Assunnah.ID

Media beramal jariyah dengan dakwah sunnah

Ziarah Kubur yang Sesuai Sunnah, Apakah Harus Menabur Bunga?

Posted on

Beberapa orang memelintir pernyataan atau tulisan tentang ziarah kubur. Disini perlu ditekankan sebelumnya bahwa Ziarah kubur itu sunnah. Sebagai muslim, tentu saja sunnahnya ya harus sesuai dengan yang di contohkan oleh Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Karena beliaulah nabiku. Bukan nenek moyang. Dan Rasulullah lah panutanku, bukan tradisi leluhur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كنت نهيتكم عن زيارة القبور، فزوروها

“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah” (HR. Muslim no. 977. Lihat Bahjatun Nazhirin (1/583) )

Dan juga, beberapa orang akan memelintir tulisan ini, bahwa situs ini menghakimi orang yang menabur kembang dan menyiram air di kuburan itu pasti masuk neraka. Perlu ditekankan bahwa tidak ada yang berkata demikian. Saya hanya berkata bahwa menabur bunga itu dosa. Apakah pelakunya akan masuk neraka? Wallahua’lam. Yang jelas, di yaumil hisab akan ada timbangan yang menakar pahala dan dosa kalian. Dan perbuatan menabur kembang di kuburan itu akan menambah beban berat di timbangan dosa.

Jadi, apa saja sunnah dan adab yang bisa di lakukan, dan tidak boleh dilakukan?

1. Mengucap Salam

Dalam kisah ‘Aisyah yang membuntuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke pekuburan Baqi’ dalam sebuah hadits yang panjang, ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah,

كيف أقول لهم يا رسول الله؟ قال: قولي: السلام على أهل الديار من المؤمنين والمسلمين، ويرحم الله المستقدمين منا والمستأخرين، وإنا إن شاء الله بكم للاحقون

“Ya Rasulullah, apa yang harus aku ucapkan kepada mereka (penghuni kubur-ed)?” Rasulullah menjawab, “Katakanlah : Assalamu’alaykum wahai penghuni kubur dari kalangan kaum mukminin dan muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang kemudian. Dan insya Allah kami akan menyusul kalian”

  1. HR. Muslim (3/14),
  2. HR Ahmad (6/221),
  3. HR An Nasa’I (1/286),
  4. HR Abdurrazzaq (no. 6712)

2. Mengingat Kematian

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

زوروا القبور فإنها تذكركم الموت

“Berziarahlah kalian ke kuburan, karena ziarah kubur mengingatkan kalian akan kematian” (HR. An Nasai dan lainnya)

3. Mendoakan Penghuni Kubur (haram mendoakan jika kubur orang kafir dan musyrik)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata

أن النبي كان يخرج إلى البقيع، فيدعو لهم، فسألته عائشة عن ذلك؟ فقال: إني أمرت أن أدعو لهم

“Nabi pernah keluar ke Baqi’, lalu beliau mendo’akan mereka. Maka ‘Aisyah menanyakan hal tersebut kepada beliau. Lalu beliau menjawab : “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk mendo’akan mereka”” (HR. Ahmad (6/252). Syaikh Al Albani berkata : “Shahih sesuai syarat Syaikhain (yakni Bukhari dan Muslim-ed)”)

4. Tanggalkan Sendal

Dari shahabat Basyir bin Khashashiyah radhiyallahu ‘anhu : “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berjalan, tiba-tiba beliau melihat seseorang sedang berjalan diantara kuburan dengan memakai sandal. Lalu Rasulullah bersabda,

يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ، وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ» فَنَظَرَ الرَّجُلُ فَلَمَّا عَرَفَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلَعَهُمَا فَرَمَى بِهِمَا

“Wahai pemakai sandal, celakalah engkau! Lepaskan sandalmu!” Lalu orang tersebut melihat (orang yang meneriakinya). Tatkala ia mengenali (kalau orang itu adalah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia melepas kedua sandalnya dan melemparnya”

  1. HR. Abu Dawud (2/72),
  2. HR An Nasa’I (1/288),
  3. HR Ibnu Majah (1/474),
  4. HR Ahmad (5/83), dan selainnya.
  5. Al Hakim berkata : “Sanadnya shahih”. Hal ini disetujui oleh Adz Dzahabi dan juga Al Hafizh di Fathul Baari (3/160). Lihat Ahkaamul Janaa-iz hal. 173, Maktabah Al Ma’arif)

5. Jangan di duduki

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ، فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ

“Sungguh jika salah seorang dari kalian duduk di atas bara api sehingga membakar bajunya dan menembus kulitnya, itu lebih baik daripada duduk di atas kubur” (HR. Muslim (3/62))

6. Jika Kubur Terlalu Jauh, Jangan Berziarah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: المَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

“Janganlah melakukan perjalanan jauh (dalam rangka ibadah, ed) kecuali ke tiga masjid : Masjidil Haram, Masjid Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha” (Muttafaqun ‘alaihi dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

7. Beberapa hal lain.

  • Ada beberapa hal lain yang harus di perhatikan dalam perkara ziarah kubur, diantaranya adalah saat berdoa. Saat mendoakan orang yang berada di dalam kuburan, tidak boleh menghadap kuburan, melainkan harus menghadap kiblat. Karena kita sedang meminta kepada Allah untuk mengampuni dosa si penghuni kubur, bukan meminta kepada penghuni kubur. Dan do’a adlah salah satu intisari sholat. Ulama berpendapat demikian.
    Syaikhu Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

وَلَا يَدْعُو هُنَاكَ مُسْتَقْبِلَ الْحُجْرَةِ فَإِنَّ هَذَا كُلَّهُ مَنْهِيٌّ عَنْهُ بِاتِّفَاقِ الْأَئِمَّةِ . وَمَالِكٍ مِنْ أَعْظَمِ الْأَئِمَّةِ كَرَاهِيَةً لِذَلِكَ . وَالْحِكَايَةُ الْمَرْوِيَّةُ عَنْهُ أَنَّهُ أَمَرَ الْمَنْصُورَ أَنْ يَسْتَقْبِلَ الْحُجْرَةَ وَقْتَ الدُّعَاءِ كَذِبٌ عَلَى مَالِكٍ . وَلَا يَقِفُ عِنْدَ الْقَبْرِ لِلدُّعَاءِ لِنَفْسِهِ فَإِنَّ هَذَا بِدْعَةٌ وَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ مِنْ الصَّحَابَةِ يَقِفُ عِنْدَهُ يَدْعُو لِنَفْسِهِ وَلَكِنْ كَانُوا يَسْتَقْبِلُونَ الْقِبْلَةَ وَيَدْعُونَ فِي مَسْجِدِهِ

“Tidak boleh berdo’a di kubur Nabi dengan menghadap ke kamarnya. Semua ini terlarang menurut kesepakatan para ulama. Imam Malik yang paling keras melarang hal ini. Banyak cerita yang diriwayatkan dari Imam Malik di mana beliau memerintahkan Manshur untuk menghadap kamar saat berdo’a, ini riwayat dusta. Tidak boleh berdiri di sisi kubur untuk berdo’a untuk kepentingan dirinya karena ini tidak dituntunkan. Tidak pernah seorang sahabat pun berdiri di sisi kubur untuk kepentingan dirinya. Yang para sahabat lakukan adalah mereka berdo’a menghadap kiblat dan berdo’a di masjid (Masjid Nabawi).” (Majmu’ Al Fatawa, 26: 147).

  • Ziarah kubur hukumnya sunnah bagi laki-laki, tapi beberapa ulama berbeda pendapat mengenai hukum ziarah kubur bagi perempuan. Ada yang mutlak mengharamkan, ada yang berpendapat sunnah, ada yang berpendapat makruh, dsb. Yang manapun, ada dalilnya.
  • Ziarah murni karena perintah/anjuran Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, bukan karena kemarin mimpi begini dan begitu.
  • Ziarah kubur jangan sampai meratap. Orang yang ada dalam kubur itu tak lain adalah manusia yang lebih dulu di panggil oleh-Nya. Sementara kita yang masih hidup di dunia kelak akan menyusul mereka untuk menghadap-Nya juga. Jadi, kita akan bertemu kembali, Insya Allah. Jika si penghuni kubur dan kita yang masih hidup adalah ahli ibadah. Mereka mati untuk hidup abadi di alam berikutnya. Sementara kita yang ada di dunia ini akan menuju mati. Beruntungnya kita karena masih hidup adalah: kita masih diberi kesempatan untuk memperbanyak amal ibadah. Sementara mereka, tidak bisa berbuat apa-apa untuk menambah amal ibadah.
  • Tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan dan kerinduan akan kehilangan orang tersayang. Sampai merobek-robek baju, tidur di makam (tidak rela melepas kepergian jenazah), menangis histeris dan sampai berteriak. Karena ini termasuk meratapDiriwayatkan dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ، لَا يَتْرُكُونَهُنَّ: الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ، وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ، وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ، وَالنِّيَاحَةُ وَقَالَ: النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا، تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ، وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

“Ada empat perkara khas jahiliyah yang masih melekat pada umatku dan mereka belum meninggalkannya: (1) membanggakan jasa (kelebihan atau kehebatan) nenek moyang; (2) mencela nasab (garis keturunan); (3) menisbatkan hujan disebabkan oleh bintang tertentu; dan (4) dan niyahah (meratapi mayit).”

Dan beliau bersabda, “Wanita yang meratapi mayit, jika dia belum bertaubat sebelum ajalnya tiba, maka pada hari kiamat dia akan dibangkitkan dengan memakai kain (baju) yang terbuat dari timah cair [4] dan memakai pakaian dari kudis.” (HR. Muslim no. 934)

  • tidak menabur kembang dan menyiram air. Karena beliau tidak melakukannya saat menziarahi kubur sahabat dan orang tua beliau. Ada ancaman yang jelas bagi orang-orang yang mengubah-ubah perkara yang telah di syariatkan dalam Islam. Dan ziarah kubur termasuk perkara yang sudah ditentukan syariatnya.

الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Artinya: “Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Lalu ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku’. Allah berfirman, ‘Engkau tidak tahu (bid’ah) yang mereka ada-adakan sepeninggalmu’ “ (HR. Bukhari no. 6576, 7049).

Dalam riwayat lain dikatakan,

إِنَّهُمْ مِنِّى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى

Artinya: “(Wahai Rabb), sungguh mereka bagian dari pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sungguh engkau tidak tahu bahwa sepeninggalmu mereka telah mengganti ajaranmu”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku”(HR. Bukhari no. 7050).

Wallahua’lam bishawab.

Jika ada salah pastilah dari saya, dan jika benar pasti dari Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga Allah mengampuniku atas segala kesalahan yang kuperbuat di dunia.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Leave a Reply

Your email address will not be published.*
*
*