Assunnah.ID

Media beramal jariyah dengan dakwah sunnah

Konsekuensi dan Kelemahan dari Takwil & Pemahaman yang Menolak “Allah Diatas Arsy”

Posted on

Argumen: Tapi saya ada sih 1 hal. Allah itu bukan mahluk melainkan khalik. Tidak membutuhkan tempat, sedangkan pemahaman Ibn Wahab Allah duduk di atas arsy. Apalagi sama Ustad masa kini kadang disebut Allah ada di langit, sedangkan definisi langit adalah arah di luar bumi yang bulat, entah atas bawah kiri kanan sama sama mengarah ke langit

Allah di atas Arsy, kalau anda tidak mengimaninya, lalu mau anda buang kemana firman Allah dalam Alquran yang banyak itu, yang berkata Allah di atas Arsy? Semua tertuang dalam Surat:

  • Al-A’raf: 54,
  • Yunus: 3,
  • Ar-Ra’d: 2,
  • Al-Furqan: 59,
  • As-Sajdah: 4
  • Al-Hadid: 4
  • QS Thaha :5

Allah sendiri lah yang berfirman bahwa Dirinya ada di atas Arsy.

Orang-orang yang beriman bahwa Allah berada di atas Arsy juga tidak ada yang menyebut Tuhannya sebagai makhluk. Allah itu tidak menjelaskan wujudnya kecuali beberapa. Karena wujudnya unknown, maka kadang disebut juga dengan zat. Sesuatu yang ada tapi tidak diketahui wujudnya. Kalau seseorang mengaku tau atau mampu membayangkan wujud Allah, maka yang ia bayangkan itu bukan Allah, dan ia pasti telah berdusta, juga bersikap lancang kepada Allah. Karena Allah berfirman:

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Artinya:
dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (QS Al-Ikhlas:4)

Tidak ada yang setara dengan Allah, jangankan di langit dan di bumi, dipikiran dan halusinasi manusia pun tidak ada yang setara dengan Dia.

Dari sini saja sudah nampak siapa yg mengikuti dan menyelisihi Alquran.

Lalu, anda berkata seperti ini:

“kalau Allah berada di atas Arsy, kalau begitu Allah butuh kepada tempat?”

Itulah salah satu kesalahan orang-orang berpemahaman Asy’ariyah. Mereka percaya kalau Allah tidak ada yang serupa dengannya, tapi saat disebut Allah ada di atas Arsy, pikiran mereka langsung berhalusinasi membayangkan bagaimana posisi Allah di atas Arsy, trus kalau Allah ada di atas Arsy berarti Allah membutuhkan Arsy, sebagaimana manusia membutuhkan tanah atau bumi untuk berdiri. Padahal sudah jelas, Allah tidak bisa dibayangkan, dan tidak ada yang serupa dengan Allah meski dalam bayangan manusia.

Mereka dalam kebingungan yang tiada henti-henti. Saya jadi berpikir, kok bisa mereka tidak mampu berfikir dan merenungi, bagaimana bisa langit berada di atas bumi tapi langit tidak membutuhkan bumi untuk bisa membentang/bersemayam. Dan awan pun tidak membutuhkan bumi untuk bisa melayang di udara. Matahari tidak membutuhkan bumi untuk bisa menyinari tata surya. Begitu pula bulan dan bintang tidak butuh bumi untuk bisa menghiasi malam.

Jangan bayangkan pakai akalmu bagaimana Allah di atas, atau di atas Arsy, lalu kamu samakan Allah seperti manusia. Kalau Allah di atas Arsy berarti Allah butuh tempat, begitu? Sama seperti manusia kalau berdiri atau duduk di atas tanah berarti manusia butuh tanah/bumi?

Akalmu, otakmu itu seperti butiran debu dibelah 1000 di semesta ini. Artinya otakmu punya keterbatasan. Bagaimana bisa membayangkan kekuasaan Allah dengan otak yang punya banyak keterbatasan itu? Bagaimana bisa kamu membayangkan Allah sama seperti manusia, yang kalau dikatakan Allah ada di atas Arsy lalu pikiranmu langsung mengira Allah butuh tempat, Allah butuh arah? Padahal ujung ruang angkasa saja masih belum ada manusia yang bisa menjangkaunya.

Padahal Alquran itu Allah mudahkan untuk di pahami. Allah berada di atas Arsy, ya cukup imani demikian (apa adanya). Padahal mereka-mereka yang berpemahaman Asy’ariyah ini cukup mudah mengimani “Alif Lam Mim” dalam QS Al-baqarah sebagaimana adanya, sebagaimana ia tertulis tanpa mencari-cari maknanya. Tapi entah kenapa mereka begitu sulit mengimani “Allah di atas Arsy” sebagaimana adanya tanpa mencari-cari “bagaimananya” (Allah di atas Arsy).

Jangan di tanya bagaimana Allah beristiwa’ di atas Arsy, karena akalmu gak bakal sanggup.

Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لاَ تَضَامُّوْنَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اْستَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوْا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَصَلاَةٍ قَبْلَ غُرُوْبِهَا فَافْعَلُوْا

Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini (dalam permulaan hadits, diceritakan; waktu itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang melihat bulan yang tengah purnama). Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihatNya (ada yang membaca la tudhamuna tanpa tasydid dan di dhammah ta’nya, artinya: kalian tidak akan ditimpa kesulitan dalam melihatNya). Oleh karena itu, jika kalian mampu, untuk tidak mengabaikan shalat sebelum terbit matahari (Subuh) dan shalat sebelum terbenam matahari (Ashar), maka kerjakanlah.

  1. Shahih Bukhari, Fathul Bari, XIII/419, hadits no. 7434,
  2. Muslim Syarah Nawawi, tahqiq Khalil Ma’mun Syiha, V/135, hadits no. 1432, Bab Fadhli Shalati Ash Shubhi Wal ‘Ashri Wal Muhafazhah ‘Alaihima.
  3. Tirmidzi, no. 2551; Shahih Sunan At Tirmidzi, III;
  4. Ibnu Majah, Shahih Sunan Ibni Majah, I, no. 147/176, dll

Dari sini saja sudah jelas bukan kalau Allah ada di atas (dan memiliki arah)

Hadits di atas sangat jelas menunjukkan Allah ada di mana. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa manusia bisa melihat Allah di akhirat sebagaimana mereka melihat rembulan di malam hari. Artinya apa? Artinya Allah berada di atas, sebagaimana bulan juga ada di atas. Hikmahnya, dengan Allah di atas, seluruh manusia bisa melihatnya dari segala arah dan tempat tanpa perlu berebut tempat di akhirat nanti. Sebagaimana bulan pun bisa dilihat seluruh umat manusia dimanapun mereka berada.

Juga diperkuat dengan hadits Abu Hurairah berikut:

أَن النَّاسَ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: هَلْ تُضَارُّوْنَ فِى الْقَمَرِ لَيِلَةَ الْبَدْرِ ؟ قَالُوْا: لاَ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ : فَهَلْ تُضَارُّوْنَ فِى الشَّمْسِ لَيْسَ دُوْنَهَا سَحَابٌ؟ قَالُوْا: لاَ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ : فَإِنَّكُمْ تَرَوْنَهُ كَذَلِكَ…الحديث.

Sesungguhnya orang-orang (para sahabat) bertanya,”Wahai, Rasulullah. Apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat nanti?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya,”Apakah kalian akan mengalami bahaya (karena berdesak-desakan) ketika melihat bulan pada malam purnama?” Mereka menjawab,”Tidak, wahai Rasulullah.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi,”Apakah kalian juga akan mengalami bahaya (karena berdesak-desakan) ketika melihat matahari yang tanpa diliputi oleh awan?” Mereka menjawab,”Tidak, wahai Rasulullah.” Maka Beliau bersabda,”Sesungguhnya, begitu pula ketika kalian nanti melihat Rabb kalian”…sampai akhir hadits. [Bukhari dalam Shahih-nya, no. 7437; Fathul Bari, XIII/419]

Kesalahan lainnya dari orang-orang Asy’ari dalam memahami Alquran adalah, mereka mentakwil Alquran dengan isi kepala mereka sendiri. Mereka berandai-andai, berangan-angan dengan akal mereka yg limited itu untuk membayangkan sifat Allah. Allah berfirman punya tangan, mereka mentakwil bahwa itu “kekuasaan”. Padahal Al-quran ini sederhana untuk bisa di pelajari, sebagaimana firman Allah:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)

Kalau mempelajari Alquran harus mentakwil, itu artinya Alquran sulit di pelajari (padahal Allah berfirman kitabnya mudah dipelajari). Kenapa? Karena kalau di takwil, itu artinya untuk memahami Alquran ini harus dibayangkan dulu pakai akal manusia yang tidak konsisten, yang satu manusia akalnya berbeda dengan manusia lainnya. Si A (kelompok A) misalnya, akan mentakwil bahwa “tangan Allah berarti kekuasaan Allah”. Sementara si B akan mentakwil bahwa “Tangan Allah itu berarti kemampuan Allah”. Lalu ada kelompok C mentakwil bahwa “tangan Allah adalah kasih sayang Allah”. Semua bisa digunakan, dan masih related kepada takwil “tangan Allah”. Itu baru 3 contoh, kalo saya gak lagi laper mungkin saya bisa menakwilkan “tangan Allah” sampe seratusan. Ya makin njelimet lah Alquran.

Sementara orang-orang yang beriman bahwa Allah berada di atas Arsy, mereka mengimani “tangan Allah” bahwa Allah memiliki tangan, tapi mereka beriman apa adanya bahwa Allah memiliki tangan, tanpa membayangkan atau menentukan bagaimana bentuk tangan Allah. Yang jelas, tidak ada makhluk yang menyamainya.

Sedangkan tangan manusia dengan tangan beruang (hewan) saja berbeda kok. Apalagi tangan manusia dengan tangan tuhannya. Ya jelas gak sama. Gitu aja kok repot.

Allah di Atas itu Firah Manusia

Dan satu lagi, “Allah di atas” itu sudah menjadi fitrah manusia. Saat berbicara Allah biasanya banyak orang bilang “Allah di atas”. Kalau berserah diri biasanya orang akan berkata “kita serahkan kepada yang di atas”. Gak ada lah orang yang bilang “Kita serahkan kepada…:

  1. (Allah) yang ada di mana-mana
  2. (Allah) yang tidak ada dimana-mana
  3. (Allah) yang tidak terikat arah
  4. (Allah) yang bersemayam di dalam diri setiap manusia.

Manusia fitrahnya saat menunjuk Allah selalu arahnya ke atas. Bukan seperti poin 1–4 di atas. Jangankan muslim, orang nasrani dan Yahudi pun mungnkin kalau ditanya Allah dimana, mereka akan jawab di atas. Atau gak usah jauh-jauh di agama lain deh, dedengkotnya Asya’irah di Indonesia juga sama, mereka masih dalam fitrah, sering saat ceramah mereka ke-gap berkata Allah di atas. Cuma entah mengapa mereka pake standar ganda, selain saat ceramah sering bilang Allah (sambil menunnjuk ke atas), tapi dalam keyakinannya (dalam hati) mereka berusaha menolak kalau Allah ada di atas, berusaha keluar dari fitrahnya. Gak percaya? Tonton aja video dibawah di menit-menit terakhir.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Leave a Reply

Your email address will not be published.*
*
*