ الدِّينَ. أَلاَ لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

“Sesunguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Quran) kepadamu dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan MEMURNIKAN ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).”

– QS. Az-Zumar: 2–3

Memurnikan maksudnya minta sesuatu, ibadah, bersyukur, semua itu harus kepada Allah saja, dan dengan ikhlas karena Allah. Dan ibadah harus murni seperti apa yang di contohkan Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam. Diluar dari itu (kenduri, wirid, dll) itu bentuk tidak murni (mengotori) dari syariat yg dibawa nabi.

Allahua’lam bishawab…

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Leave a Reply

Your email address will not be published.*
*
*