Assunnah.ID

Media beramal jariyah dengan dakwah sunnah

Beriman Pada Kitab Nabi Sebelumnya, Apakah Harus Mengamalkannya Juga?

Posted on

Bismillahirahmanirahim

Mengimani itu artinya percaya bahwa telah ada kitab-kitab yang telah Allah wahyukan sebelumnya.

Apakah harus di amalkan? Tidak! Kenapa? Karena sudah ada kitab penyempurna yang tentu lebih sempurna dari kitab-kitab itu. Itulah Alquran.

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai hakim terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. Al Maidah: 48)

Kalau kita Ibaratkan sebuah buku berjudul A, lalu penerbitnya menerbitkan versi revisi, apakah kita konsumen akan membeli buku pertama? Atau versi revisinya? Ya jelas versi revisi dong yang sudah diperbarui.

Begitu pula dengan kitab suci. Kalau di agama sebelah ada perjanjian lama dan perjanjian baru, maka Alquran ini adalah perjanjian terakhir (revisi terakhir) yang lebih sempurna. Jadi ngapain mengamalkan yang versi lama? Mending amalkan versi terakhirnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِ بِهَا بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ؟! لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي رواه أحمد والدارمي وغيرهما.

“Apakah dalam hatimu ada keraguan, wahai Ibnul Khottob? Apakah dalam taurat (kitab Nabi Musa, pen) terdapat ajaran yang masih putih bersih?! (Ketahuilah), seandainya saudaraku Musa hidup, beliau tetap harus mengikuti (ajaran)ku.” (HR. Ahmad 3: 387, Ad Darimi dalam Al Muqoddimah, 1:115-116, Al Bazzar dalam Kasyful Astar 1: 78-79 no. 124, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah 1: 27 no. 50, Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih, Bab Menelaah Kitab Ahli Kitab dan Riwayat dari Mereka 1: 24)

Lagi pula, kitab-kitab sebelum Alquran juga sudah di rusak isinya, tidak otentik, tidak asli, sudah berubah.

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah: 79)

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. ” (QS. Ali Imron: 78)

Nabi-nabi sebelumnya, yang datang membawa syariat dan wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala , sejatinya adalah proses tahapan demi tahapan yang harus dilakukan untuk menyempurnakan agama Allah (Islam). Kenapa harus dalam proses bertahap demi bertahap? Karena umat manusia pada masa itu belum sanggup untuk menerima wahyunya. Orang, kalau dalam tradisinya sudah mendarah daging (misal, tradisi minum khamr), tidak bisa begitu saja langsung di haramkan. Kalau langsung di haramkan yakinlah pasti wahyu para nabi langsung ditolak. Hal itu pula yang disampaikan nabi Isa Allaihissalam, beliau berkata bahwa ada hukum yang masih belum disampaikan. Tapi hukum tersebut tidak akan sanggup untuk diterima atau di tanggung umat nabi Isa allaihissalam kala itu.

“Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku …” (Yohanes 16: 12-14)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu: Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan Nabi-Nabi sebelumku seperti seseorang yang membangun suatu rumah lalu dia membaguskannya dan memperindahnya kecuali tempat satu labinah (batu bata) yang berada di pojok (rumah tersebut), lalu manusia mengelilinginya dan mereka terkagum-kagum dengannya sambil berkata:
Alangkah baiknya jika batu bata ini diletakkan (di tempatnya).
Beliau bersabda:

Maka akulah batu bata itu dan aku adalah penutup para Nabi.

Penjelasan:

Bangunan (Islam) itu di bangun dari tumpukan beberapa batu bata. Batu bata itulah Para nabi yang membawa syariat demi syariat. Tiap nabi menempatkan satu batu bata (total ada. 124.000 nabi). Setelah tersusun 123.999 batu bata, tersisalah 1 batu bata terakhir yang belum di pasang, dan batu terakhir itu adalah NABI Muhammad shalallahu alaihi wasallam, yaitu penyempurna Islam (batu bata terakhir yang akan menyempurnakan bangunan (Islam) itu.

Wallahua’lam bishawab

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Leave a Reply

Your email address will not be published.*
*
*