Assunnah.ID

Media beramal jariyah dengan dakwah sunnah

Mengapa Orang-orang Bermanhaj Salafi “Tampak” Meng-eksklusifkan Diri?

Posted on

Apa maksudnya meng-eksklusif-kan diri? Menurut KBBI, eksklusif adalah “terpisah atau dari yang lain”. Dengan kata lain, meng-eksklusif-kan diri berarti memisahkan diri dari orang lain. Beberapa orang berpandangan kalau orang-orang bermanhaj salaf kebanyakan mengeksklusifkan diri dari orang lain di luar manhaj ini. Namun apakah benar demikian?

Pandangan ini muncul tak lain karena keinginan orang-orang bermanhaj ini untuk sebisa mungkin bertindak dan hidup sesuai aturan yang ditentukan dalam Al-quran dan Assunnah. Sebisa mungkin mereka akan mengikuti panduan yang diberikan oleh Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Seperti misalnya, orang-orang bermanhaj salafi yang kebanyakan jarang sekali keluar rumah, terutama perempuan-perempuannya. Sekalipun keluar, biasanya mereka hanya berkumpul dengan orang-orang sholeh saja, tidak dengan orang dalam kelompok lain.

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, bahwa tindakan dan gerak-gerik orang-orang bermanhaj salafi seperti itu tak lain karena mengikuti sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Seperti misalnya, perempuan-perempuan bermanhaj salafi yang jarang keluar rumah, hal ini sudah di atur oleh syariat kita. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً

Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

– Al Ahzab: 33

 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

اَلْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ.

Artinya: “Wanita adalah aurat. Apabila ia keluar, syaitan akan menghiasinya dari pandangan laki-laki.”

– HR At-Tirmidzi (no. 1173), dari Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu.

Dalam syariat Islam, seorang istri memang tidak diperbolehkan keluar rumah kecuali dengan seizin suaminya. Bahkan untuk sholat saja, di rumah itu lebih afdhol dari pada di masjid bagi para wanita. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ

Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah diam di rumah-rumah mereka.”

– HR. Ahmad 6/297

Selain itu, orang-orang bermanhaj ini biasanya juga membatasi pergaulan  hanya kepada orang-orang sholeh saja, orang yang aqidahnya jelas. Karena mereka khawatir masuk ke dalam perilaku buruk masyarakat. Karena bergaul dengan orang yang salah, maka akan membawa kita ke dalam kesalahan juga. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Artinya: “Seseorang itu mengikuti din (agama; tabiat; akhlaq) kawan dekatnya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan kawan dekat.

– HR. Abu Dâwud, no.4833;Tirmidzi, no.2378

Karena kita yang sekarang dipengaruhi lingkungan. Maka bercampur dengan orang-orang yang membawa syubhat akan membuat kita masuk dalam syubhat itu. Masalahnya adalah, kita tidak hidup di Mekkah atau Madinah yang kebanyakan masyarakatnya masih menjaga kemurnian Islamnya. Kita hidup di Indonesia, negara yang penuh dengan syubhat, syirik, bid’ah dan khurafat.

Jika kamu bertanya bagaimana dengan pandangan masyarakat sekitar yang tinggal di sekitar kita, dalam memandang keluarga orang-orang bermanhaj salafi yang ‘tampak’ mengeksklusifkan diri? Padahal mereka tidak mengetahui tentang ilmu agama. Maka jawabannya adalah, itu pilihan mereka yang tidak mau mempelajari agama mereka. Kalau orang yang mentadaburi Alquran dan assunnah, mereka tidak perduli bagaimana lingkungan memandang mereka. Mereka lebih perduli bagaimana Allah memandang mereka. Karena jika kita mendengarkan apa yang orang lain ucapkan, maka kita malah akan terbawa ke arah yang tidak sesuai dengan Al-quran dan Assunnah.

Kalau kita hidup dengan memikirkan “bagaimana pandangan masyarakat sekitar”, maka kita akan terbawa arus mereka. Misal, Mereka menggosip “si Anu nikah gk pesta”, ehh… kita terpengaruh dan bikin acara keyboard-an atau apalah secara terpaksa.

Lagi pula, kalau ngikut masyarakat itu serba salah. Misalnya ada orang yang menikah. Kalau tidak pesta bisa kena ghibah (pelit lah, ini lah itulah). Kalau pesta pun terkena ghibah juga (makanannya gak enak lah, begini dan begitulah).

Lalu si Fulan belum nikah kena ghibah, mereka berkata “ihh…udah usia 30 belum nikah“. Ehh… sekalinya nikah terkena ghibah juga “idiihhh… istrinya kok jelek amat yaa…”.

Itulah mudharat hidup dengan memikirkan “bagaimana pandangan masyarakat terhadap diri kita”. Karena yg terpenting adalah “bagaimana Allah memandang kita”.

Selain itu, orang-orang bermanhaj salafi mungkin cenderung lebih tenang dalam pembawaan, pendiam dan menutup diri. Ini tak lain karena sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ

Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka mengasingkan diri,

– HR. Muslim, no. 2965

Dengan mengasingkan diri, amalan kita tidak banyak yang diketahui orang. Hanya menjadi rahasia antara kita dengan Allah saja. Kita juga bisa menjauh dari syubhat yang banyak di tengah-tengah masyarakat.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Leave a Reply

Your email address will not be published.*
*
*