Assunnah.ID

Media beramal jariyah dengan dakwah sunnah

Klarifikasi Tuduhan Kafir: Hukum Mati Bagi Pelaku Murtad, Pembantaian Bani Qurayzah, dan Nabi Muhammad Menikahi Aisyah di usia Belia

Posted on

Apakah kamu pernah merasa ingin keluar dari agama Islam setelah menyadari bahwa ada hadis yang menyebutkan bahwa murtad harus dihukum, pembantaian Bani Qurayza, dan Nabi Muhammad menikah dengan Aisyah di usia yang kesembilan tahun?

Salah satu tulisan saya, yang saya posting di situs Quora untuk menjawab pertanyaan seseorang. Pertanyaannya seperti diatas, dan dibawah ini adalah jawabannya.

Pembantaian Bani Qurayzah

Sekarang saya tanya kepadamu, bagaimana jika di Indonesia sedang berperang melawan penjajah (katakanlah Jepang), lalu ada seorang WNI yang berkhianat membuka jalan bagi penjajah untuk masuk ke Indonesia, membocorkan informasi penting kepada pihak penjajah. Menurutmu, apa yang akan dilakukan oleh pemerintah Indonesia kepada WNI yang berkhianat itu?

Yup, hukum pancung atau mati.

Hei…, ini bukan terbatas hanya aturan di Indonesia saja, bahkan mayoritas negara-negara di dunia apakah itu Amerika Serikat, Rusia, China, Korsel, Korut dan negara lainnya memiliki aturan yang sama, dimana para pengkhianat akan di tangkap dan di hukum mati.

Hal yang sama berlaku untuk kaum Bani Qurayzah, yang saat itu hidup berdampingan dengan kaum muslimin di Madinah. Menurut kesepakatan diantara kaum Yahudi dan kaum Muslimin, Mereka seharusnya bekerjasama menjaga Madinah, tapi saat kaum Quraisy Mekkah menyerang Madinah, mereka justru berkhianat dan berpihak kepada orang-orang Quraish.

Oh… saya pikir kamu bukanlah orang yang memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Apakah kamu akan berkhianat kepada musuh Indonesia, jika negara ini di serang oleh negara lain?

Hukuman Mati untuk Orang yang Murtad

Sekarang begini, saya tidak tahu apa agamamu. Tapi jika tuhanmu memerintahkanmu untuk masuk ke dalam kobaran api, apa yang akan kamu lakukan? Menolaknya? Maka keimananmu diragukan. Saya tidak ragu-ragu menjudge imanmu hanya sekecil kutil.

Kau tau nabi Ibrahim Allaihisallam? Apa perintah Allah kepadanya? Allah memerintahkan kepada Ibrahim Allaihissalam untuk menyembelih anaknya. Apakah ia menolaknya? Tidak, ia melakukannya, menunjukkan ketaatan dan kesabaran yang luar biasa atas cobaan /ujian yang diberikan Allah kepadanya.

Kau tau nabi Ismail Allaihisallam? Ia harus menyerahkan lehernya kepada bapaknya Ibrahim Allaihissalam untuk di sembelih. Apakah Ismail menolaknya? Tidak! Ia sabar menjalaninya.

Lihat ketaatan mereka, mereka berdua adalah orang yang sama-sama beriman kepada tuhannya. Namun yang satu diperintah untuk membunuh anaknya dan satu lainnya harus menerima lehernya disembelih bapaknya sendiri.

Lalu, jika tuhanmu memerintahkanmu untuk membunuh seorang yang murtad (khianat) kepada Allah, bukan seorang yang taat , tapi seorang yang murtad. Seorang yang mngkhianati tuhannya, apakah kamu mau menolak perintah tuhanmu? Sungguh kecil imanmu kepada tuhanmu. Sungguh tidak ada apa-apanya ketaatanmu kepada tuhanmu. Tahulah saya umat dari agama yang kamu anut tidak memiliki ketaatan sebesar ketaatanku pada tuhanku Allah subhanahu wa ta’ala

Saya, saya pribadi, saya bahkan berani melompat ke dalam api yang membara, jika perintah itu datang dari Allah Azza wa zalla. Lalu Apa kau mau berkata bahwa tuhanku bukanlah tuhan yang maha penyayang, jika memerintahkanku untuk mati di dalam api yang membara? Kalau begitu saya tanya balik kepadamu, kenapa tuhanmu membiarkan umatnya mati? (toh, pada akhirnya semua manusia akan mati, bukan!?). Kalau begitu saya katakan, bahwa tuhanmu juga bukanlah tuhan yang maha penyayang.

Pada akhirnya, semua manusia akan mati. Mau aku mati sekarang karena dilalap api, atau mati nanti karena di lalap usia, hasil akhirnya sama saja, aku akan mati. Begitu pula dengan si murtad, mau dia mati nanti atau (dihukum) mati sekarang, pada akhirnya dia akan mati. Yang membedakannya adalah aku mati karena taat kepada tuhanku, sementara dia mati karena khianat kepada tuhannya.

Nabi Muhammad menikahi Aisyah di usia sembilan tahun?

Maksudmu, kamu mau berkata nabiku adalah Pedofhil? Jangan kau samakan standar kehidupan zaman sekarang dengan zaman dulu. Di zaman sekarang, seseorang bahkan diwajibkan menuntut ilmu minimal 12 tahun. Dan sudah menjadi hal yang biasa menikah di atas 17 tahun, dan tidak biasa menikah dibawah itu.

Lalu apakah kau mau samakan standar kehidupan di zaman ini, dengan di zaman 1400 tahun yang lalu? Aneh sekali pemikiranmu. Dulu 30 tahun yang lalu, orang ngomong sendiri, ketawa sendiri, pose sendiri itu di anggap orang gila. Sekarang di tahun 2021 ini, kalo orang ngomong sendiri ketawa sendiri, bergaya dan berpose sendiri, sudah menjadi hal yang biasa. Kenapa? Karena sekarang zamannya ada smartphone, headset bluetooth, earbud, Tiktok, dsb. Apakah kau berani berkata “hei… kau sudah gila ya” kepada orang lain yang lagi asik ngobrol kepada benda kotak kecil yang di depannya ada kacanya itu?

Hal yang sama berlaku bagi rasulku, dimana pada masa itu (1400 tahun yang lalu), sudah menjadi hal yg biasa bagi seorang perempuan di nikahkan di usia nya yang masih belia. Lagi pula, suatu kehormatan bagi perempuan itu menikah dengan utusan Allah.

Bahkan meski Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Aisyah Radhiyallahuanhuna di usia belia, beliau tidak langsung “berkumpul” dengan Aisyah yang masih belia. Melainkan beliau menunggu sampai 3 tahun kedepan untuk “berkumpul” dengan ibunda Aisyah radhiyallahuanhuna.

Dan yang paling penting dari semua itu, yang mungkin banyak orang-orang kafir tidak pikirkan adalah, bagaimana perasaan Aisyah Radhiyallahuanhuna dinikahi oleh seorang pria yang usianya jauh lebih tua dari padanya?

Kalian orang-orang kafir mengabaikan perasaan gadis kecil itu, karena kalian hanya berniat ingin memojokkan kami umat muslim. Tapi dalam lubuk hati kalian, pasti kalian tau bahwa cinta itu tidak memandang usia, tidak memandang status, tidak memandang apapun juga. Jika cinta sudah melekat, maka gula jawa pun berasa coklat. Dan itulah yang dirasakan oleh ibunda Aisyah Radhiyallahuanhuna.

Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha menyatakan bahwa beliau sangat bahagia.

Beliau menceritakan perasaannya ketika menjadi istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَزَوَّجَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى شَوَّالٍ وَبَنَى بِى فِى شَوَّالٍ فَأَىُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّى

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meikahiku di bulan Syawal, dan kumpul bersamaku di bulan Syawal. Manakah istri beliau yang lebih beruntung di dekat beliau melebihi diriku? (HR. Muslim 3548, Tirmidzi 1116 dan yang lainnya)

Note:
Aku tak perduli apa tanggapanmu dan semua antek-antekmu kepada agama yang kuyakini ini. Aku tak perduli pada pandangan sinis kalian, tak perduli pada mata tajam kalian, dan ejekan kalian. Apa yang penting bagiku adalah bagaimana tuhanku Allah subhanahu wa ta’ala memandangku. Itu saja sudah cukup bagiku.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Leave a Reply

Your email address will not be published.*
*
*