Assunnah.ID

Media beramal jariyah dengan dakwah sunnah

Fenomena “Hantu” dalam Pemahaman Islam! Siapakah Iblis, Setan, dan Jin Itu?

Posted on

Pertanyaan:
Apakah Allah itu tidak adil? Karena iblis melakukan 1 kesalahan (tidak sujud pada nabi Adam saja) tapi Ia langsung ditetapkan di neraka, sedangkan manusia punya banyak kesalahan tapi tetap memiliki harapan bisa masuk surga asal bertobat.

Jawaban:
Allah itu maha adil, bukan hanya manusia, iblis pun kalau tobat ya di ampuni juga karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala maha pengampun.

Pertanyaannya, apakah iblis mau bertobat? Allah maha tahu, maka Allah pun mengetahui bahwa sampai kiamat Iblis tak akan bertaubat. Sama seperti Abu Lahab yang tak beriman sampai akhir hayat, dan Allah maha mengetahui sehingga Ia kekalkan dalam Alquran. Padahal, Abu Lahab hanya tinggal beriman saja kepada Allah dan rasulnya untuk membuat Alquran itu salah. Tapi Allah maha mengetahui segalanya, dan ia tidak beriman sampai akhir hayat.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ﴿١﴾مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ﴿٢﴾سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaidah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.” [al-Lahab/al-Masad/111:1-3].

Kesalahpahaman Tentang Makhluk Halus

Untuk diketahui ya, ada banyak kesalahpahaman dalam pemikiran muslim mengenai makhluk halus yang hidup berdampingan dengan kita.

Pertama, hantu itu tidak ada. Tidak ada orang yang mati, terus jadi hantu atau setan gentayangan. Orang yang mati akan langsung masuk ke Alam barzah. Ruh nya di dalam genggaman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (di alam kubur). Ia tidak punya waktu untuk bergentayangan di alam manusia karena ia sedang di azab oleh malaikat (bagi pelaku maksiat), dan atau sedang menikmati taman dari taman surga yang membentang di alam kuburnya (jika ia seorang mukmin).

Allah Ta’ala berfirman,

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya. Maka Dia menahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (QS. Az-Zumar [39]: 42)

Dan ruh manusia itu tidak berhubungan dengan dunia manusia sampai kiamat. Jangankan berhubungan, mendengar suara dari dunia manusia saja tidak bisa (kecuali sesaat setelah baru di kubur) . So, kamu yang minta2 jodoh dan harta di kuburan, itu adalah kejahilan dan kesyirikan, gk bakal mampu mayat yang ada dalam kubur itu mendengarnya, apalagi mewujudkannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

“Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu ; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang maha Mengetahui”. [Fathir/35 : 14]

Begitu juga firmanNya Subhanahu wa Ta’ala.

وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ

“Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar”. [Fathir /35: 22]

Lalu siapa yang sering muncul menghantui manusia?

Pertama perlu kita uraikan dulu istilah2 makhluk halus.

Siapa itu Jin?

Diluar hewan (saya tidak punya ilmu kapan hewan di ciptakan), Jin adalah makhluk kedua yang Allah ciptakan setelah Malaikat. Urutannya, Allah menciptakan Malaikat, Jin lalu Manusia. Malaikat itu tidak punya kehendak bebas, mereka akan patuh terhadap apa yang di perintahkan tuhannya.

Jin dan manusia berbeda, keduanya sama2 memiliki kehendak bebas. Bisa patuh bisa juga membangkang. Jin yang patuh kepada Allah adalah Jin Muslim, beriman kepada Allah dan nabi/rasul manusia. Sementara jin yang membangkang adalah jin kafir dan disebut setan. Kaedahnya adalah semua setan pasti jin, tapi tidak semua jin itu setan. Karena jin muslim tidak disebut setan.

Jika nenek moyang manusia bernama Adam allaihis salam, maka nenek moyang jin bernama Jan.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ

“Malaikat diciptakan dari cahaya, Jan (nenek moyang jin) diciptakan dari nyala api, dan Adam (nenek moyang manusia) diciptakan dari apa yang telah disebutkan (dalam Al Qur`an) kepada kalian”.

Siapa itu Hantu?

Hantu Itu jin, jin terbuat dari api dan sifatnya dapat berubah wujud menjadi apa saja, termasuk orang yang kamu kenal bahkan meski sudah mati. Jadi hantu itu sebenarnya adalah jin yang menyerupai wujud hantu atau seseorang yang sudah mati.

Siapa Iblis?

Iblis itu termasuk ‘spesies’ jin, “iblis” itu hanya nama. Sama seperti manusia yang punya nama “Ryan, Anto, Agus,” dll. Maka jin yang menolak sujud kepada nabi Adam Allaihis salam itu namanya “iblis“.

Siapa Setan?

Setan itu adalah jin kafir yang tidak beriman kepada Allah dan Muhammad Salallahu alaihiwassalam. Yang mereka suka mengganggu atau berhubungan dengan manusia. Berbeda dengan manusia yang tidak bisa melihat Jin, Jin justru mampu melihat manusia.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ

Artinya: Sesungguhnya ia (iblis) dan pengikut-pengikutnya (setan) melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. (QS. Al-A’raf : 27)

Namun, meski Jin bisa melihat manusia, sebenarnya mereka tidak mengetahui perkara ghaib secara mutlak. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala membongkar kedok jin kepada umat muslim bahwa jin sebenarnya tidak tau bahwa nabi Sulaiman telah wafat.

فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَىٰ مَوْتِهِ إِلَّا دَابَّةُ الْأَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ ۖ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ

Artinya: Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.

– QS Saba’: 14

Lalu mengapa para dukun, penyihir, paranormal, indigo bisa mengorek informasi dari para jin-jin itu? Jika ternyata para jin sebenarnya tidak mengetahui perkara ghaib? Ketahuilah, sesungguhnya kunci-kunci perkara ghaib hanya ada pada Allah subhanahu wa ta’ala. Sementara mereka para jin mengetahui perkara ghaib tak lain karena mencuri informasi dari langit.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila Alloh menetapkan perintah di atas langit, para malaikat mengepakkan sayap-sayapnya karena patuh akan firman-Nya, seakan-akan firman (yang didengar) itu seperti gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu rata, hal itu memekakkan mereka (sehingga mereka jatuh pingsan karena ketakutan). Maka apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati mereka, mereka berkata: ‘Apakah yang difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab: (Perkataan) yang benar’. Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Ketika itulah, (syaithan-syaithan) penyadap berita (wahyu) mendengarnya. Keadaan penyadap berita itu seperti ini: Sebagian mereka di atas sebagian yang lain -digambarkan Sufyan dengan telapak tangannya, dengan direnggangkan dan dibuka jari-jemarinya- maka ketika penyadap berita (yang di atas) mendengar kalimat (firman) itu, disampaikanlah kepada yang di bawahnya, kemudian disampaikan lagi kepada yang ada di bawahnya, dan demikian seterusnya hingga disampaikan ke mulut tukang sihir atau tukang ramal. Akan tetapi kadangkala syaithan penyadap berita itu terkena syihab (panah api) sebelum sempat menyampaikan kalimat (firman) tersebut, dan kadang kala sudah sempat menyampaikannya sebelum terkena syihab; dengan satu kalimat yang didengarnya itulah, tukang sihir atau tukang ramal meIakukan seratus macam kebohongan. Mereka (yang mendatangi tukang sihir atau tukang ramal) mengatakan: ‘Bukankah dia telah memberitahu kita bahwa pada hari anu akan terjadi anu (dan itu terjadi benar)’, sehingga dipercayalah tukang sihir atau tukang ramal tersebut karena satu kalimat yang telah didengar dari Iangit.”

– HR. Bukhori

Dan untuk diketahui, sebenarnya kedua makhluk ini (jin dan manusia) Allah haramkan untuk saling berhubungan dan saling memperlihatkan diri. Kita hanya diwajibkan untuk beriman/percaya bahwa di luar alam kita ada alam lain (ghaib) yang menjadi tempat tinggal jin. Jadi, janganlah kamu pergi ke dukun, paranormal, orang pintar, Indigo dan yang sejenisnya.

Sementara manusia asalnya memang tidak bisa melihat jin, kecuali jin itu yang “ngeyel” memperlihatkan diri pada manusia, barulah manusia bisa melihatnya. So, jin atau setan yang biasa dilihat manusia, dukun, paranormal, orang pintar, orang Indigo, itu PASTILAH JIN KAFIR. Karena jin muslim (jin yang baik dan beriman) tidak akan memperlihatkan diri pada manusia.

قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ

“Katakanlah : “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku” [al-An’am/6 : 50]

Jin ada yang muslim dan ada yang kafir. Yang muslim dan patuh/tunduk pada perintah Allah Pasti masuk surga. Sementara yang membangkang pasti masuk neraka. Maka IBLIS yang juga termasuk JIN juga bisa masuk surga kalau ia bertaubat. Tapi ia enggan untuk taubat dan lebih memilih masuk neraka. Dan Allah maha mengetahui bahwa Jin bernama “Iblis” itu tidak akan bertaubat sampai hari kiamat.

Kaum Jin yang Beriman Kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam

Kalau kalian pernah mempelajari sirah nabawiyah, ada riwayat yang berkata bahwa Allah memperlihatkan kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bahwa ada sekelompok kaum jin yang telah masuk Islam. Allah perlihatkan itu kepada beliau untuk menghibur Rasulnya yang sedang sedih karena dakwahnya ditolak oleh orang2 Quraish Jahiliyah di Mekkah.

Allah berfirman,

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ

“Ingatlah ketika Kami arahkan serombongan jin kepadamu untuk mendengarkan Al Quran. Tatkala mereka menghadiri pembacaan al-Quran lalu mereka berkata: “Diamlah kalian untuk mendengarkannya”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. al-Ahqaf: 29)

Ibnu Katsir menukil keterangan dari Ibnu Abbas, bahwa jumlah mereka ada 7 jin yang semuanya rajin ibadah. (Tafsir Ibn Katsir, 7/289).

Setelah mereka masuk islam, mereka mengajak jin yang lain untuk masuk islam juga. Mereka mengatakan, bahwa al-Quran yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarannya sama dengan kitab yang diturunkan kepada Musa ‘alaihis salam.

Allah berfirman,

قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ ( ) يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ ( ) وَمَنْ لَا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Mereka berkata: “Hai kaum kami, Sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. ( ) Hai kaum Kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. ( ) dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah Maka Dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Al-Ahqaf: 30 – 32).

Kemudian dinyatakan dalam riwayat Ahmad, Muslim, Tirmidzi dan yang lainnya bahwa Alqamah bertanya kepada sahabat Ibnu Mas’ud,

”Apakah ada diantara kalian yang ikut bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam beliau bertemu jin?”

”Tidak, hanya saja, pada suatu malam, sebelumnya kami bersama Rasulullah. Tiba-tiba kami kehilangan beliau, dan kamipun mencari beliau di lembah dan semak-semak. Hingga kami mengatakan, ’Beliau dibawa pergi oleh jin.’ Malam itu, kami menjalani malam paling buruk. Di pagi harinya, tiba-tiba beliau datang dari arah Hira. Kamipun segera menyambut beliau, ’Ya Rasulullah, kami kehilangan anda dan kami berusaha mencari anda, namun kami tidak berhasil menemukan anda. Sehingga kami merasa sangat sedih di malam itu.”

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَتَانِي دَاعِي الْجِنِّ فَذَهَبْتُ مَعَهُ فَقَرَأْتُ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنَ

”Ada seorang dari kalangan jin yang mendatangiku, akupun pergi bersamanya dan aku bacakan ayat al-Quran kepada mereka.”

Ibnu Mas’ud melanjutkan ceritanya, Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi bersama kami. Kamipun melihat bekas mereka dan bekas api mereka. Dan mereka meminta bekal hidup. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَكُمْ كُلُّ عَظْمٍ ذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ يَقَعُ فِي أَيْدِيكُمْ أَوْفَرَ مَا يَكُونُ لَحْمًا وَكُلُّ بَعْرَةٍ عَلَفٌ لِدَوَابِّكُمْ

“Pada setiap tulang hewan yang disembelih secara syar’i, akan berisi penuh daging di tangan kalian. Dan setiap kotoran hewan ternak, menjadi makanan binatang kalian (jin).”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

فَلَا تَسْتَنْجُوا بِهِمَا فَإِنَّهُمَا طَعَامُ إِخْوَانِكُمْ

”Janganlah kalian melakukan istinjak dengan tulang dan kotoran, karena itu makanan saudara kalian (dari jin).” (HR. Ahmad 4149, Muslim 450, Turmudzi 3258, dan yang lainnya)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahkan memiliki pendamping dari bangsa Jin yang jin itu memeluk Islam.

Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ

“Setiap orang di antara kalian telah diutus untuknya seorang qorin (pendamping) dari golongan jin.”

Para sahabat bertanya, “Termasuk Anda, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab,

وَإِيَّايَ إِلاَّ أَنَّ اللَّه أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلا يَأْمُرنِي إِلاَّ بِخَيْرٍ

“Termasuk saya, hanya saja Allah membantuku untuk menundukkannya, sehingga dia masuk Islam. Karena itu, dia tidak memerintahkan kepadaku kecuali yang baik.” (HR. Muslim 7286 & Ibnu Hibban 6417, dan yang lainnya).

‘Allahua’lam bishawab.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Leave a Reply

Your email address will not be published.*
*
*