Assunnah.ID

Media beramal jariyah dengan dakwah sunnah

Apa Bukti Al-Quran Tidak Berubah, Tidak Bisa ‘Dirusak’, Di Bakar, Di Injak dan di Musnahkan?

Posted on

Tidak bisa “dirusak” disini maksudnya adalah Al-quran itu tidak bisa di ubah-ubah isinya baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Juga bahkan tidak bisa di rusak baik dari kata-katanya, maupun di bakar, di injak, dan di hinakan dalam bentuk apapun.

Sesungguhnya kesalahpahaman yang besar bagi kebanyakan orang (Atheis, Syiah, dan Non-Muslim) yang berkata bahwa Al-quran itu sebenarnya telah berubah.

Berikut ini untuk mengklarifikasinya.

Mereka mengira Alquran itu turun dalam bentuk tulisan. Mereka mengira, Allah subhanahu wa ta’ala mewahyukan Al-quran kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk teks. Apakah kamu tidak tau (tentu saja tidak tau karena kamu tidak mau tau dan asal main judge tanpa pernah tau) bahwa setiap kali Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu (Alquran) ayat demi ayat, ia tidak menerimanya dalam bentuk tulisan. Ia tidak menerima dalam bentuk kertas atau buku dengan tulisan di dipermukaannya. Kenapa? Karena beliau tidak bisa menulis dan membaca.

فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Artinya: Berimanlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, sang nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis), yang beliau beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya. Ikutilah beliau agar kalian mendapat petunjuk.

– QS. al-A’raf: 158

Jadi, Bagaimana Allah menyampaikan wahyunya? Tentu bukan dalam bentuk tulisan, tetapi dalam bentuk lisan atau kata-kata. Baik itu melalui Jibril atau secara langsung disampaikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, semua wahyu yang di sampaikan kepada Rasulullah selalu disampaikan secara lisan.

يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْيُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ

Artinya: “Wahai, Rasulullah. Bagaimanakah cara wahyu sampai kepadamu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Terkadang wahyu itu datang kepadaku seperti suara lonceng, dan inilah yang terberat bagiku, dan aku memperhatikan apa yang dia katakan. Dan terkadang seorang malaikat mendatangi dengan berwujud seorang lelaki, lalu dia menyampaikannya kepadaku, maka akupun memperhatikan apa yang dia ucapkan.

– Shahi, HR Bukhari

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang Nabiyul Ummi, yakni nabi yang tidak bisa baca tulis. Maka Al-quran sebenarnya bukanlah apa yang di tuliskan, tetapi adalah kata-kata yang di ucapkan.

Ini sama seperti saat kamu masih kecil (usia kelas 1SD). Kamu sudah bisa bicara saat itu, tapi tidak bisa membaca. Jadi bagaimana cara orang tua mengajarkan kepada anak kelas 1 SD yg tidak bisa membaca agar ia bisa hafal Al-quran? Tentu bukan dengan cara di tulis lalu ia disuruh membaca, melainkan dengan cara orang tuanya menyampaikannya secara lisan kepada anak SD itu secara berulang-ulang lalu ia mengingatnya (ini tidak bisa disebut menghafal, melainkan mengingat). Lantas ketika anak SD itu sudah mengingatnya, lalu ia mengulangnya (mengucapkan Alquran itu), maka ia sudah bisa disebut membacakan Al-quran (meski tanpa teks/mushaf).

Pemisalan lainnya, pernahkah kamu melihat imam yang memimpin sholat? Apakah ia memegang Alquran? Tidak! Apakah ia melihat alquran saat sholat? Tidak! Ia saat itu tidak sedang membaca Alquran. Tapi saat berdiri dan mengucap Alfatihah dan ayat lain, ia tetap dikatakan “sedang membaca Alquran”, QS Alfatihah dan surat lain (Al-ikhlas, misalnya).

Semoga pemisalan ini bisa dimengerti.

Tentu saja, berbeda antara Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan anak SD dan umatnya pada umumnya, Rasulullah lebih mulia karena Allah secara langsung memasukkan Al-quran itu ke dalam ingatan/hatinya. Sehingga ia cukup mendengarkan Al-quran dibacakan Jibril, lalu ia langsung mengingatnya. Dan ia mengulang firman Allah (Al-quran) yang ada dalam ingatannya.

Dibawah ini adalah dalil lain yang menguatkan bahwa Al-quran adalah bukan yang tertulis dalam mushaf, melainkan yang di lafalkan di mulut seseorang.

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (as-Sunnah).” (QS. al-Jumu’ah: 2)

Penjelasannya:

Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi

Yaitu, orang-orang Quraish Mekkah, orang dari suku Aus dan Khazrajh di Madinah, adalah kaum yang umumnya tidak bisa membaca dan menulis (ummi).

seorang Rasul di antara mereka

Allah mengutus kepada kaum yang tidak bisa baca dan tulis itu seorang rasul yang juga ummi (tidak bisa baca dan tulis).

فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Artinya: Berimanlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, sang nabi yang ummi, yang beliau beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya. Ikutilah beliau agar kalian mendapat petunjuk. (QS. al-A’raf: 158)

yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka

Saya tanya, apakah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bisa membaca? Tidak! Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah nabi yang Ummi (QS. al-A’raf: 158), yaitu nabi yang tidak bisa membaca dan menulis. Itulah mengapa saat turun wahyu pertama kali, saat malaikat zibril mendekap nabi dan menyuruh untuk membaca (Iqra), Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata bahwa ia tidak bisa membaca. Jadi, Rasulullah hanya bisa melafalkan ayat-ayat Al-quran itu dari mulutnya, yang ayat-ayat itu memang sudah di tanamkan dalam hati dan ingatan Rasulullah oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Tapi Allah tetap menganggap hal itu sebagai “MEMBACA”. Itulah mengapa Allah berfirman “yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka”

فَجَاءَهُ المَلَكُ فَقَالَ: اقْرَأْ، قَالَ: «مَا أَنَا بِقَارِئٍ»، قَالَ: “فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي، فَقَالَ: اقْرَأْ، قُلْتُ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ، فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي، فَقَالَ: اقْرَأْ، فَقُلْتُ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ، فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي، فَقَالَ: {اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ} العلق: 2

Malaikat pun mendatangi Rasulullah dan memintanya membaca, “Bacalah.” Rasulullah menjawab, “Aku tak dapat membaca.” Rasulullah bercerita, “Malaikat pun memegang, memeluk, lalu melepaskanku, dan memintaku membaca kembali, “Bacalah.” “Aku tak dapat membaca,” jawab Rasulullah. “Malaikat pun memegang, memeluk, lalu melepaskanku, dan memintaku membaca kembali untuk yang kedua kali, “Bacalah.” “Aku tak dapat membaca,” jawab Rasulullah. “Malaikat pun kembali memegang, memeluk, lalu melepaskanku, dan memintaku membaca kembali untuk yang ketiga kali, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, Tuhanmu itu Maha Pemurah (QS Al-‘Alaq; 2).”

Alquran yang di ubah bahasanya TIDAK DISEBUT AL-QURAN.

Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan Alquran dalam bahasa Arab Quraish. Dan bahasa ini dipertahankan penyebarannya keseluruh dunia tanpa di ubah atau di translasi sama sekali. Pada masa penyebaran islam ke Nusantara pertama kali, Alquran dibawa secara utuh tanpa di transate, tapi para ulama dan pedagang muslim membawanya secara utuh, lalu mereka akan menerjemahkannya secara langsung melalui mulut. Kenapa kok text alquran tidak diterjemahkan? Bukankah akan lebih mudah mempelajari Islam?

Al-quran tidak seperti Bibel. Alquran jika ia diterjemahkan ke bahasa lain, ia tidak lagi disebut sebagai Al-quran. Sudah saya katakan di penjelasan awal bahwa Alquran adalah firman Allah yang di lafalkan dari mulut. Sehingga kalau Alquran di ubah bahasanya menjadi bahasa Indonesia, maka lafalnya yang keluar dari mulut bukan lagi bahasa Arab Quraish. Melainkan lafal Indonesia. Dan Allah berfirman bukan dengan bahasa Indonesia. Maka itu tidak lagi bisa disebut Alquran. Alquran yang diterjemahkan ke bahasa lain tidak disebut Alquran.

Lalu Bagaimana dengan Kitab suci Teks Al-quran itu?

Al-quran dalam bentuk buku itu disebut mushaf. Hanya saja, seiring berjalannya waktu lama-kelamaan orang-orang juga menyebutnya Al-quran. Sementara tulisan dalam mushaf itu termasuk tanda bacanya hanyalah pemandu bagi manusia agar firman Allah yang diturunkan dalam bahasa Arab Quraish tidak berubah oleh logat-logat berbagai manusia yang memiliki bahasa dan logat yg berbeda-beda di berbagai belahan dunia. Sepeti kita ketahui, berbeda sedikit saja logat manusia dalam membaca Al-quran akan membuat makna/arti dari ayat yang dibacanya berubah total. Yang pada akhirnya akan membuat isi Al-quran itu berubah-ubah di tiap wilayah, di tiap zaman. Dan jika ada satu huruf saja dari pengucapan Al-quran yang berubah, maka itu tidak bisa lagi disebut Al-quran.

Pemisalannya seperti ini:
Jika kita melafalkan di mulut kita “al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn”. Maka ini disebut Al-quran (QS Alfatihah:1). Tapi bagaimana jika ada di daerah lain (seperti Jepang yang memang lidah orang disana tidak bisa mengucap huruf “R”) dengan logat bawaan mereka membaca “al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘āmamīn”, menurutmu bagaimana mereka akan membacanya? Tentu bukan seperti cara membaca Alfatihah orang-orang Arab Quraish. Mereka akan membacanya seperti pada video dibawah ini:

Dan ini pula-lah yang melatarbelakangi dibuatnya mushaf itu. Agar orang-orang tidak salah dalam mengucapkan Al-quran. Karena kalau mereka mengucapkan Al-quran tapi tidak sesuai seperti cara membacanya orang-orang Arab Quraish, maka Al-quran itu lambat laun pasti akan berubah. Mushaf itu ibarat standar baku bagi umat muslim yang sedang/akan membaca Al-quran.

Daann… Itu baru bahasa Jepang formal/resmi, karena di Jepang sendiri ada banyak logat atau dialek-dialek sesuai daerahnya, mulai dari dialek Kansai(-ben), Honichi(-ben), Satsugu(-ben), dll. Sama seperti di Indonesia yang memiliki ribuan dialek seperti dialek batak, betawi, dll.

Pun begitu, bukan berarti Allah tidak menerima ibadah orang-orang yang membaca Al-quran dengan salah (karena ketidaktahuan). Karna yang Allah lihat/nilai adalah niat dan batas kemampuan dari hamba-hambanya .

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”

– QS. Al-Baqarah: 286

Salah Satu Cara Allah Menjaga Al-quran dari Kerusakan dan Perubahan

Pernahkah kamu berfikir, apa mukjizat Al-quran yang masih ada dan berjalan sampai saat ini, yang tidak bisa kamu temukan di kitab agama lain? Yup, Allah berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur`ân untuk (menjadi) pelajaran, maka adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran?

– al-Qomar/54:17

Al-quran itu, sangat mudah di pelajari, dan sangat mudah untuk di hafal oleh orang-orang dari berbagai belahan dunia. Coba kamu bandingkan jumlah penghafalnya, berapa banyak penghafal Alquran dibandingkan dengan penghafal injil/bibel, dan penghafal taurat?

Bayangkan, Al-quran itu menggunakan bahasa arab loh, tulisannya pun bukan Alfabet ABCD, tapi huruf Hijaiyah yang sangat asing bagi banyak orang. Tapi jumlah penghafalnya (hafidz) ada ribuan bahkan jutaan orang menghafal 30 Juzz Al-quran. Dan hampir semua muslim dunia pasti menghafal setidaknya 1 surat, yaitu Alfatihah.

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ

Artinya: Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim

– QS Al-Ankabut:49

Maksudnya dari QS Al-Ankabut:49 di atas adalah, Al-quran itu ada di dalam dada/hati (hafalan, red) dari setiap orang yang Allah beri ilmu.

Bandingkan dengan kitab agama lain seperti injil, bibel atau Taurat? Ada gak yang menghafalnya? Gak ada, kalo pun ada, sangat sedikit sekali. Padahal bibel itu diterjemahkan ke dalam banyak bahasa loh, termasuk bahasa Indonesia. Tapi tidak ada tuh nasrani bahkan pendeta-pendeta mereka yang benar-benar mampu menghafal seluruh isi kitab mereka secara letterlet. Sementara Yahudi, paling hanya 1 orang yang benar-benar mampu menghafal seluruh isi kitab taurat secara letterlet, dan orang itu bernama Uzair, yang karena ia mampu menghafalnya, orang-orang Yahudi malah menganggapnya dan menisbatkannya sebagai “Putra Allah”.

Jadi, kita masuk ke inti pembahasan. Bagaimana cara Allah menjaga Al-quran agar tidak rusak pelafalannya (bukan teks-nya), ya itu tadi, karena Al-quran mudah di hafal dan di pelajari, maka ada ribuan bahkan ratusan ribu hafidz yang menghafal Al-quran.

Lalu menurutmu bagaimana jika ada satu orang saja yang menulis/mencetak Al-quran namun ia mengubah-ubah isi Al-quran itu, dan menyebarkannya keseluruh dunia? Ya tentu saja para penghafal-penghafal Al-quran ini akan langsung tau bahwa Al-quran yang disebar itu telah di ubah. Karena isi Al-quran sendiri sudah tertanam dalam otak para penghafalnya. Kalau ada “lafal/suara/bunyi” Al-quran yang berubah saat para penghafal ini membacanya, orang-orang akan langsung tau bahwa isi Al-quran itu telah di ubah karena tidak sesuai dengan Al-quran yang mereka hafal.

Misalnya jika QS Alfatihah ayat pertama yang berbunyi:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn

Lalu di ubah isinya, satu baris saja dari huruf alif di depan, di pindahkan ke bawah barisnya menjadi:

اِلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

il-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn

Apa menurutmu kami orang muslim tidak mengetahuinya? Bahkan saya bisa katakan, seluruh umat muslim akan langsung tahu kalau dalam QS Alfatihah:1 di atas ada yang berubah. Maka kami akan musnahkan Alquran yang sudah di ubah-ubah itu.

Hal yang sama berlaku untuk surat-surat lainnya. Ada ratusan ribu bahkan jutaan hafidz Alquran yang menghafal Al-quran secara kata per kata, bahkan huruf per hurufnya di hafal tanpa berubah sedikitpun. Maka setiap ada perubahan dalam Al-quran, pasti akan ada jutaan orang yang langsung mengetahuinya. Itulah mengapa saya berani katakan bahwa Al-quran mustahil untuk di rusak dan di ubah-ubah isinya. Sesuai dengan firman Allah:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

Artinya: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

– QS Al-Hijr: 9

 

Al-quran Tidak Bisa Dihinakan dalam Bentuk Apapun (Di injak, di bakar, whatever…)

Mereka berkata Al-quran telah berubah, mereka membakarnya, mereka menginjaknya, mereka merusaknya, mereka berfikir mereka telah menghinakannya.

I said, Hei… what? Wait… saya tanya, apakah kamu bisa membakar ucapanmu? Apakah kamu bisa menginjak-injak ucapanmu? Kalau membakar dan menginjak-injak mulutmu, maka itu possible untuk dilakukan. Tapi membakar dan menginjak-injak ucapan (apalagi ucapan Allah), saya tanya… bagaimana kamu melakukannya? Bukankah sudah saya jelaskan di atas bahwa Al-quran adalah kata-kata yang di ucapkan, bukan yang di tuliskan?

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Leave a Reply

Your email address will not be published.*
*
*