Assunnah.ID

Media beramal jariyah dengan dakwah sunnah

Bagaimana Hukumnya (Islam) Tentang Mengubur Plasenta (Ari-ari) & Memberinya Lampu?

Posted on

Memang benar, bahwa plasenta itu adalah saluran yang menghubungkan nutrisi yang ibu dapatkan dari makanan ke janin. Setelah melahirkan, plasenta ini di potong.

Jika plasenta hanya sekedar dikubur, dibuat lubang, masukkan, dan timbun tak mengapa. Dengan niat agar tak menimbulkan bau yang menyengat. Juga memuliakan bagian tubuh manusia sebagaimana kita mengubur bagian tubuh manusia yg terputus.

Yang membuatnya haram adalah perlakuan khusus terhadap kuburan plasenta, apalagi jika di tambah dengan bumbu-bumbu takhayul seperti memasang bambu yang di tancapkan ke kuburan plasenta, memasang lilin atau lampu teplok, menabur kembang dan menyiram air. Ini diharamkan karena tidak ada syariatnya dalam agama. Lagi pula, memangnya biar apa sih dibuat seperti itu?

Beberapa orang berkata, diberi lampu karena takut di gali anjing? Bukankah anjingnya malah senang kuburan plasenta dikasih lampu. Jadi lebih terang dan mudah baginya untuk menggali.

Hal lain yang membuatnya haram adalah keyakinan-keyakinan turun temurun dari orang tua, seperti:

  1. Plasenta itu kembarannya bayi, buat si kembaran yang hidup di alam ghaib sana menjaga si bayi yang hidup di dunia manusia.
  2. Plasenta jika tidak ditanam jadi begini dan begitu.
  3. Plasenta dikasih cermin biar anaknya cakep, di kasih buku biar pintar. Kalau dikasih 1000 buku dan dikubur bareng plasenta, kalo bayinya tidak belajar saat dewasa ya gak bakalan pintar.
  4. Plasenta kalo dimakan ayam, nanti bayinya jadi seperti ini dan itu.
  5. Plasenta kalau dikumpulkan digabung dengan plasenta anak lain (katakanlah kakaknya atau abangnya) di taruh di satu wadah akan membuat anak-anak pada akur.
  6. Plasenta dianggap “berjasa” karena menghantarkan makanan kepada janin? Saya rasa yang paling berjasa adalah penciptanya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala yg memberi kepada manusia sejak saat masih dalam bentuk janin, rizki dari satu jalan yaitu pusar. Yg kemudian menambah rizkinya dari dua jalan setelah ia lahir, itulah rizki ASI yg lebih nikmat dari rizki sebelumnya. Kemudian setelah terputus rizki ASI dengan sapihan, Allah menambah rizkinya dari empat jalan yaitu rizki dari susu dan air dan juga dari daging dan tumbuhan yang lebih nikmat. Yang setelah ia mati dan terputus jalan rizkinya, Allah menghadiahkan rizki yang lain dari 8 jalan, itulah pintu surga yg berjumlah delapan, jika bayi itu beriman dan bertakwa kepada Allah selama hidupnya. Maka bersyukurlah padanya, katakan Alhamdulillah. Bukan malah berterimakasih pada plasenta dengan melakukan ritual begini dan begitu.
  7. Kalai tidak dikasih lampu, si bayi jadi rewel. U know what? Ini tipu muslihat setan biar anda kasih lampu ke kuburan ari-arinya. Masuklah anda ke jebakan dosa khurafat yg dibuat setan. Jika bayi anda rewel saat malam, itu biasa. Maybe lapar, maybe haus, maybe bedongannya sempit, maybe dingin, maybe ngompol. Dan satu yg tak bisa dipungkiri, maybe dia di gangguin setan. Bagaimana solusinya kalau di ganggu setan? Jangan pasang lampu di ari-arinya, jangan pake peniti, empon-empon, gunting, dsb, jatuhnya malah dosa syirik (menyekutukan Allah), yg dosa ini tak akan pernah di ampuni jika kita tidak bertaubat sampai mati. Tapi berdoalah meminta perlindungan kepada zat yang menciptanya. Bacakan ayat-ayat Alquran, khususnya ayat-ayat yang biasa dipakai ruqyah.
  8. Di satu sisi dikatakan, dikubur biar gak diambil orang plasentanya untuk syarat perdukunan atau ilmu hitam. Disisi lain malah di pasangi lampu sebagai penanda bahwa di rumah itu ada bayi yang baru lahir. Lah ini kan kontradiksi. Dukunnya malah tau di situ ada ari-ari yg di kubur, bukankah dia lebih gampang nyungkil kuburannya, gk perlu capek-capek nyari, gak perlu bawa senter.

Ini disebut “khurafat” alias kedustaan. Bahkan kalau sudah masuk ke empon-empon, gunting, peniti buat menjaga bayi dan ibunya dari setan, ini lebih parah karena masuk ke dosa syirik.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Leave a Reply

Your email address will not be published.*
*
*