Assunnah.ID

Media beramal jariyah dengan dakwah sunnah

QS Al-Qiyamah Tegas Membantah Pemahaman Quranis (Ingkar Sunnah)

Posted on

Ini akan menjadi jawaban yang jelas, telak, dan dengan dalil yang kuat yang membantah pemahaman keliru dari Ingkar sunnah yang menolak hadits sebagai landasan dalam Islam. Ilmu ini tentu saja datang dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dan saya hanya menyampaikan sesuai apa yang datang dari-Nya.

Seperti yang kita kitahui bahwa Allah mewahyukan Alquran kepada umat manusia, sebagai kitab, sebagai pedoman.

Namun disamping Alquran, ada pula Hadits-Hadits yang bersumber dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, yang kemudian diwariskan / diriwayatkan oleh para sahabat. Hadits-Hadits ini adalah penjelasan dari apa yang telah Allah firmankan dalam Alquran, meski kaum Quranis atau Ingkar sunnah menolak Hadits-Hadits ini dengan alasan imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dkk lahir SEKIAN RATUS TAHUN setelah Rasulullah ﷺ.

Padahal disamping Alquran, Allah juga mewahyukan penjelasan Alquran kepada nabinya, yang disampaikan Agar umat Muhammad ﷺ memahami Alquran sesuai dengan apa yang di pahami oleh nabinya dari Allah, sesuai dengan penjelasan yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kedalam hati Muhammad ﷺ. Bukannya sesuai akal ingkar sunnah yang lahir SEKIAN RIBU TAHUN setelah kenabian Muhammad yang menafsirkan Alquran sesuai “akal-akalan” mereka.

Karena apa? Karena akal manusia antara satu dengan lainnya dalam memahami satu hal pasti berbeda-beda. Bagi mereka yang sudah banyak berinteraksi dengan kaum ini, sudah bukan rahasia lagi bahwa antara satu individu ingkar sunnah dengan individu ingkar sunnah lainnya, dalam memahami satu ayat Alquran akan memiliki banyak penafsiran yang berbeda-beda, nyeleneh, bahkan bisa bertolak belakang dan membuat kontradiksi antara satu ayat dengan ayat lainnya, dan dengan sifat-sifat Allah. Itu sebagai akibat dari menyandarkan tafsir Alquran kepada otak manusia (yang berbeda-beda penalaran dan kemampuan berfikirnya) yang jaraknya 1400 tahun kemudian, bukan kepada penjelasan Muhammad ﷺ yang mendapat penjelasan langsung dari Tuhannya.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Alquran QS Al-Qiyamah:

لَا تُحَرِّكْ بِهِۦ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِۦٓ

16. Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُۥ وَقُرْءَانَهُۥ

17. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.

فَإِذَا قَرَأْنَٰهُ فَٱتَّبِعْ قُرْءَانَهُۥ

18. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu

ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُۥ

19. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.

Ayat diatas (QS Al-Qiyamah:19) adalah dalil yang sangat jelas dan tegas, bahwa disamping mewahyukan Al-quran, Allah juga mendampingi kitabnya dengan penjelasan yang penjelasan ini diberikan kepada Rasulullah Muhammad ﷺ.

Kemudian setelah Allah memberikan dan menanamkan penjelasan itu kedalam hati beliau, maka penjelasan inilah yang kemudian beliau jelaskan kembali kepada para sahabat, kepada manusia. Sebagaimana Allah berfirman:

بِٱلْبَيِّنَٰتِ وَٱلزُّبُرِ ۗ وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Kami turunkan adz-Dzikra (Alquran) kepadamu (Muhammad), agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka (yakni Al-Qur’an) dan agar mereka memikirkan.” (QS An-Nahl: 44)

Karena Allah sudah menjelaskannya atau memberikan penjelasan tentang (isi) Alquran kepada nabinya, seharusnya penjelasan/penafsiran Allah & Nabi Muhammad ﷺ inilah yang harus kita pegang. Bukan penafsiran orang-orang Ingkar sunnah. Ahlus sunnah dalam hal ini, sudah berupaya berpegang pada penafsiran Allah melalui Hadits-Hadits yang merupakan riwayat tentang Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam menjelaskan Alquran kepada sahabatnya. Inilah yang tidak dimiliki oleh Ingkar sunnah karena mereka sudah menafikan Hadits.

Jadi, jangan heran kalau anda melihat terlalu banyak penjelasan yang beraneka ragam antara satu ingkar sunnah dengan ingkar sunnah lainnya, dalam menafsirkan satu ayat. Karena mereka dalam menafsirkan Alquran menyandarkan penjelasannya kepada akal mereka masing-masing, ada pula yang menyandarkan kepada syariat/kitab agama lain, kepada metodologi agama lain, dan bahkan ada pula yang menyandarkan pada tradisi budaya di suatu tempat. Misal, satu orang berkata besaran zakat harus ngikut “persepuluhan” menurut kitab umat nasrani, sementara lainnya menafsirkan besaran zakat itu sukarela.

Of course Ahlus sunnah juga memiliki beberapa penafsiran yang berbeda pada satu ayat, tapi biasanya penafsiran yang berbeda lantaran satu ayat tersebut memiliki 2 atau lebih hadits penjelas. Dengan kata lain, tidak masalah selama memiliki landasan dalil, Ahlus sunnah mengikuti mana dalil penjelas yang menurutnya lebih kuat.

Tambahan:
Dari sini kita juga bisa bandingkan bahwa pemahaman Ahlus sunnah lebih masuk akal, karena dalam berdakwah dan menjalani hidup, sepanjang hidup beliau, Rasulullah ﷺ disamping menyampaikan Alquran, beliau juga menjelaskannya kepada para sahabat, dan beliau menjadi role model (contoh hidup) dari Alquran dan penjelasan yang beliau sampaikan.

Berbeda dengan penalaran ingkar sunnah, yang meyakini bahwa sepanjang hidup Rasulullah ﷺ yang disampaikan hanya Alquran, menafikan fakta bahwa disamping sebagai nabi, Muhammad ﷺ juga manusia biasa yang pasti berinteraksi dengan orang lain, berkomunikasi, bercanda dengan istrinya, sahabatnya, dsb.

Atau ingkar sunnah mungkin mereka berfikir bahwa Rasulullah saat bercanda dengan istrinya yang keluar dari mulut beliau hanya ayat Al-quran, perang pun yang keluar ayat Al-quran, bahkan saat melakukan perjanjian Hudaibiyah, juga saat menulis surat kepada raja-raja dunia untuk beriman kepada Allah surat tsb isinya ayat Alquran. Tentu saja, pemahaman ini keliru karena Allah sendiri berfirman bahwa Allah melarang menjadikan ayat-ayat Allah sebagai candaan dan senda gurau (QS At-Taubah 65-66). Juga, faktanya surat yang beliau kirimkan kepada raja-raja dunia masih ada sampai sekarang[1] dan isinya bukanlah ayat.

وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ لَيَقُوْلُنَّ اِنَّمَا كُنَّا نَخُوْضُ وَنَلْعَبُۗ قُلْ اَبِاللّٰهِ وَاٰيٰتِهٖ وَرَسُوْلِهٖ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِءُوْنَ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Mengapa kepada Allah, dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (QS At-Taubah: 65)

لَا تَعْتَذِرُوْا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ اِيْمَانِكُمْ ۗ اِنْ نَّعْفُ عَنْ طَاۤىِٕفَةٍ مِّنْكُمْ نُعَذِّبْ طَاۤىِٕفَةً ۢ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا مُجْرِمِيْنَ

Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian dari kamu (karena telah tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (selalu) berbuat dosa. (QS At-Taubah: 65)

Demikian, semoga Allah memberi hidayah kepada semuanya.

Footnote:
[1] https://id.m.wikipedia.org/wiki/Surat-surat_Muhammad_untuk_kepala_negara

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Leave a Reply

Your email address will not be published.*
*
*