Assunnah.ID

Media beramal jariyah dengan dakwah sunnah

Apa Pertanyaan Atheis yang Tidak Bisa Dijawab oleh Orang yang Beragama? Part 1

Posted on

Sejumlah orang berpemahaman Atheis memiliki banyak pertanyaan yang menurut klaim mereka, orang agama tidak mampu menjawabnya. Berikut ini adalah beberapa pertanyaan mereka, termasuk jawaban yang datang dari Al-Quran.

1. Jika tuhan itu ada, kenapa dia tidak menunjukkan wujudnya saja biar tidak ada satupun di dunia ini yg Atheis.

Jawab:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS Al-Araf: 143)

Jawaban ini juga terkait dengan pertanyaan:

  1. Mana Tuhan? Apa bisa kau tunjukkan Tuhan yang kau sebut-sebut dan puja itu

2. Buat apa dia menciptakan alam semesta jika pada akhirnya akan dihancurkan.

Jawab:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Ali ‘Imran/3:190-191) .

Jawaban ini juga terkait dengan pertanyaan:

  1. Apa kalian punya bukti bahwa Tuhan itu ada?

Kenapa dihancurkan (kiamat) ?

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang Kiamat, ‘Kapankah terjadinya?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu adalah pada sisi Rabb-ku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’” [Al-A’raaf: 187]

3. Jika yang semua ada adalah karena adanya Pencipta, lalu siapa yang menciptakan tuhan?

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ


1. Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa.

اللَّهُ الصَّمَدُ


2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ


3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ


4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.

Jawaban ini juga terkait dengan pertanyaan:

  1. Apakah tuhan berwarna seperti merah kuning hijau biru nila dll
  2. Apakah Tuhan mempunyai anak, istri, bapak ?
  3. Apakah Tuhan terbuat dari batu,tepung dll.
  4. Apakah Tuhan mempunyai suara katanya sering berfirman ?

4. Mengapa ada Penderitaan & kejahatan

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” [Al-Mulk/67:2]

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” [Al-Anbiyaa’/21:35]

Jawaban ini juga terkait dengan pertanyaan:

  1. Jika tuhan maha baik, maha melihat, maha mendengar, maha pengampun, maha penyayang dan maha pengasih kok bisa-bisanya membiarkan anak kecil sampai meninggal karena KDRT, banyak yang korbannya belum sampai 1 tahun. Ada dimana kemaha tuhanannya?
  2. Kalau Tuhan Maha Baik, mengapa masih ada hal-hal buruk yang terjadi hingga sekarang?
  3. Apakah Tuhan mau tapi tidak mampu melenyapkan kejahatan? Jika ya, berarti Dia tidak Maha Kuasa.
  4. Apakah Tuhan mampu, tapi tidak mau melenyapkan kejahatan? Jika ya, berati Dia tidak Maha Pengasih.
  5. Jika Tuhan mampu dan mau melenyapkan kejahatan, mengapa masih ada kejahatan sampai sekarang? dan jika Tuhan tidak mau dan tidak mampu melenyapkan kejahatan, mengapa masih disebut Tuhan?

5. Apa bukti keberadaan surga dan neraka?

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

“Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al An‘am: 59)

Tidak semua yg tidak pernah dilihat mata manusia, tidak semua yang tidak pernah dirasakan panca indera manusia itu berarti tidak ada. Tidak terlihat dan tak terasa itu bukan berarti tidak ada. Termasuk surga dan neraka, tidak terlihat bukan berarti tak ada.

Saya tanya, ada berapa triliun bintang (matahari) di semesta ini? Dari sekian triliun bintang, ada berapa tata surya (planet) yg mengelilingi triliunan bintang itu?

Dari sekian banyak planet yg tak terhitung itu, ada berapa banyak planet yang memiliki satelit alaminya (bulan) sendiri?

Dari semua bintang, planet, dan satelit itu, adakah planet yg tidak terlihat, terjamah, dan belum ditemukan oleh manusia dengan sains mereka, terutama yang terekam kamera?

Jelas, ada banyak sekali. Dan masing-masing planet pastilah memiliki dunianya sendiri. Semua itu tidak atau belum dirasakan dan ditemukan manusia. Tapi bukan berarti tidak ada, bukan!? Maka seperti itulah surga. Ia tidak terjangkau manusia, tapi belum tentu tidak ada dunia yang disebut oleh manusia itu dengan istilah “surga” dan “neraka”.

Otak manusia ini kecil, kecil sekali untuk bisa menemukan, menjangkau, apalagi mengindeks sesuatu yang seluas alam semesta.

Jawaban ini juga terkait dengan pertanyaan:

  1. Apa kalian punya bukti bahwa Tuhan itu ada?

6. Ada 4200 Agama di Dunia ini. Jika tuhan memang ada, Tuhan yang mana?

Sebaiknya gunakan faktor eliminasi. Yg tidak meyakinkan, segera singkirkan. Saya tidak tau apa saja agama yg 4200 itu. Tapi ini bisa membantu:

  • Agama yang menuhankan patung: datangi patung yang mereka sembah, penggal lehernya. Jika Ia tidak bisa menyelamatkan diri sendiri, bagaimana mungkin dia bisa menyelamatkan manusia? Eliminasi semua agama bertuhankan patung.
  • Agama yang menyembah api: datangi api itu dan siram dengan air, atau padamkan dengan alat apapun. Jika ia tidak bisa melindungi dirinya sendiri, bagaimana ia bisa melindungi umat manusia. Lalu eliminasi.
  • Agama yang menyembah matahari: lihatlah jika ia tidak bisa menyinari seluruh dunia terus menerus, bagaimana bisa ia memberi rizki seisi dunia.
  • Agama yang menyembah manusia: tebas perutnya, tusuk jantungnya, salibkan bila perlu. Jika ia mati, maka ia tidak pantas disebut tuhan.
  • Agama yang menuhankan sapi. Bagaimana mungkin aku mampu memakan tuhanku sendiri?
  • Dst…
  • Dst…
  • Dst…
  • Pada akhirnya, tantangan ketuhanan atau pertanyaan tuhan yang benar itu akan Kembali ke jawaban poin ke-3.

Cara tersebut diatas adalah sesuai dengan apa yang dilakukan oleh nabi Ibrahim Allaihissalam.

۞ وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً ۖ إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.

وَكَذَٰلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.

فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”.

فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

QS Al-An’am: 74–79

Cara lainnya, lihat kitabnya. Apakah ada kontradiksi?

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا


Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS An-nisa: 82)

Cara lainnya, coba cari siapa yg mampu membuat kitab suci yang semisal dengan Alquran.

ﻗُﻞْ ﻟَﺌِﻦِ ﺍﺟْﺘَﻤَﻌَﺖِ ﺍﻟْﺈِﻧْﺲُ ﻭَﺍﻟْﺠِﻦُّ ﻋَﻠَﻰٰ ﺃَﻥْ ﻳَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﻤِﺜْﻞِ ﻫَٰﺬَﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻟَﺎ ﻳَﺄْﺗُﻮﻥَ ﺑِﻤِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻟِﺒَﻌْﺾٍ ﻇَﻬِﻴﺮًﺍ

Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’ân ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. (Al-Israa:88)

7. Apakah yang dimiliki manusia tapi tidak dimiliki oleh Tuhan?

Jawab:

أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ ۚ بَلَىٰ وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ

Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.

فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.

(QS Yasin: 81-83)

8. Jika tuhan bersifat maha pengasih (ar-rahman), maha penyayang (ar-rahim), maha pengampun (al-ghaffaar), maha pemaaf (al-afuww), maha pemurah (al-kariim), maha mengasihi (al-waduud), maha melindungi (al-waliyy), maha sabar (as-shabuur), mengapa dia membuat neraka dan memasukkan manusia ke dalamnya?

Jawab:

Karena Allah juga:

  • Al Mudzil (المذل) : Yang Maha Menghinakan
  • Al Hasiib (الحسيب) : Yang Maha Membuat Perhitungan
  • Al Muntaqim (المنتقم) : Yang Maha Pemberi Balasan

اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-maidah: 98)

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُوْر ُالرَّحِيْمُ. وَ أَنَّ الْعَذَابِيْ هُوَ الْعَذَابُ الْعَلِيْمُ

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sungguh Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, dan bahwa sungguh azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. al-Hijr: 49-50).

9. Nyawamu ada di tanganku saat ini, sekarang katakan, aku atau Tuhanmu itu yang bisa menyelamatkanmu?

Nyawamu ada di tanganku saat ini, sekarang katakan, aku atau Tuhanmu itu yang bisa menyelamatkanmu

Jawab:

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لا يُفَرِّطُونَ

Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat- Malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. (QS. Al-An’am: 61)

Pertanyaan terkait:

  1. Ada dimana malaikat? Kembali ke pertanyaan #5

10. Seandainya aku tidak melakukan operasi/tindakan ini dan membiarkan saja keadaanmu dan pasrah kepada Tuhan, apakah kamu akan tetap hidup?

Jawab:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS Al-Hadid: 22)

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (Qs. at-Taghabun: 11)

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. (QS Ar-rahman: 26)

11. Siapa yang Menciptakan Kebaikan dan Keburukan

Jawab:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” [al-Qamar: 49].

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. (QS As-Saffat Ayat 96)

Pertanyaan Terkait:

  1. Kenapa Allah menciptakan keburukan: Kembali ke pertanyaan #4. Dalam ujian, pasti ada persoalan. Dan dalam persoalan ada 2 kemungkinan (hasil) jawaban, yaitu benar dan salah. Ujian tidak dianggap ujian jika semua jawaban adalah benar, berlaku sebaliknya. Begitu pula ujian Allah, ada kebaikan dan keburukan. Ujian tidak dianggap ujian jika hanya ada kebaikan, atau semua hal dianggap baik. Harus ada keburukan.
  2. Kalau Allah yang menciptakan keburukan, kenapa menyandarkannya pada manusia? Karena Allah memberi manusia kehendak bebas untuk menentukan atau memilih akan melakukan kebaikan atau keburukan. Allah-lah yang memberi “soal”, dan manusialah yang memilih “jawabannya”.
  3. Kalau Allah sudah menakdirkan setiap yang terjadi di Bumi dan setiap perbuatan makhluk, berarti Allah sudah menetapkan kita ke surga/neraka. Maka untuk apa kita ibadah? Karena toh yang terlahir kafir (kemungkinan besar) akan tetap kafir, yang ditakdirkan suka maksiat akan tetap ke neraka: Jawabnya, ada 2 takdir, yaitu yang Allah tetapkan dan tak bisa diubah (contoh: kelahiran, kematian, dll), dan takdir yang bisa di ubah (prestasi, ekonomi, agama, perbuatan, dll). Dalam hal agama/keimanan dan perbuatan, hal ini diserahkan kepada makhluk. Makhluk memiliki kehendak bebas untuk berbuat, apakah yg baik atau yang jahat. Sementara Allah yang Maha Mengetahui, sudah mengetahui kau akan berbuat apa saja di dunia ini (mengetahui masa depan) , tanpa menetapkan kau harus pasti dan mutlak berbuat A atau B.

Jawaban ini juga terkait dengan pertanyaan:

  1. Asal muasal kejahatan/dosa. Kitab Suci menyatakan bahwa TUHAN adalah pencipta segala sesuatu yang Mahabaik, akan tetapi Kitab Suci juga menyatakan bahwa TUHAN tidak menciptakan dosa/kejahatan. Lalu mengapa faktanya ada dosa/kejahatan di dunia? Dari mana asalnya dosa/kejahatan?
  2. Kalau Tuhan Maha Baik, mengapa masih ada hal-hal buruk yang terjadi hingga sekarang?

12. Jika Tuhan itu Mahabesar, mengapa Dia masih tunduk pada kebenaran dan keadilan? Jika demikian, maka Tuhan tidak Mahabesar karena ada yang lebih besar darinya yaitu kebenaran dan keadilan itu sendiri.

Jawab:

Kembali ke pertanyaan #11 (sebenarnya pertanyaan ini gak masuk akal – begitu pula dengan pertanyaan 13 – kalo dibawa ke dalam konteks Islam. Karena Allah-lah yang menciptakan kebenaran dan keadilan itu sendiri. Dan sesuatu yang Ia ciptakan tidak mungkin lebih besar dari pada Allah sendiri sebagai penciptanya. Tapi mungkin yang bertanya ini adalah “mantan” umat agama lain).

13. Jika jawabannya adalah karena Tuhan adalah kebenaran dan keadilan itu sendiri, artinya Tuhan terikat pada dirinya sendiri dan itu yang menjadikan dia tidak Mahakuasa.

Jawab:

Tidak, Allah bukanlah kebenaran dan keadilan, melainkan kebenaran dan keadilan adalah perkara yang Allah ciptakan. Silahkan kembali ke pertanyaan #3 & #11. Meskipun “Maha benar” dan “maha adil” adalah salah dua sifat Allah untuk menunjukkan bahwa Dia-lah zat yang paling benar dan paling adil.

14. Jika Tuhan Mahakuasa, mengapa Dia terikat pada janjinya kepada manusia dan para nabi?

Jawab:

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۗ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah? (QS An-nisa: 87)

Kalau Allah mengingkari janjinya, maka itu artinya firman Allah tidak benar. Justru dengan memenuhi janjilah maka Allah menjadi MAHA BENAR.

Dan salah satu dari sifat Allah adalah Al `Adl (العدل) = Yang Maha Adil. Bagaimana bisa Allah bersifat adil jika Ia tidak menepati janji pada makhluknya, sementara Allah memerintahkan hambanya untuk menepati janji. Tidaklah Allah menzalimi kalian, melainkan kalianlah yang menzalimi diri kalian sendiri.

وَنَادَىٰ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابَ النَّارِ أَنْ قَدْ وَجَدْنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقًّا فَهَلْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا ۖ قَالُوا نَعَمْ ۚ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنٌ بَيْنَهُمْ أَنْ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada Penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): “Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?” Mereka (penduduk neraka) menjawab: “Betul”. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: “Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim, (QS Al-Araf: 44)

15. Mengapa anda bisa meyakini apa yang saya tidak yakini?

Jawab:

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.

وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

(QS Az Zariyat: 20-21)

16. Kalau Tuhan itu Maha Kuasa, bisakah Tuhan menciptakan suatu batu yang Ia sendiri tidak bisa angkat?

Jawab:

Sebaliknya anda yang mampu naik ke atas dan turun ke bawah, bisakah anda naik ke bawah dan turun ke atas?

Ya, pertanyaan saya diatas tidak ada jawabannya. Kenapa? Karena pertanyaan saya itu SALAH. sama seperti pertanyaan Tuhan mencipta batu yang ia tidak bisa angkat. Itu adalah pertanyaannya yang salah.

Kenapa saya berkata bahwa pertanyaan itu salah, karena didalam pertanyaan itu ada dua esensi yang saling bertolak belakang.

Esensi pertama: Dia maha kuasa atas segala sesuatu. Dia kuasa mencipta segala hal.

Esensi kedua: mencipta batu yang Dia tidak bisa mengangkatnya (dengan kata lain, Dia tidak kuasa mengangkat batu.)

Begitulah pertanyaan ini, terdapat dua esensi yang bertolak belakang. Pada pertanyaan itu, di satu sisi ditegaskan Dia bisa segalanya, tapi di sisi lain dikatakan Dia tidak mampu mengangkat batu. Ini bertolak belakang.

Sama juga seperti pertanyaan:

  1. Bisakah anda berenang di udara? Atau
  2. Bisakah anda terbang dalam air?
  3. Bisakah anda menggali air?
  4. Bisakah anda menggali udara?
  5. Bisakah anda menggambar kucing kurus yang gemuk?
  6. Bisakah anda merapikan rumah agar berserakan?
  7. Bisakah anda menyerak rumah agar rapi?
  8. Bisakah anda menggambar persegitiga yang bulat?

Ya, seluruh pertanyaan diatas itu salah. Pertanyaan di atas hanyalah permainan kata-kata. Mereka para Atheis ini mengklaim diri mereka logis dan segala hal tentang apa yang ada di dunia harus sesuai nalar mereka. Tapi disisi lain pertanyaan mereka malah tidak logis dan tidak bisa di nalar oleh akal. Pertanyaannya bertentangan.

Jawaban ini juga terkait dengan pertanyaan:

  1. Dapatkah Tuhan menciptakan suatu benda yang begitu beratnya hingga Ia sendiri pun tak dapat mengangkat benda itu? Jika ia mampu membuatnya, berarti Tuhan tidak Maha Kuasa karena tidak mampu mengangkat benda itu, jika tidak mampu membuatnya maka ia tidak Maha Kuasa karena tidak mampu menciptakan benda tersebut.

17. Jika Tidak Ada yang Tidak Mungkin Bagi Tuhan, Mungkinkah Tuhan Mempunyai Anak?

Pertanyaan ini sama seperti jika saya bertanya kepadamu:

Si Dedi baru saja melahirkan, apa jenis kelamin anak si Dedi?

Apa yang aneh dengan pertanyaan diatas? Ya, pertanyaan diatas salah sedari awal. Gak perlu jawab kelamin anak si Dedi itu Laki atau Perempuan. Lah wong Si Dedi itu laki-laki. Laki-laki itu kan sifatnya tidak beranak. Maka pertanyaan itu tidak relevan dengan sifat si Dedi sebagai lelaki.

Dalam kasus Allah (Tuhan), jika diberikan pertanyaan “Jika tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan, mungkinkah Tuhan mempunyai anak?”, ya pertanyaan tsb sudah salah. Karena tuhan itu sifatnya tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Pada akhirnya, Allah (Tuhan) itu…

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ

Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.

اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ

Allah tempat meminta segala sesuatu.

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ

(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.

وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ

Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.”

QS Al-Ikhlas

18. Buraq yang Tidak Masuk Akal!

Ada banyak celaan yang dilontarkan para Atheis tentang makhluk yang mereka sebut sebagai Buraq, “makhluk mitologi” yang bersumber dari Islam. Beberapa mencantumkan gambar yang gambar tersebut sama sekali tidak merepresentasikan Buraq yang di maksud. Sebagai orang beriman, saya hanya beriman pada apa yang diberitakan oleh dalil. Sementara selain dari itu maka saya tidak percaya sama sekali, termasuk gambaran Buraq memiliki sayap. Ini tidak ada dalilnya.

Berdasarkan dalil dari hadits nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, berikut beberapa ciri Buraq yang dikabarkan kepada kami:

  1. Bentuknya seperti binatang tunggangan
  2. Ukurannya lebih tinggi dari keledai dan lebih pendek dari bighal. (Bighal adalah peranakan hasil perkawinan antara kuda dengan keledai)
  3. Berwarna putih
  4. Langkah kakinya, sejauh ujung pandangannya.
  5. Bisa diikat sebagaimana layaknya hewan tunggangan

Ciri diatas lah yang di khabarkan pada kami, berdasar dalil:

dari Malik bin Sha’sha’ah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kejadian isra mi’raj.

وَأُتِيتُ بِدَابَّةٍ أَبْيَضَ، دُونَ البَغْلِ وَفَوْقَ الحِمَارِ: البُرَاقُ

Dibawakan kepadaku hewan tunggangan berwarna putih, lebih pendek dari bighal dan lebih tinggi dari pada keledai. Yaitu buraq. (HR. Bukhari 3207)

dari Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثُمَّ أُتِيتُ بِدَابَّةٍ أَبْيَضَ، يُقَالُ لَهُ: الْبُرَاقُ، فَوْقَ الْحِمَارِ، وَدُونَ الْبَغْلِ، يَقَعُ خَطْوُهُ عِنْدَ أَقْصَى طَرْفِهِ، فَحُمِلْتُ عَلَيْه

Kemudian dibawakan kepadaku seekor hewan tunggangan putih, namanya Buraq. Lebih tinggi dari pada keledai dan lebih pendek dari bighal. Satu langkah kakinya di ujung pandangannya. Lalu aku dinaikkan di atasnya. (HR. Ahmad 17835, Muslim 164, dan yang lainnya).

Sesampainya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjidil aqsha, beliau shallallahu ’alai wa salam mengikat buraqnya di tempat yang biasa digunakan para nabi untuk mengikat tunggangannya. Beliau berkata

فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ

Aku mengikat buraq di salah satu pintu masjid baitul maqdis, tepat di mana para nabi mengikatkan hewan tunggangan mereka (Muslim no. 162, Abu Ya’la dalam musnadnya 3375)

Saya tidak akan mengklaim bahwa semua ciri dan kemampuan buraq diatas bisa di nalar oleh logika manusia saat ini. Tapi Argumen anda para Atheis tentang Buraq bisa saya balikan.

Tahukah anda apa yang anda katakan perihal Buraq sudah dikatakan oleh orang-orang kafir jahil Quraish kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sekitar 1400 tahun yang lalu? Ya, sudah dikatakan. Dari kisah ini Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sudah di klaim sebagai pendusta. Dulu sekitar 1400 tahun yang lalu oleh kafir Quraish, juga sekarang oleh kalian.

Kita semua tau bahwa pada masa itu, pergi ke langit ke-7 dalam waktu semalam dengan Buraq yang memiliki kecepatan sangat tinggi itu omong kosong. Semua orng pada zaman itu menganggap hal itu bualan Muhammad (shalallahu alaihi wasallam) belaka. Pergi dari Masjidil Haram ke Aqsha (isra’) lalu berangkat ke sidiratul muntah (mi’raj) hanya dalam waktu satu malam. Siapa yang percaya? Apalagi pada masa itu dimana perjalanan paling cepat Hanya bisa mengandalkan unta saja, yang waktu tempuh dari Mekkah ke Madinah saja bisa sampai berhari-hari.

Tapi Faktanya, sekarang kita bisa melakukannya bukan? Memang masih belum bisa mencapai langit tertinggi, tapi setidaknya sudah ada pesawat yang kecepatannya mencapai kecepatan suara, bahkan lebih. Hal yang dianggap mustahil di waktu dulu, nyatanya sedikit demi sedikit bisa dilakukan manusia sekarang ini.

Jadi, perihal sesuatu yang tidak masuk akal dalam ajaran Islam, perlahan-lahan, pelan-pelan memang sudah banyak yang terbuktikan. Bukan ajaran Islam yang tidak masuk akal, tapi akal manusia yang belum mampu menalarnya. Karena otak manusia memiliki banyak keterbatasan. Termasuk keterbatasan waktu dalam mengembangkan pengetahuan. Dibatasi oleh kematian, dibatasi oleh akhir zaman.

Lagi pula, jika kita berbicara hewan, di Bumi ini saja masih ada banyak hewan yang kita belum pernah melihatnya. Bisa dibuktikan dengan temuan-temuan spesies atau jenis hewan baru, yang hewan itu memiliki kemampuan di luar akal manusia selama ini. Tapi begitu ilmuwan menemukannya, maka akal manusia baru berfikir “oooh… ada juga hewan seperti itu ya, oooh… unik juga kemampuan melindungi diri binatang itu ya…”. Ya, dulu manusia sebelum mampu menyelami laut dalam tidak pernah menyangka kalau ada ikan yang memiliki lampu di kepalanya. Tapi lambat laut manusia mengetahui uniknya makhluk di laut dalam. Jadi kenapa kalian heran dengan sesuatu yang disebut Buraq itu? Karena kan kalian saja yang tidak pernah melihatnya.

19. Jika manusia tidak mengakui adanya Tuhan, maka apakah Tuhan masih ada?

>Dalil Alquran:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Hai manusia, kamulah yang sangat butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

Allâh, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Al-Hayyu (Yang Hidup kekal) Al-Qayyum (terus menerus mengurus makhluk-Nya). [Ali Imran/3: 2]

>Dalil Assunnah:

Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 2577)

Dalil Akal:

Cooming Soon…

Wallahua’lam bishawab…

FAQ

Q: Kok jawabnya pakai dalil? Pakai akal yg bisa diterima otak dong, jangan pakai “Dogma”

A: bagaimana mungkin aku memperbolehkan engkau mendebatku dengan akal sebagai dalilmu, yang mana akal adalah basis keyakinanmu. Sementara engkau melarangku menggunakan ayat Alquran, yang mana Alquran dan Hadits adalah basis keyakinanku. Sama sekali tidak balance. Bagaimana kalau aku melarangmu menggunakan akal, agar lebih balance?

Aku tidak pernah mempermasalahkan ke-Atheisanmu. Silahkan gunakan akalmu, gunakan sains mu. Tapi kenapa kalian mempermasalahkan keimananku? Terserah aku mau beriman atau tidak.

Q: Apa pertanyaan ateis yang tidak bisa dijawab oleh orang yang beragama?

A: Bukan tidak bisa dijawab. Semua bisa di jawab. Dan sudah kujawab (based on ilmu dari Allah) . Permasalahannya adalah: Apakah anda akan menerimanya? Kalau tidak terima, itu lain cerita lagi. Karena yang penting kan pertanyaannya sudah terjawab. Apakah anda mau menerima atau tidak jawabannya, itu bukan urusan saya. Yang penting sudah dijawab.

B. G: Seperti inilah jawaban dari orang yang tersinggung…

A: Daripada menerawang isi hati saya bak dukun ngalur ngidul, saya lebih menyukai jawaban khas Atheis 😁

Tidak semua Atheis bisa / mampu / mau menerima jawaban itu, dan menerima pesan-pesan-Nya. Karena sejatinya hidayah hanya milik Allah saja. Dan Allah maha tau siapa-siapa yang mau menerima petunjuk.


Kalau ada debat dan diskusi, silahkan debat dan diskusi sendiri saja. Karena saya sudah menyelesaikan tantangannya, yaitu menjawab pertanyaan yang mereka kira tidak bisa dijawab oleh orang2 beragama. Sudah saya jawab toh?

Saya males aja menjawabi debat orang lain. Sakit di kepala, merah di mata, sumpek di hati, jadi beban pikiran. Sementara manfaatnya tidak ada sama sekali di saya. Toh, tidak menjamin anda convert or revert ke Islam kan? Sekali lagi, hidayah hanya dari Allah, dan saya berserah diri saja kepada Allah subhanahu wa ta’ala.


DISCLAIMER:

Sebenernya, jawaban-jawaban saya pada poin diatas itu bukan di tujukan “khusus” untuk para Atheis, tapi kepada orang beragama, dan orang-orang yang mau menerima petunjuk. Jadi, mau para Atheis tersenyum ataupun tertawa ya saya tidak terlalu perduli.

Yang penting kan, semua pertanyaan dari Atheis itu sudah terjawab. Tantangannya selesai. Manfaatnya bagi saya adalah agar keimanan saya tidak goyah, dan bagi saudara saya yang lain (seiman) adalah agar keimanan mereka makin kokoh. Syukur alhamdulillah jika tulisan saya bisa menjadi jalan yang mengantarkan seseorang untuk convert or revert ke Islam. Kalau tidak, ya sudah. Karena manusia kan tidak bisa membolak-balikkan hati manusia yg lainnya.

Sementara jawaban yg saya tujukan kepada Atheis ada pada bagian ini Frequently Ask Questions (FAQ):

Kalau ada yang merasa “lucu” bawa-bawa dalil saat berdebat dengan Atheis karena mereka tidak beriman dengan kitab suci, begitu pula saya merasa lucu kalau Atheis meminta saya/kami orang beriman untuk berdebat dengan akal. Karena akal manusia sering kali salah (meski saya juga tak menampik ada yg benar).

Lain hal ada yang berkata “kami kan memang tidak pernah mengklaim Sains itu selalu benar”! Kalau kalian memang tidak mengklaim bahwa sains itu “maha benar”, trus kenapa kalian begitu mempercayai secara mutlak teori-teori para ilmuwan? Lebih-lebih lagi kalian memaksakan sejumlah teori kepada para Theis, dan sewot kalau ada Theis berkata sejumlah teori ilmuwan itu salah/tidak benar. Contoh, teori evolusi-nya Darwin.

Dan lain hal yang membuat saya merasa lucu berargumen dengan Atheis adalah: mereka membatasi ruang lingkup debat para Theis, tapi kami tidak diizinkan membatasi ruang lingkup debat mereka. Itu namanya debat “sepihak (dan lucu) “.

Kalau mau adil, dua pihak masing-masing juga harus membatasi ruang lingkup debatnya. Atheis melarang kami menggunakan kitab suci, dan theis melarang Atheis menggunakan akal atau sains. Kan adil. Karena kami tidak sepenuhnya mempercayai sains yg berasal dari akal manusia (akal manusia sangat sering salah).

Opsi lainnya, Theis membiarkan Atheis berargumen dengan akal dan sains, lalu Atheis juga membiarkan theis berargumen dengan kitab (Alquran dan Hadits).

Kalau masing2 tidak terima, ya sudah tidak usah debat. Selesai. Jadi jalan tengahnya gak usah mancing-mancing…

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Leave a Reply

Your email address will not be published.*
*
*